11/21/16

*Review Nice Homework sesi #5 dan diskusi* 21 November 2016 Matrikulasi IIP Depok Batch #2 📝BELAJAR CARA BELAJAR ( Learning how to Learn)📝

*Review Nice Homework sesi #5 dan diskusi*
21 November 2016
Matrikulasi IIP Depok Batch #2


📝BELAJAR CARA BELAJAR ( Learning  how to Learn)📝

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah
♦ Bingung, ini maksudnya apa?
♦ Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
♦ Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
♦ Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap *“belajar cara belajar”*.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah

*“Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh”*

Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu “OUTSIDE IN” informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan “exit procedure” andaikata di tegah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yangbertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA.

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

☘ Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.
☘ Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.
☘ Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
✏ Memberikan teori tentang desain pembelajaran
✏ Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
✏ Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
✏ Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya

*‘ADAB itu sebelum ILMU’*

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong

Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu,  merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada  yang berpendidikan tinggi, namun  tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`

tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.

3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)

Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/



Sumber Bacaan :


Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #2,2016
Materi Matrikulasi IIPbatch #2, Belajar cara Belajar, 2016
Materi Matrikulasi IIP batch #2, Adab Menuntut Ilmu, 2016


➖➖➖➖➖➖➖➖➖
1⃣ Bun Marie
Bagaimana cara kita membuat design pembelajaran yang merangsang anak2 menyukai materi tersebut? Dan selanjutnya bisa belajar dengan penuh rasa keingintahuan (inside out)?Mengingat selain bidang2 utama yg disukai anak2 misal sepakbola atau math, atau yg lainnya, anak2 perlu didukung dengan ilmu/pengetahuan lain misalnya studi sosial, public speaking, bahasa dll.

➡ Mbak Marie, sebetulnya mbak Marie lah yang paling tahu bagaimana caranya. Apabila sudah mengetahui kesukaannya anak-anak, jika melihat demikian maka coba kaitkan pembelajaran bidang lain yang dibutuhkan itu dari sudut pandang yang disukai. Misalnya jika memang suka sepakbola saat membahas sepakbola, diskusi lah tentang klub bola,  klub international, dan lain lain yang bisa dijadikan pemantik   rasa ingin tahu bidang sosial. Saat bicara klub int'l bicarakan bagaimana pemain itu menjawab pertanyaan di press conference misalnya, sebagai pembelajaran atau hikmah public speaking. Hanya ide Dan hanya salah satu cara, sekali lagi sangat bergantung pada kondisi sendiri.



2⃣ Bun Wiwit
MasyaAllah keren bgt tugas Nhw 5 ini bikin tambah dalam mikirnya..
Dr review nhw5 sy br tahu bahwa ada teknik tidak terburu2 memberikan jawaban krn mematikan rasa ingin tahu.
Mhn penjelasan dr tim fasil berapa lama sebaiknya yg tepat hingga memberikan jawaban?.dan saya krg paham dg exit procedure yg dimaksud.

Jazakilah khair 😊🙏🏼

➡ Bunda Wiwit, menurut Bunda bagaimana? Coba lihat gelagat dan bahasa tubuh anak-anak, mereka Pasti mengirim sinyal mencari tahu.

Bergerak, berpikir, mencari, maka yang bengkok saja kita luruskan.

Exit procedure adalah konsep tentang "aturan menyerah/ menyudahi" atas ilmu dan pekerjaan yang sedang kita tekuni. Kita sendiri yang menentukan. Mengapa dan bagaimana menyudahi.✅



3⃣ Ardiani Putri
Untuk tingkatan belajar ilmu apakah erat kaitannya dengan jam terbang 10.000jam yaa? Jadi klo saya masih sombong berarti ilmu saya masih cetek gituu yaaa bun? Hehe

➡ Mbak Putri, mungkin ya mungkin juga tidak. Karena tingkatan itu adanya di hati. Ukuran jam terbang adalah kuantitas latihan. Tetapi kualitas hari tercermin dari sikap. Banyak juga ahli yang masih merasa haus ilmu masih suka belajar dan masih merasa bodoh.✅



4⃣ Dinda
Saya tipe yg senang dgn berbagai macam hal/tantangan baru,, terkadang saya melakukan beberapa macam kegiatan di waktu bersamaan dan hasil nya baik.
Apakah ini diperbolehkan?
Mengingat ada istilah 1 ilmu bisa professional jika dilakukan selama 10.000 jam terbang,?
Terima kasih

➡ Mbak Dinda, jika itu cara belajar mba Dinda, teruskan saja dan tingkatkan, barangkali keahlian mbak Dinda menjadi kolaborator atau integrator ide dan kegiatan ✅



5⃣ Bun Feby
Selama mengerjakan nhw di kelas matrikulasi saya memang berusaha menahan diri dari melihat apa/bagaimana rekan2 lain mengerjakannya, saya baru akan lihat hasil karya rekan2 lain setelah saya selesaikan tugas saya, juga saat mengerjakan nhw#5.  Cara ini biasa saya lakukan saat saya ingin mengukur diri sendiri, melihat bgm pemahaman diri saya, karena saya paham bhw kadang saya mudah "terdistorsi" oleh orang lain, yg akhirnya saya mengerjakan sesuatu dengan cara orang lain, bukan cara saya.  Saat saya melihat tugas rekan2 di nhw#5, terlihat sekali majemuknya pemahaman rekan2, dan terus terang ada beberapa yang menarik sekali buat saya dan ingin saya contoh.
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana pendapat Mbak Diah/fasil mengenai cara saya ini? Sampai sebenarnya kita bisa menahan diri untuk tidak "mencontoh" orang lain, atau bahkan ingin ganti haluan (bisa juga diartikan, kapan sebenarnya menerapkan exit procedure)?

Jazaakillah khairan afwan puanjang ;)

➡ Bunda Feby, silakan saja jika nyaman dengan cara tersebut. Sebetulnya memang tidak ada ilmu baru di dunia ini. Tidak ada _rocket science_ jika terinspirasi dari teman-teman dan terkait dengan misi hidup maka jalankan saja ✅



6⃣ Bunda Tsabit
Bagaimana kita bisa berhasil smp tahapan ke 2,3, krn tahapan 1 Pnyakit sombong adalah hal yg paling menghambat ketahap selanjutnya, Dan sombong adlh penyakit yg banyak tdak disadari oleh pelakupelaku

➡ Bunda Tsabit, yuk kita selalu *stay hungry stay foolish* ✅



7⃣ Bun Esther
zaman sekarang banyak orang yang berada di tingkat pertama, merasa tahu segala dan bicara k publik padahal belum tentu yang disampaikan benar. sebaliknya banyak yang di tingkat ketiga, memakai ilmu padi. makin belajar makin berasa tidak tahu jadi ragu-ragu untuk menyampaikan k orang lain karena merasa kurang ilmu. bagaimana kita menyikapi hal ini?

➡ Bunda Esther, untuk menilai dimana posisi satu dua tiga perlu pendalaman dan kejernihan hati. Karena biasanya orang yang sudah tingkatan ketiga justru sangat gemar membagi ilmu, wallahu'alam. ✅


➡ Yang mempengaruhi seseorang naik dari tingkatan ke tingkatan berikutnya adalah *_amalan ilmu_*dan *_asas kebermanfaatan_* ilmu tersebut bagi kerahmatan alam semesta.

Kualitas dan kuantitas ilmu tidak akan berpengaruh banyak apabila "tidak diamalkan" dan "tidak memberikan manfaat" bagi alam semesta.

Karena
*_sejatinya orang yang berilmu akan semakin mendekatkan dirinya kepada sumber ilmu ( DIA yang MAHA berilmu)_*

 sehingga dirinya makin merasa tidak ada apa-apanya, senantiasa ingin mencari ilmu terus menerus.

Dan janjiNya pasti

_Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_

Maka ilmu itu merupakan petunjuk untuk *_meningkatkan keimanan_* dan  petunjuk untuk *_beramal_*

Apabila kita selalu menuntut ilmu tetapi dua hal tersebut tidak pernah naik, maka ada yang harus kita perbaiki, entah "kebersihan jiwa dan diri kita dalam menuntut ilmu" atau "keberkahan ilmu itu sendiri".

 Maka
*_ADAB itu sebelum ILMU, dan ILMU sebelum AMAL_* Semoga makin jelas tergambarkan sekarang✅

#jawaban bu Septi tentang berada di tingkatan ilmu manakah kita