5/12/17
Aliran Rasa Kenali Gaya Belajar Anak
5/5/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 10
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari ini alhamdulillah mood fikriy sudah cenderung lebih stabil setelah sekitar beberapa hari terkadang tantrum karena hal-hal yang cukup sepele sampai ummi kehabisan akal untuk membujuk. Tapi badai pasti berlalu kan ya, this too shall pass katanya mah hihi.
Jadi, hari ini kami habiskan dengan membaca beberapa buku hasil hunting di IBF 2017 kemarin, memotong kangkung atau lebih tepatnya ikut membantu ummi menyiapkan sayur kangkung untuk ditumis malam nanti buat makan malam ayah, dan setelah itu kami mencoba memperbaiki dudukan sepeda fikriy yang sudah saatnya ditinggikan sedikit.
Ummi ingat ayah punya kunci inggris di gudang, dan langsung ummi keluarkan untuk melonggarkan baut baut di sepeda fikriy. Namun sepertinya kunci inggris ini tidak cocok, karena sampai saat ini belum berhasil ummi longgarkan hihi.
Nah, hari ini Fikriy melihat langsung saat ummi menggunakan kunci inggris tersebut, dari cara melonggarkan, mengencangkan, kemudian memasukkan ke baut, dan memutarnya. Sebenarnya ummi juga sudah menitip tool box untuk fikriy, tapi belum ready di rumah, jadi tidak bisa dicoba deh.
Fikriy terlihat antusias dan menawarkan dirinya untuk memperbaiki dudukan sepeda, kemudian berusaha sendiri untuk memutar baut hingga beberapa lama sampai akhirnya menyadari dan mengakui bahwa dia tidak bisa menyelesaikan. Ummi cukup takjub karena dengan modal baru melihat pertama kali kunci inggris, fikriy berusaha keras untuk bisa membantu menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Walaupun sulit, kami terus berusaha melonggarkan baut, sampai akhirnya mentok dan memutuskan untuk menunggu ayah pulang dan memperbaiki nya. Dan sesampainya ayah di rumah, ternyata tetap tidak bisa karena pasangan kunci inggrisnya tidak ada di rumah. Jadi paling besok kami akan membawa sepeda ke tukang langganan
5/4/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 9
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari ini kami menikmati waktu bersantai di rumah setelah kemarin anak-anak cukup lelah bertamasya di pameran buku Islam. Fikriy terutama, langsung minta tidur karena jauh berjalan menyusuri lorong stand-stand peserta pameran. Sementara dedenya, masih ada tenaga ekstra hihi.
Nah, akhirnya aktivitas apa lagi yang paling menyenangkan selain membuka bungkus plastik buku, mencium bau buku yang baru, dan melahap isi bukunya. Sebenarnya ada 3 buku yang kami baca tapi di proyek kali ini, ummi pilih 1 judul buku saja ya dengan tema tentang mengenal cara bersuci. Bersuci ini salah satu hal yang penting dan sering terlupakan, padahal salah satu fitnah kubur yang bisa memasukkan seorang muslim ke dalam neraka adalah air kencing. Kelihatannya simple ya, tapi begitulah indahnya islam, adab buang air saja yang terlihat sepele, diatur dengan begitu detail.
Buku tentang bersuci ini tipis dan penuh dengan ilustrasi berwarna, dengan teks yang secukupnya. Untuk anak berusia 4 tahun, isinya bisa menarik rasa ingin tahu, mudah-mudahan intinya bisa mengena di hati Fikriy.
Mengajarkan bersuci juga masih pe er untuk ummi, karena kadang fikriy masih belum bisa konsisten misalnya menjaga agar pakaian tidak kena percikan najis, jongkok atau berdiri ketika buang hajat dsb.
Tapi yang ummi perhatikan, pesan-pesan dari buku ini, diikuti fikriy dengan penuh semangat, ditimpali dengan pertanyaan walaupun akhirnya ummi tutup karena sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Hihi.
5/3/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 8
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah hari ini kami sekeluarga diberikan izin oleh Allah Ta'ala mengunjungi pameran buku Islamic Book Fair di Senayan. Sebelum berangkat, ummi dan ayah sudah menyiapkan daftar buku yang dicari berdasarkan penerbit untuk memudahkan pencarian di lokasi. Selain untuk menghindari kalau beli, juga untuk meminimalisasi kemungkinan kalap belanja hihi, juga untuk mempermudah pencarian.
Nah, sesampainya di rumah, kami membaca beberapa buku aktivitas yang dibeli, salah satunya tentang buku membaca mandiri (untuk usia 3 - 5 tahun), harga bukunya 10.000 saja namun isinya cukup menarik karena sederhana dan ringkas. Ketika mengerjakan buku aktivitas anak yang berjudul Piknik Ke Peternakan, kami mulai dengan aktivitas pertama berupa mencari jalan dengan mengikuti alur yang sudah disediakan. Kemudian menyebutkan nama-nama hewan ternak, menebak kandang hewan apa ini, memasangkan bagian ekor hewan, mencari bayangan yang sesuai, menghitung jumlah hewan ternak dan mencari hewan yang jumlahnya lebih banyak/sedikit.
Sedangkan aktivitas mewarnai belum kami lakukan, karena waktunya sudah cukup larut dan fikriy terlihat sedikit lelah setelah berjalan cukup jauh di pameran.
Alhamdulillah dari semua aktivitas anak, fikriy bisa mengikuti dengan cukup baik, mengeja (tapi belum bisa membaca) dengan cukup lancar, menghitung jumlah, membandingkan jumlah yang lebih banyak atau sedikit. Yang ummi perhatikan, pada saat menghitung jumlah, fikriy kadang ingin cepat selesai, jadi sedikit kurang teliti. Selebihnya alhamdulillah cukup baik.
5/2/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 7
Bismillahirrahmanirrahim,
Pagi ini kami belajar tentang Kebiasaan Mencuci Tangan Pakai Sabun dari buku ilustrasi yang dibuat oleh salah satu produk sabun terkemuka di Indonesia. Dulu sekali, ummi dan atasan di kantor membuat panduan mencuci tangan ini untuk anak-anak yang duduk di sekolah dasar. Namun alhamdulillah mungkin karena selain banyak ilustrasi, halaman yang berwarna-warni, dan pesan yang disampaikan mudah dicerna, fikriy dan Dede bisa menikmati bersama ketika kami membaca bersama.
Dari aspek fokus, fikriy terlihat cukup serius ketika menyimak pesan yang sedang dibacakan, mungkin karena sudah pernah dibacakan, jadi tadi fikriy seperti mengulangi isi yang ada di kepalanya sambil sesekali menunjukkan kepada adiknya.
4/27/17
Fitrah Belajar
🥝🥑 Cemilan Rabu 🥑🥝
Materi #4 Memahami Gaya Belajar Anak
📑Fitrah Belajar📜
-------------------------------
"Anakku malas belajar"
Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat?, atau dari tetangga?Saudara? atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini.
Benarkah anak-anak kita malas belajar?. Atau jangan-jangan kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi "duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin".
Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana tidak?.
Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity)setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda) dan lain sebagainya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.
Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar?. Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.
Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?
1. pendidik (orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh.
2. pendidik yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih
3. Buku teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah
4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan belajar karena "rasa ingin tahunya".
*Kita tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak; lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason)*
Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhanpun, Allah ciptakan mampu beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.
*Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya.* Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.
Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.
sumber bacaan:
Fitrah based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya Mutiara Timur.
💾💾💾💾💾💾💾💾💾💾
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 6
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari ini buku-buku Princess islami yang ummi titip sama sahabat di BBW alhamdulillah sudah sampai, padahal kemarin dibeli dan dikirimnya ternyata sehari lebih cepat sampai di rumah. Yeaaay, alhamdulillah makasih banyak yaa mama Fathan hihi.
Nah, ketika bukunya sampai, Mahira masih bobo, jadi yang menikmati pertama adalah Fikriy. Padahal isi bukunya untuk anak-anak perempuan hihi. Buku yang pertama dari 5 buku yang kami baca adalah tentang kisah Princess yang lupa berdoa sebelum tidur dan akhirnya bangun karena mimpi buruk.
Isi buku ini beberapa halaman dengan ilustrasi menarik yang berwarna-warni serta board book, jadi kokoh waktu dibacakan ke anak. Respon pertama waktu dibacakan adalah fikriy melihat detail gambar yang ada di tiap halaman, kemudian setelah semua selesai dibacakan, minta dibacain keempat buku lainnya, Hehe.
Kemudian pada saat akan tidur, kadang walaupun sudah bisa, tapi ada saja masanya fikriy agak males-malesan membaca doa sebelum tidur. Minta ummi saja yang membaca doa untuknya.
Nah tadi alhamdulilah, mau sendiri membaca doa dan benar :)
4/24/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 5
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari ini ada beberapa aktivitas yang kami lakukan di pagi hari sebelum tidur siang. Pertama membaca buku Aku Bisa Mandi Sendiri dan kedua Menari atau lebih tepatnya goyang dengan lagu yang diputar dari Hafidz Doll.
Nah, inshaallah dibahas satu satu ya, bagaimana reaksi anak-anak ketika kami melakukan aktivitas ini.
1. Membaca Buku Aku Bisa Mandi Sendiri
Alhamdulillah kami memiliki mini library yang diletakkan di ruang tamu dan mudah untuk diakses anak-anak, jadi buku mana saja yang mau diambil, dibacakan atau dimainkan, inshaallah akan mudah dilakukan sendiri. Nah, tadi fikriy mengambil buku Aku Bisa Mandi Sendiri, satu dari 6 rangkaian buku seri belajar sendiri, yang cukup sering diminta fikriy untuk dibacakan. Fikriy belum bisa mandi sendiri, terutama di bagian menyabuni, membersihkan alat kelamin jika sudah BAB, dan menyampoin kepala. Sedangkan sikat gigi, alhamdulillah sudah bisa sendiri walau kadang masih suka minta disikatin oleh ummi.
Tadi kami membaca tiap halaman, dede juga ikut mendengarkan sebelum akhirnya mulai merecoki karena menarik-narik buku yang dipegang Fikriy, dan walhasil Mas ngambek deh hihi.
Pesan-pesan dalam tiap halaman, menurut saya cukup singkat, langsung ke tujuan, dan dibantu dengan ilustrasi yang mendukung, sehingga beberapa kali fikriy menanyakan tentang isi di halaman buku tersebut. Oiya, kami membaca buku sebelum fikriy mandi, dan setelahnya baru deh mandi.
2. Bergoyang dengan Lagu
Salah satu yang menonjol di fikriy adalah kecenderungan nya terhadap audio atau yang berhubungan dengan nada. Mudah-mudahan ini memudahkannya dan semoga Allah mengabulkan doa ummi, agar fikriy dimudahkan menghafalkan ayah-ayat suci Al Qur'an dan hadits.
Hari ini, ditemani Hafidz Doll yang ummi isi dengan beberapa lagu anak-anak, setelah selesai membaca buku bersama, kemudian ummi putarkan beberapa lagu. Reaksi pertama, senyumnya langsung sumringah, mood nya langsung swing ke titik terluar pendulum, dede aja sampai diajak muter hihi. Sekitar 10 menit kurang, fikriy melompat, berputar, bergoyang diiringi lagu tersebut. Senangnya luar biasa, padahal lagunya itu lagi itu lagi hehe.
4/23/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 4
4/22/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 3
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari libur long weekend kali ini, kami masih santai di rumah. Nah kebetulan ada 1 activity book yang dulu dibeli waktu fikriy masih 3 tahun awal, dan akhirnya lebih banyak dicoret-coret hihi. Kali ini, fikriy mengambil dan memilih sendiri buku serta activity sheets nya.
Yang dipilih dan dikerjakan sekitar 30 menit hari ini adalah :
1. Counting animals : tugasnya adalah menghitung 1 sampai 10, dan mencari sticker yang sesuai. Berhubung sticker nya sudah pada ditempelin sebelum saatnya dulu hihi, jadi tadi sambil counting out loud, fikriy juga menyambung tanda titik titik (tracing) di setiap angka. Sekaligus ummi perbaiki sedikit cara memegang pensil agar lebih luwes lagi.
2. Menyusuri garis benang kusut untuk mencari pasangan yang tepat sesuai instruksi. Menurut ummi, fikriy cenderung suka dengan aktivitas yang menuntut konsentrasi. Pada bagian menyusuri ini, fikriy menggunakan tangan untuk mencari jejak benang kusut ke target akhir, dan alhamdulillah benar. Malah Ummi yang ragu (hihi, maafkan ya, Mas)
3. Membantu anak domba mencari jalan menuju induknya dalam bentuk labirin. Aktivitas ini hampir mirip dengan aktivitas kedua, dan fikriy bisa mengikuti instruksi untuk menyusuri labirin. Dalam beberapa kali percobaan, ketika mentok di dinding, dengan cukup sabar, fikriy mencari kembali jalan alternatif hingga bisa mencapai finish.
4/21/17
Kenali Gaya Belajar Anak Tantangan 10 Hari Day 2
Bismillahirrahmanirrahim,
Hari ini aktivitas yang kami lakukan bersama adalah memainkan Sensory play, yang sudah disiapkan sehari sebelumnya oleh Fikriy. Medianya adalah air yang sudah diberi pewarna makanan, kemudian diberikan beberapa animal figurines, yang ceritanya sedang terjebak di laut es beku. Membuatnya sangatlah mudah, dan inshaallah bisa serta aman dilakukan oleh balita. Warnanya saya bebaskan pada Fikriy, dan dia memilih warna es bekunya merah jambu (dalam hati saya ketawanya hihihi).
Setelah ayah berangkat ke kantor, fikriy mengambil Sensory play nya, yang akan merangsang beberapa indera VAKOG (Visual, Auditory, Kinestetik, olfaktory (Indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan). Waktu memainkan ini, fikriy fokus ketika diberikan instruksi bagaimana cara menyelamatkan hewan yang terkurung di es beku, dan menanyakan dulu bagaimana caranya ummi untuk memecahkan es ini. Kemudian saya berikan opsi menggunakan sutil kayu yang relatif aman. Dan selanjutnya mungkin sudah ada insting, es tersebut dipukul hingga pecah.
Di sisi lain, mainlah Mahira, yang sengaja saya pisahkan agar aman damai sentausa rumah kami hihi. Dia saya berikan beberapa wadah yang diisi dengan pewarna makanan yang berwarna-warni, dan sendok sayur untuk menuang air ke wadah lainnya. Karena tempat bermain sudah dikondisikan aman, tidak khawatir terpeleset, Mahira lebih fokus dan anteng memindahkan isi air berwarna, mencampur beberapa air dalam wadah tersebut, kemudian menuang dengan cara mengangkat wadah tersebut. Mungkin juga dia memperhatikan dari cara ummi memasak, jadi sepintas terlihat lihai hihi. Kemudian, kedua beradik ini bergabung menjadi satu, dan asik bermain berdua, menuang-nuang sisa pecahan es tadi.
Yang terlihat jelas adalah keduanya menyukai praktik messy tadi, hihi. Kayanya semua anak kecil akan suka ya kalau . Fikriy juga sempat memperhatikan detail, ketika sebuah pecahan es yang berukuran cukup besar, perlahan mencair, dan meluncur. Ummi jelaskan bahwa ketika es mencair maka dia akan mencari permukaan yang lebih rendah.
4/20/17
RESUME MATERI dan DISKUSI
RESUME MATERI dan DISKUSI
19 April Pukul 20.00
Camilan Rabu, 19 April 2017
🌺 *Sensory Integration Bekal Melatih pilihan Gaya Belajar Anak Secara Optimal* 🌺
Apakah Bunda sudah mulai mengamati ananda, seperti apakah kecenderungan pilihan cara belajar yang mungkin nampak dominan pada ananda? Apakah Bunda melihat kadang ketika mempelajari satu bidang anak cenderung suka dengan cara mendengar, namun untuk bidang pelajaran yang lain anak kita lebih dapat memahami dengan cara membaca misalnya. Lalu apakah visual, auditory dan kinestetik sebuah karakter? Atau sebetulnya itu adalah sebuah modalitas belajar?
Lalu kemudian jika itu merupakan modalitas belajar, bagaimanakah cara bekerjanya?
Dalam kajian NLP ( _Neuro-Linguistic Programming_) gambar, suara, rasa aroma dan sensasi yang ada dalam pikiran kita disebut sebagai representasi internal atau dalam bahasa psikologi lazim disebut sebagai *persepsi*. Representasi internal inilah yang mempengaruhi state (sikap) dan ujung-ujungnya mempengaruhi perilaku anak. Representasi internal terbentuk melalui sistem representasi. Sistem representasi (biasa disingkat dengan rep system) ini adalah ibarat pintu masuk dari persepsi. Berupa apakah rep system tersebut? Betul, rep system tak lain adalah VAKOG itu sendiri yaitu visual, auditorial, kinestetik, olfaktory (Indra penciuman) dan gustatory (indra pengecapan).
Bagaimanakah rep system bekerja? Rep system bekerja dengan cara menerima informasi dan mengaktifkan memori yang kita miliki untuk kemudian digunakan sebagai referensi dalam menghasilkan perilaku tertentu.
Nah, Rep system inilah yang dinamakan dengan learning modality atau modalitas belajar. Maka dengan rep system yang terstimulasi dengan optimal maka akan menentukan kualitas yang dihasilkan dalam pemrosesan informasi oleh rep system ini. Contohnya, jika kita stimulasi anak secara optimal untuk mempelajari satu buah jeruk, seperti apa jeruk itu?? Maka learning modality nya kita optimalkan penuh secara full sensori.
Informasi-->masuk melalui rep system (VAKOG)= learning modalities
Setiap individu memiliki perpaduan _learning modalities_(gaya belajar) yang beragam. Beberapa mendapati mereka lebih dominan di satu gaya dan tidak menggunakan banyak gaya lain dalam belajar. Bagi sebagian orang caranya saat itu sangat efektif untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Namun pada beberapa orang yang lain mungkin juga akan merubah gaya belajarnya ketika mereka mengalami perbedaan kondisi yang dihadapi atau jenis pelajaran yang diterima. Tidak ada paduan yang tetap, atau gaya belajar yang fix pada setiap orang.
Bisa saja kita mengembangakan gaya belajar yang semula jarang kita pakai, namun pada konteks lain menjadi sangat efektif dipakai.
Kemudian oleh karena sensory VAKOG merupakan pintu masuk informasi, maka VAKOG itu sebaiknya di stimulasi, agar terintegrasi, nah yuk kita pelajari apa sih sebetulnya sensory integrasi ini?
Sebab bisa jadi bekal seorang anak bisa mendapatkan learning style nya ada proses yang bisa kita awali dari proses stimulasi atas sensory integrasi ini. Menariknya dalam sensory integrasi, ditambahkan dua macam sensori lagi, apa sajakah? Mari kita simak tulisan saudari Riezqa Ratna berikut:
Istilah sensory integration (SI) pertama kali dicetuskan oleh DR. Anna Jean Ayres (1920-1989). Beliau seorang psikolog pendidikan, neuropsychologist dan terapis okupasi. Ayres mengemukakan adanya hubungan antara perilaku seseorang dengan perkembangan fungsi otak.
Teori Sensory Integration menjelaskan bagaimana cara otak menerima dan memproses stimulus atau input sensorik dari lingkungan di sekitar kita dan dari dalam tubuh kita sendiri. Apabila seorang anak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka ia akan berperilaku secara adaptif. Akan tetapi bila seorang anak tidak dapat memproses input sensorik dengan baik, maka perilaku yang muncul seperti mereka mengalami kesulitan untuk mengolah input sensorik yang masuk, misalnya bila dipanggil namanya mereka tidak merespon, diajak bicara, tidak menanggapi (Ayres, 1979). Anak akan berespon secara berlebihan pada suatu input yang sebenarnya tidak membahayakan atau anak mengabaikan input yang masuk (perilaku maladaptive). Menurut Bundy, Lane dan Murray (2002), Sensory Integration adalah teori hubungan antara otak dan perilaku. Ayres (1972) mendefinisikan Sensory Integration sebagai:
“The neurological process that organized sensation from one’s own body and from environmental and make it possible to use the body effectively within the environment”. (Proses neurologis individu dalam mengorganisasikan sensasi dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar dan dapat digunakan secara efektif dalam lingkungannya).
Setiap detik, menit dan jam tak terhitung berapa banyak informasi sensori yang masuk kedalam tubuh manusia seperti aliran air sungai yang tak hentinya. Tidak hanya dari telinga dan mata, tapi dari seluruh bagian tubuh. Sang anak harus mampu untuk mengatur seluruh sensori tersebut jika seseorang ingin bergerak, belajar dan berperilaku. Sensori tersebut memberikan informasi tentang kondisi fisik tubuh dan lingkungan disekitar.
Adapun ketidakberfungsian integrasi sensoris atau sensory integration dysfunction itu sendiri adalah ketidakmampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui indra. Ketidakberfungsian terjadi di dalam sistem saraf pusat yang terdapat dalam kepala yang disebut dengan otak. Ketika masalah teknis terjadi, otak tidak mampu untuk melakukan analisis, pengorganisasian, dan tidak mampu melakukan hubungan atau integrasi pesan-pesan sensoris. Akibat ketidakberfungsian integrasi sensoris, seorang anak tidak dapat melakukan respon atau menanggapi informasi sensoris untuk dijadikan sesuatu yang bermakna secara konsisten. Anak tersebut memperoleh kesulitan dalam menggunakan informasi sensoris untuk dibuat rencana atau diorganisasi dengan apa yang semestinya ia lakukan (konsentrasi belajar terganggu). Jadi, ia tidak belajar secara mudah.
Melalui panca indra yang tersedia, manusia memperoleh informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan yang berada di sekitarnya (Ayres, 1979). Informasi sensorik (Sensory information) tersebut berasal dari:
1. Mata (Visual)
Mata (Visual) disebut juga indera penglihatan. Terletak pada retina. Fungsinya menyampaikan semua informasi visual tentang benda dan manusia.
2. Telinga (Auditory)
Telinga (Auditory) disebut juga indera pendengaran, terletak di telinga bagian dalam. Fungsinya meneruskan informasi suara. Ayres (1972) menyebutkan adanya hubungan antara sistem auditory ini dengan perkembangan bahasa. Apabila sistem auditory mengalami gangguan, maka perkembangan bahasanya juga akan terganggu.
3. Hidung (Olfactory)
Hidung (Olfactory) disebut juga indera pembau, terletak pada selaput lendir hidung, fungsinya meneruskan informasi mengenai bau-bauan (bunga, parfum, bau makanan).
4. Lidah (Gustatory)
Lidah (Gustatory) disebut juga indera perasa, terletak pada lidah, fungsinya meneruskan informasi tentang rasa (manis, asam, pahit,dan lain-lain) dan tektur di mulut (kasar, halus, dan lain-lain).
5. Kulit (Tactile)
Kulit (Tactile) adalah indera peraba. Terletak pada kulit dan sebagian dari selaput lendir. Bayi yang baru lahir, menerima informasi untuk pertama kalinya melalui indera peraba ini. Trott, Laurel dan Windeck (1993), menjelaskan bahwa:
“Processing tactile information effectively allow us to feel save, which in turn allows us to bond with those who love us and to develop socially and emotionally.”
Sistem taktil ini mempunyai dua sifat, yaitu diskriminatif dan protektif. Diskriminatif adalah kemampuan membedakan rasa (kasar, halus, dingin, panas), sedangkan sifat protektif adalah kemampuan untuk menghindar atau menjaga dari input sensorik yang berbahaya. Dari sifat kedua ini, akan menimbulkan respon flight, fright dan fight (Trott, Laurel dan Windeck, 1993).
6. Otot dan persendian (Proprioceptive)
Ayres (1979) menyebutkan bahwa proprioseptif merupakan sensasi yang berasal dari dalam tubuh manusia, yaitu terdapat pada sendi, otot, ligamen dan reseptor yang berhubungan dengan tulang. Ayres (1979) menyebutkan bahwa sistem vestibular dan proprioseptif merupakan dua sistem yang spesial dan Ayres menyebutnya sebagai “The Hidden Sense”. Input proprioseptif ini menyampaikan informasi ke otak tentang kapan dan bagaimana otot berkontraksi (contracting) atau meregang (stretching), serta bagaimana sendi dibengkokkan (bending), diperpanjang (extending), ditaril (beingpull) atau ditekan (compressed). Melalui informasi ini, individu dapat mengetahui dan mengenal bagian tubuhnya dan bagaimana bagian tubuh tersebut bergerak (dalam Ayres, 1972).
7. Keseimbangan / balance (Vestibular)
Ayres (1979) menyebut sistem vestibular ini sebagai “business center”, karena semua sistem sensorik berkaitan dengan sistem ini. Sistem vestibular ini terletak pada labyrinth di dalam telinga bagian tengah. Fungsinya meneruskan informasi mengenai gerakan dan gravitasi. Sistem ini sangat mempengaruhi gerakan kepala dalam hubungannya dengan gravitasi dan gerakan cepat atau lambat (Accelerated or decelerated movement), gerakan bola mata (okulomotor), tingkat kewaspadaan ( level of arousal ) dan emosi.
Proses sensori integrasi terjadi secara bertahap, kegagalan di satu tahap akan berpengaruh pada tahap berikutnya. Anak yang optimal dalam proses sensori integrasi akan memiliki kemampuan komunikasi, kemampuan mengatur, harga diri, kepercayaan diri, kemampuan akademik, kemampuan berfikir abstrak dan penalaran, serta spesialisasi setiap sisi tubuh dan otak. Hasil akhir proses sensrori integrasi tersebut baru tercapai saat anak mulai usia sekolah dasar (SD).
Level-Level Sensory Integration
Ada empat level dalam proses sensori integrasi. Level pertama berlangsung di usia 0-1 tahun, level kedua 1-2 tahun, level ketiga 3-7 tahun, dan level keempat tercapai saat anak masuk SD.
1. Level Pertama (0 – 1 tahun)
Anak picky eater (pemilih dalam makan)? sulit menangkap bola? Takut bermain ayunan atau perosotan Proses Sensori integrasi level pertama terjadi saat anak berusia 0-1 tahun. Tiga hal penting yang terbentuk adalah taktil, integrasi vestibular dan proprioreseptif, dan gravitational security.
Tactile memberikan rasa aman dan nyaman terhadap apa yang anak menyentuh dan ketika disentuh, ini bahkan berpengaruh pada kenyamanannya bersosialisasi kelak. Awal dari tactile adalah kelekatan ibu dan anak. Menyusui dan menggendong anak adalah stimulasi yang baik bagi si kecil. Dengan menyusui, bayi akan menerima informasi suhu tubuh dan tekstur kulit ibu serta tekanan yang ia rasakan. Ini menjelaskan kenapa bayi hanya benar-benar bisa tenang saat ia berada di dekat ibunya, karena suhu, tekstur, dan tekanan ibulah yang familiar dengannya. Anak yang picky eater biasanya punya masalah pada saat menghisap, dan ini akan terdeteksi ketika anak menyusu. Bila hisapannya lemah, otot kunyahnya juga tidak bekerja baik sehingga kesulitan memakan makanan yang dengan tekstur tertentu.
Gravitational security juga terbentuk di level pertama. Pernah dengar larangan menggendong dan mengayun-ayun bayi? Sebaiknya anda abaikan karena apabila bayi digendong dan diayun maka itu berarti ia mendapat informasi yang lebih banyak tentang arah dan merasakan gravitasi, dan karena ia merasa tetap nyaman dalam gendongan, iapun merasa aman dengan gaya gravitasi. Tak heran kalau nanti di usia 3-4 tahun ia akan dengan yakin melompat, berayun, dan meluncur. Stimulasi yang ia terima jauh lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang lebih banyak didiamkan saja di ranjang atau stroller. Salah satu integrasi vestibular dan proprioreseptif yang penting di level ini adalah kontrol gerakan mata. Mainan yang digantung di atas ranjang bayi bisa berpengaruh pada perkembangan vestibular si kecil. Hindari mainan yang berputar, pilih mainan yang bergerak kanan-kiri atau depan belakang karena gerakan ini yang ia butuhkan untuk menstimulasi system vestibularnya, gerak otot matapun akan terlatih dengan baik dan inilah pondasi untuknya saat belajar menbaca kelak. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang bergerak sederhana, kanan-kiri, depan-belakang, atas bawah. Gerakan berputar, apalagi layar televisi yang bergerak sangat cepat terlalu kompleks dan malah membuat gerak otot matanya tidak berkembang dengan baik.
2. Level Kedua (1-2 Tahun)
Anak pendiam? Hiperaktif? Enggan mencoba hal baru? Tidak tertarik dengan mainan atau permainan yang baru? Anak usia 1-2 tahun mulai tertarik pada benda-benda di luar dirinya. Dia mulai suka mencopot , memasang, membuka, menutup, mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya saja saat ia melihat botol berisi air, dia mungkin akan mencoba membukanya dengan memukul-mukul, membanting, menggigit, dan seterusnya. Fungsi taktil, vestibular, dan proprioreseptif sebagai dasar kestabilan emosi berkembang pada level ini. Sangat penting untuk membiarkannya mencoba banyak hal sehingga pengalamannya semakin banyak. Bila anak banyak dibatasi, dua perilaku akan mungkin terbentuk saat ia tumbuh : Pendiam atau hiperaktif.
Mungkin dia akan tampak seperti pendiam, menarik diri, saat berhadapan dengan lingkungan yang baru. Perilaku ini muncul karena sedikitnya pengalaman membuat ia tak yakin dengan apa yang harus dilakukan. Iapun menarik diri, seolah-olah ia adalah anak yang pendiam. Sebaliknya, bisa juga ia menjadi hiperaktif karena haus akan pengalaman. Ia tak bisa menahan dirinya untuk beralih dari satu permainan ke permainan yang lain. Tubuh kita memang secara alamiah mencari kebutuhannya yang tak terpenuhi. Persepsi tubuh anak juga terbentuk di tahap ini. Berdasarkan pengalaman-pengalamannya, anak akan membentuk peta bagian tubuh di otak. “Data mentah”-nya adalah pengalaman sensasi dari kulit, otot, sendi, gravitasi, dan reseptor gerak. Pemetaan yang baik akan menentukan keberhasilan anak dalam melakukan motor planning, yang berguna dalam kemampuan beradaptasi dengan hal yang tidak dikenal dan belajar melakukannya secara otomatis. Apakah anak tampak tak tertarik saat dibelikan mainan baru? Enggan mencoba atau menunggu dulu dicontohkan oleh orangtuanya? Apakah anak selalu harus diberi petunjuk ketika memasuki lingkungan yang baru? Tidak berani berinisiatif?
3. Level Ketiga (2-5 tahun)
Level ini dijalani saat anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya. Proses yang terjadi adalah masa perkembangan bicara dan bahasa, pembentukan persepsi visual, penguasaan tingkat persepsi yang lebih tinggi, merasakan benda melalui menyentuh, memegang, dan menggerakkannya, serta masa berkembangnya koordinasi mata-tangan. Hal penting yang harus diperhatikan dalam perkembangan bicara dan bahasa adalah, kemampuan bicara dan berbahasa tidak terjadi begitu saja. Sebelum mengerti kata, anak harus mampu memperhatikan orang yang berbicara. Sistem vestibular yang berkembang dengan baik di level sebelumnya membantu anak untuk memproses apa yang ia dengar dan lihat dengan tepat. Banyaknya pengalaman di level sebelumnya akan menjadi bank data dalam membentuk persepsi visual. Anak di usia ini sudah mengenali apa yang ia lihat, apa yang harus dia lakukan dengan objek yang ia lihat, dan apabila melihat benda yang baru, berdasarkan pengalamannya ia akan percaya diri akan apa yang bias dilakukan terhadapnya. Sebagai perkembangan selanjutnya, ia mulai menguasai tingkat persepsi yang lebih tinggi. Tak hanya melihat benda, ia juga melihat hubungannya terhadap benda lain dan latar. Contohnya : ia melihat bola, lapangan, dan gawang…ia pun berlari mengarahkan bola untuk dimasukkan ke gawang. Kali lain ia melihat bola yang sama, tapi tidak ada gawang, yang ada botol botol berjajar, ia tidak akan menendangnya tapi menggelindingkan bole ke arah botol. Untuk belajar, anak usia ini harus merasakan langsung. Misalnya, untuk mengenal berat sebuah benda, ia akan menyentuh, memegang, dan menggerakkannya. Semakin banyak informasi yang masuk melalui indera akan menambah bank data pengalaman di otaknya sehingga membuatnya semakin percaya diri saat bertemu dengan benda-benda yang baru. Apabila anak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget berlayar (HP, tablet, laptop), kesempatannya untuk mendapat banyak informasi melalui indera akan sangat sedikit. Ia hanya menonton orang yang menari, tapi tidak merasakan tubuhnya yang bergerak, perubahan gerak udara, perubahan tekanan pada otot. Tidak ada data yang masuk ke otak, tidak ada yang diintegrasikan sehingga pengalaman mereka sangat sedikit. Keasyikan menonton juga mengurangi pengalaman sosialisasi dan berbahasa.
Level ini juga merupakan masa penting bagi koordinasi mata dan tangan. Di usia yang muda, tangan dan jari akan berusaha meraih atau mencoba melakukan hal yang dilihat oleh mata. Semakin berkembangnya koordinasi mata dan tangan akan membuatnya siap untuk kegiatan yang lebih kompleks seperti merakit dan menulis.
4. Level Keempat (5-7 tahun)
Level ini tercapai saat anak masuk SD. Ia akan lebih spesifik dalam menggunakan satu sisi tubuh, lebih jelas bagian tubuh sebelah mana yang dominan ia gunakan. Akhirnya, setelah proses sensori integrasi yang panjang dari pengalaman yang banyak, harga diri anak, kontrol diri dan kepercayaan diri akan terbentuk. Ia akan bersikap tenang dan siaga saat mengikuti pelajaran di sekolah. Insyaallah tak ada lagi cerita anak yang butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas karena mencari barang-barang seperti pensil dan penghapus, memberi alasan alih-alih menyelesaikan tugas, ataupun masalah-masalah seperti konsentrasi dan kekuatan saat menulis.
Bagaimanapun, anak usia 0-7 tahun kondisinya belumlah stabil, mereka butuh pengalaman sebanyak-banyaknya sehingga mereka puas bereksplorasi. Kelak saat waktunya mereka tenang dan siaga mereka telah siap, tak lagi menghindar atau mencari-cari . Merekapun akan mudah beradaptasi dengan aneka keadaan.
Daftar Pustaka:
NLP The Art of Enjoying Life, Teddi Prasetya Yuliawan, Jakarta: 2014
https://riezkaratna73.wordpress.com/2015/03/09/gangguan-belajar-sensory-integration-dan-dispraxia/, diakses 17 April 2017
1⃣ Bunda Wiwit :
Masyaa Allah materi Sensory Integration ini membuat saya merenungkan betapa Kuasa Ilahi begitu besar dlm tubuh kita dg semua sensory yg diberikan.
Mhn pencerahan Teh Ai & Mba Zy, stelah membaca materi sy berusaha memahami utk Rep.System (VAKOG) dg kelima panca indra yg kita miliki dg tambahan 2 Sensory Information :
Otot dan persendian (Proprioceptive) & Keseimbangan / balance (Vestibular).
Mhn pencerahan bgmn aplikasi menstimulus utk Proprioceptive & Vestibular dlm mengoptimalkan gaya belajar anak anak 5 thn?
1⃣ bunda Wiwit, pertama kali kami sebagai fasil mohon maaf jika ilmunya belum cukup menjawab tentang NLP. Sy tidak terlalu paham, karena untuk mempelajari bidang ini harus memerlukan waktu yg lebih intens dan oerlu kelas khusus dalam membahasnya.
Tapi kalau ditanya tentang pengalaman pribadi saya bagaimana mengoptimalkan gaya belajar anak usia 5 tahun? Insya Allah saya akan menjawab atas dasar pengalaman sy sendiri.. mohon maaf jika kurang pas jawabannya.. ☺
Kalau dari pengalaman sy, banyak kegiatan yg bisa dilakukan untuk mengoptimalkan gaya belajar anak.
Misalnya;
-ajak anak memasak bareng. Bisa memasak bubur kacang hijau, masak sayur bayam, atau menggoreng tempe.
Dengan membersamai anak-anak saat mempersiapkan bahan-bahan yg akan dimasak, mencuci, memotong, menuang air, atau mencicipi kuahnya.
Ini juga melatih motorik kasar anak sekaligus melatih VAKOG tadi..
Insya Allah akan terlihat gaya belajar anak kita.. seperti yg sudah dijelaskan semalam, kalau ciri2 anak kinestetik agak jijikan orangnya, mungkin menuang air tumpah-tumpah dan lain sebagainya. Dengan membersamainya terus setiap hari pasti lama-lama kita akan melihat perkembangan pembelajaran anak kita.
#imho ✅


