Showing posts with label Bunda Sayang. Show all posts
Showing posts with label Bunda Sayang. Show all posts

6/9/17

Tantangan Level 5

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
*Tantangan Level 5*

Iqra! Bacalah! Perintah Tuhan pertama kali ini mengingatkan kita bahwa membaca merupakan sebuah proses penting dalam mengenal diri.

Membaca merupakan jembatan ilmu, makanan bagi otak, dan juga bisa melatih imajinasi. Serta banyak lagi manfaat dari membaca.

Yuk, jadikan diri kita teladan bagi anak dan keluarga!

🌴 *Jadilah teladan*
✅ Jadwalkan _family reading time_, membacalah bersama anggota keluarga
✅ Buatlah pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku yang telah dibaca
✅ Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga lainnya

👨‍👩‍👧‍👦 *Bagi yang sudah memiliki anak*
📖 Jadilah ibu teladan, membacalah bersama anak (sesuai dengan tahapan usia anak).
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
📝 Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

👫 *Bagi anda yang belum memiliki anak*
📖 Membacalah!
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
💭 Diskusikan dengan suami tentang buku yang sudah dibaca
📝 Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

👰🏻 *Bagi anda yang belum menikah*
📖 Membacalah!
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
📝 Rimbunkan pohon literasi dengan buku-buku yang sudah anda baca.

❕Gunakan hashtag
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

❗Bagi anda yang menggunakan blog, tambahkan label
*Bunda Sayang*
*Ibu Profesional*
*IIP*
*For Things To Change, I Must Change First*

⏳ Periode Tantangan:
8-24 Juni 2017

Kirimkan tugas anda melalui link berikut:

http://bit.ly/BunSayLevel5Dpk

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Cemilan Rabu 🍯 Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca Tahap Perkembangan Membaca Anak Usia Dini

🍯 *Cemilan Rabu* 🍯
*Materi #5:* *Menstimulasi Anak Suka Membaca*

*Tahap Perkembangan Membaca Anak Usia Dini*

📚Membaca adalah salah satu kemampuan bahasa yang penting bagi anak.

📚Membaca juga dapat meningkatkan daya imajinasi anak dan meningkatkan kosakata anak dan masih banyak manfaat membaca lainnya.

📜Berikut tahapan membaca yang dapat dilakukan oleh anak usia dini.

*Tahapan Perkembangan Membaca Anak Usia Dini*

*📖1. Tahap fantasi (Magical Stage)*
Anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berfikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikkan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya.

📖 *2. Tahap Pembentukan Konsep Diri Membaca (Self Concept Stage)*

Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan

📖 *3. Tahap Membaca Gambar (Bridging Reading Stage)*

Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad

📖 *4. Tahap Pengenalan Bacaan (Take Off Reader Stage)*

Anak tertarik pada bacaan, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi atau papan iklan

📖 *5. Tahap Membaca Lancar (Independent Reader Stages)*

Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas, menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca

Sumber:

https://ilmupengetahuanibu.com/2016/11/18/tahapan-perkembangan-membaca-anak-usia-dini/

https://yudhistira31.wordpress.com/2008/12/22/tahap-perkembangan-kemampuan-membaca-pada-anak/

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛

3/26/17

"Jelly untuk Om dan Tante Kesayangan Fikriy" Tantangan Day 2 My Family My Team (Pelaksanaan)

Bismillahirrahmanirrahim,

Pagi ini dimulai dengan sedikit drama ketika ummi sedang bersiap untuk ke mesjid sementara Mas Fikriy yang seharusnya tinggal di rumah bersama dede dan Ayah berkeras untuk ikut. Namun ketika akan mandi pagi, yang mungkin memang terlalu cepat jaraknya dari saat mata terbuka hingga terkena guyuran air pagi yang dingin, Fikriy akhirnya tantrum deh huhuhu. Namun alhamdulillah dengan upaya mempraktikkan komunikasi produktif yang masih patah-patah, akhirnya emosi Fikriy bisa mereda dan siap untuk berangkat bersama ummi.

Hari ini adalah jadual proyek menyiapkan jelly yang akan dibawa ke rumah Om Koko dan Teyu. Namun plan yang sudah disusun rapi semalam pada pelaksanaannya sedikit banyak bergeser. Selepas pengajian, ummi dan Ayah masih perlu berkemas untuk menghadiri acara kopdar di Kemang. Namun kami menyadari akan tiba di sana dengan sangat terlambat melihat kondisi domestik yang belum selesai (baca : tumpukan cucian kotor, menyiapkan makanan anak-anak, menunggu ayah mandi, dan sederet panjang daftar lainnya yang masih menanti untuk diselesaikan).

Alhamdulillah, di antara kejar-kejaran waktu tersebut, ummi teringat proyek jelly yang harus dikerjakan oleh Fikriy. Apakah berjalan dengan lancar sesuai rencana?

Ternyata tidak. Lah, kok bisa? Ya bisa aja, namanya juga manusia berencana hihi. Ternyata setelah ummi renungkan ternyata membuat proyek keluarga itu sebenarnya susah susah gampang ya, apalagi dilakukan bersama dengan anak-anak. Banyak aspek yang harus dipersiapkan dan diperhatikan meski terlihat sepele lho.

1. Fokus pada proses bukan hasil
2. Sederhana
3. Menyenangkan
4. Mudah menantang
5. Memiliki durasi

Dari 5 kriteria di atas, Jelly untuk Om dan Tante Kesayangan Fikriy insyaallah sudah memenuhi semua kriteria yang menurut ummi bisa dilakukan untuk anak 3th 10 bulan. Konsepnya sesuai dengan tema silaturrahim yaitu potluck, sehingga yang akan fikriy bawa adalah dessert atau hidangan pencuci mulut. Namun, pada proses pelaksanaannya, ada beberapa hal yang ternyata bisa memecah konsentrasi dan minat fikriy untuk menyelesaikan jobdesc nya.

1. Mood atau suasana hati, sangat berpengaruh pada saat pelaksanaan proyek kami. Antara mungkin fikriy masih kecapean setelah ikut menemani ummi ke mesjid, lapar karena belum sarapan dengan benar atau lelah menunggu waktu hingga jobdesc nya bisa dikerjakan.
2. Kudapan yang memecah konsentrasi fikriy hari ini bernama coklat. Hihi, mungkin karena lama menunggu akhirnya Fikriy diberi sebuah coklat sedot. Nah, begitu coklat sedot ini diterima, konsentrasi fikriy adalah hanya tertuju pada coklat itu. Lupa dengan tugasnya hihihi.
3. Memaksa anak mengerjakan sebuah jobdesc adalah kesia-siaan belaka. Percayalah, tidak akan ada gunanya untuk memaksa karena anak-anak punya begitu banyak jawaban untuk menghindari melakukan tugasnya ketika konsentrasi nya terpecah.

Akhirnya, hari ini kami mengerjakan proyek perdana dengan lapang dada, dibilang berhasil ya tidak juga, namun dikatakan gagal kok ya tidak. Fikriy masih berperan menyiapkan Jelly, menuang semua bahan ke panci. Namun ketika sudah waktunya mencetak Jelly ke tempatnya,, di sini fikriy tiba-tiba zonk. Akibat fokusnya yang terbelah hihi. Ummi turun tangan untuk menuang ke cetakan yang sudah disiapkan.
Sesampainya di rumah Om dan Tante nya, fikriy terlihat malu-malu menawarkan Jelly rasa anggur yang sudah dimasukkan ke dalam wadah pendingin.

3/24/17

"Jelly untuk Om dan Tante Kesayangan Fikriy" Tantangan Day 1 My Family My Team (Persiapan)

Bismillahirrahmanirrahim,

Besok rencananya insyaallah mau silaturrahim ke rumah omnya anak-anak di Depok. Nah kebetulan di level 3 kali ini, challenge nya adalah bikin proyek keluarga bersama-sama sehingga semua anggota keluarga bisa ikut terlibat. Terus hari ini dan dari kemarin sebenarnya sudah sibuk diskusi dengan Mas Fikriy, mau bawa apa buat oleh-oleh ke rumah om dan tante kesayangannya.

Ummi : "Mas, gimana kalau bikin jelly terus dibawa biar bisa dimakan om koko dan teyu?"

Fikriy : "nanti cetakannya gimana mi, ditinggalin di rumah om koko?"

(dalam hati ummi nyeletuk, alah nak udah kaya ummi aja, mikirin perabot dapur kalau abis masak hihihi). Tapi sebenarnya sering kali ummi dibuat terkagum dengan respon anak-anak yang pertama keluar dari bibir mereka, karena menurut ummi bisa menjadi cerminan karakter seorang anak. Nah, kalau respon Fikriy seperti ini, ummi merasa mungkin salah satu sifatnya dan bisa jadi kekuatannya adalah berpikir detail hihi.

Ummi : "Ga, mas. Nanti jelly nya kalau sudah jadi, ditaruh di plastik atau Tupperware, terus dibawa deh ke rumah om koko dan teyu, gimana?"

Fikriy : "oo ya ya, ummi. Besok kita buat nya yaa"

Nah, diskusi hari pertama alhamdulillah sudah berjalan dengan baik. Mas Fikriy kebagian tugas untuk mempersiapkan bahan dan membuat besok hari ahad.
Bahan yang diperlukan juga semuanya sudah ada di rumah :
1. Nutrijel 1 bungkus
2. Gula pasir putih 2 sendok sayur
3. Air matang 700ml
4. Cetakan jelly

Mudah-mudahan besok pagi sebelum berangkat, bisa selesai semuanya yaa, mas!

3/1/17

Kemandirian Anak dan Adversity Quotient

🍶🍫🍮Cemilan Rabu #2🍮🍫🍶

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Kemandirian Anak dan _Adversity Quotient_*

Berbagai rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan apakah akan 'membantunya' atau 'melatihnya melakukan sendiri'. Sebut saja, misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.

Dengan alasan 'sudah terlambat', seringkali kita pada akhirnya 'membantu' menyuapi si tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama, kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.

Padahal, yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh, serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini adalah kunci awalnya.

Maka, bila anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri.

Adalah _Adversity Quotient_ yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz, _Adversity Quotient_ merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

_Adversity Quotient_ memiliki  tiga tingkatan dengan terminologi pendaki gunung.

*1.AQ rendah*
Mereka cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan.  Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan sebagai orang yang terhenti ( _quitter_)

*2.AQ sedang*
Memiliki banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung lama dan menetap.

Seringkali sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( _camper_)

*3.AQ tinggi*
Inilah pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan. Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu. Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( _climber_)

Pandu anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri. 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo

2/27/17

Tantangan 10 Hari Kemandirian One Week One Skill Day #3

Bismillaah,

Minggu kemarin sempat tertunda postingan 10 Days Challenge Melatih Kemandirian Anak soalnya alhamdulillah dikasih rejeki sama Allah diajakin bunda nya Fikriy dan Mahira ke Taman Safari hihi. Tapi meskipun libur, insyaallah kemandirian fikriy dan mahira tetap ummi pantau. Nah, sekarang mau Update lagi yaa hari ketiga.

Fikriy
Alhamdulillah kalau sepanjang pantauan ummi, Fikriy termasuk yang mau diajak kerja sama dalam hal melatih merapikan kembali mainan dan buku-buku yang sudah dipakai. Malah, saking rajinnya, Fikriy juga sering merapikan mainan adiknya yang memang belum bisa mandiri. Lucu kadang-kadang kalau melihat ekspresi Fikriy ketika menasihati adiknya. "De, kalau udah main beresin lagi ya, nanti adek mau main, susah nyarinya", hihihi ummi cuman bisa tersenyum simpul dari kejauhan.
Mungkin ini ya yang sering dinasihati oleh orang tua lain yang lebih senior, jika anak pertama sukses dididik, maka adik-adiknya akan mencontoh kakaknya.
Semoga Fikriy selalu menjadi contoh yang sholeh untuk dede yaaaa

Mahira
Untuk melatih kemandirian Mahira, di saat memberikan cemilan, ummi pilihkan finger food yang gampang dan cepat. Jagung rebus! Hihi, selain sumber karbohidrat, modalnya juga murah meriah, cepat dibuat, dan kalau perlu tambahan lemak, tinggal oles butter, jadi deh!
Alhamdulillah, Mahira di hari ketiga menghabiskan jagung yang sengaja ummi potong kecil-kecil, dan membuangnya di atas meja atau tong sampah di luar pintu dapur.

Semangat terus yaaa, sholeh dan Shalihahnya ummi :)

Oiya, di Instagram ummi, sengaja ummi videoin waktu Fikriy merapikan mainannya, buat kenang-kenangan :)

2/23/17

Tantangan 10 Hari Kemandirian One Week One Skill Day #2

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Masih semangat di level kedua dalam rangka membangun kemandirian anak-anak, One Week One Skill. Nah, kalau kemarin cukup sukses keduanya, hari ini bisa dibilang sukses juga... Sedikit hehehe.

Kemandirian Fikriy Day 2 (Merapikan Mainan dan Buku Sebelum Tidur)
Hari ini saya membuat nasi goreng kampung untuk sarapan, Fikriy mulai semangat lagi makan sendiri, apa mungkin karena lapar ya hihi. Alhamdulillah kalau makan, walau kadang-kadang minta disuapin tapi beberapa hari ini Fikriy mau menyelesaikan makannya sendiri.
Skill yang sebenarnya sedang dilatih adalah Merapikan Mainan dan Buku Sebelum Tidur. Karena siang tadi Fikriy tidak tidur, akhirnya saya memantau kemandirian nya di sela sela waktu bermain. Ketika menjelang sore, Fikriy minta tolong agar kasur tempat bermain digelar di depan tivi. Nah kebetulan banget mainannya masih berantakan di depan televisi. Akhirnya saya meminta Fikriy untuk merapikan mainan dan buku kembali ke tempatnya.
Hasilnya?
SUKSES, alhamdulillah hihihi. Agak sedikit mengomel sih, tapi gapapa tetap saya kasih pujian.

Kemandirian Mahira Day 2 (Makan Sendiri dan Membereskan Sisa Makanan)
Kalau Mahira, alhamdulillah makan malam tadi menunya mie godog, kebayang kan repotnya anak umur 18bulan makan mie kuah hihi. Tapi pas saya sedang menyetrika baju, Mahira yang didampingi ayahnya, dapat menghabiskan hampir seluruh makanan. Sisa makanan ada sedikit, namun yang membereskan adalah mas Fikriy hihi

Tetap semangat yaaa anak-anak sholeh ummi :)

2/21/17

Tantangan 10 Hari Kemandirian One Week One Skill Day #1

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Masuk level kedua di kelas Bunda Sayang, kali ini tujuannya adalah menciptakan kemandirian anak-anak, bagi orang tua yang sudah memiliki putra putri. Langsung teringat, ada beberapa skill yang ingin saya latih bersama Fikriy dan Mahira, gayung pun bersambut judulnya :)

Nah, minggu ini, saya ingin mengasah lebih dalam skill di bawah ini untuk putra-putri saya. Sebenarnya secara tidak disadari, mereka mungkin sudah pelan-pelan diajak bekerja sama dalam skill ini, tapi dengan adanya 10days challenge ini, jadinya akan lebih terpacu lagi.

Fikriy
Membereskan buku di rak dan mainan di kotaknya sebelum tidur

Dari sore, fikriy sudah disounding kalau nanti malam sebelum tidur, bantuin ummi membereskan mainan dan buku agar kembali rapi. Semalam, awalnya Fikriy sedikit  enggan dan bertanya kok bukan ummi saja yang merapikan, kemudian saya bilang nanti pasti dibantuin supaya fikriy semangat. Alhamdulillah, semalam dealnya adalah, fikriy yang memungut mainan dan memberikan kepada saya, baru kemudian saya yang membantu meletakkannya kembali.
You are great, Fikriy!

Mahira
Makan dan membereskan makanan sendiri
- makan pagi masih disuapi dengan ummi karena belum mulai Challenge
- makan siang sudah makan sendiri dengan Beef stew, kemudian setelah makan Mahira saya ajak untuk mengelap bekas makan di lantai dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Alhamdulillah mungkin karena melihat masnya, Mahira mau diajak kerja sama. Semangat, adek!