3/18/17

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Anak Level 2 Bunda Sayang IIP

As Syaikh Muhammad al-Khidr Husain rahimahullah berkata :
"Sesungguhnya jiwa dapat tumbuh dengan pendidikan yang baik sebagaimana tubuh dapat tumbuh dengan gizi yang baik. Pertumbuhan tubuh memiliki batas yang jelas dan tak akan terlewati. Apabila sudah sampai puncak, akan kembali mundur ke belakang. Sementara, pertumbuhan jiwa berkaitan erat dengan kehidupan seseorang. Tidak akan berhenti sampai berhentinya nafas atau meninggalkan madrasah alam nan luas ini."

Bismillahirrahmanirrahim,
Level dua di kelas Bunda Sayang kali ini, ummi dan teman-teman dibimbing untuk fokus dalam topik Melatih Kemandirian Anak dengan cara memilih satu atau lebih skill yang akan dilatih pada anak. Cukup berat jika targetnya adalah anak menjadi langsung mandiri, namun ternyata yang menjadi indikator keberhasilan adalah mempersiapkan dan membantu anak menjadi lebih mandiri, sehingga dalam proses tersebut ummi bisa terjun bersama Fikriy dan Mahira bersama-sama untuk membentuk perlahan karakter mandiri tersebut.

Jiwa yang mandiri itu merupakan proses yang panjang hingga kita manusia bisa mencapainya dan perlu pembiasaan sejak dini. Terlebih kemandirian dalam melakukan sesuatu yang menjadi tanggung jawab. Untuk itulah, sejak awal dimulai, ummi menekankan kembali bahwa tugas dan tanggung jawab ummi kepada Fikriy dan Mahira adalah menunjukkan contoh, berupaya sekuatnya untuk konsisten serta bersabar dalam proses pelatihan ini.

Beberapa kali ummi dibuat terkagum-kagum ketika kemandirian Fikriy merapikan mainan tiba-tiba dilakukan murni dari inisiatifnya sendiri, tanpa ada perintah, yang datang ketika lelah ini terkadang memuncak di tengah hari. Di lain waktu, ummi dibuat heran oleh Mahira yang secara menakjubkan bisa makan sendiri dengan kadar kerapihan yang menurut ummi sudah lebih dari yang diharapkan untuk seusianya, di kala harap ummi mulai pupus menanti kapan kiranya gadis ummi bisa makan dengan sedikit rapi tanpa bantuan ummi.
Terkadang saat ummi menurunkan tuntutan dari lubuk hati terdalam, di saat itulah anak-anak ajaib ini membalikkan semua kepayahan di hati, dalam sekejap menjadi penyemangat ummi untuk terus semangat dalam mendampingi mereka menjadi insan yang mandiri.

Oiya, ummi juga tidak akan lupa, sinar di bola mata fikriy serta geretan tangan mengajak ummi melihat ke ruang keluarga, setelah semua kepingan lego yang berantakan, buku-buku yang sudah dikembalikan lagi ke rak buku, dan dengan penuh senyuman sedikit malu, dia berkata "Ummi, ayo lihat sini, udah Mas rapikan", ucapnya dengan penuh rasa bangga. Setelah itu, biasanya ummi cuman bisa mengucap syukur di dalam hati, sambil mengelus kepala Fikriy dan berterima kasih atas bantuannya yang begitu berarti hari itu untuk ummi. Dan dia pun makin tersipu.
Di lain kali, Mahira yang masih belum sampai dua tahun, menggotong sendiri mangkuk bekas makan nasinya ke bak cuci piring, tanpa diminta kemudian menghampiri seraya berujar dengan patahan kata "dah" (sudah) sambil mengangguk angguk.

Duhai buah hati penyejuk hati ummi, sesungguhnya perjalanan kita masih teramat panjang, tugas ummi pun terasa berat dalam mengemban amanah yang diberikan Allah, tapi insyaallah bersama-sama kita berusaha untuk terus belajar menjadi manusia yang bertaqwa itu. Semuanya dengan pertolongan Allah...

Depok, 18 Maret 2017