2/17/17

Resume 'Tantangan 10 Bagian 3'


Resume 'Tantangan 10 Bagian 3'
Rabu, 15 Februari 2017

Review Materi
*BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK*

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

5. Pelayanan.

Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.

4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


_Sumber bacaan_:

_Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014_

_Eric Berne, Games people Play, jakarta_

_Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta._
________________________

Seputar Tanya Jawab Tantangan 10 hari bagian 3
Rabu, 15 Februari 2017

1.
🎙🎙🎙Bunda Ika (ardaniya rizka)
Apakah mungkin bahasa cintanya anak lebih dari satu? Sepertinya anak saya melakukan beberapa item dari 2 bahasa cinta, yaitu waktu bersama dan kata-kata mendukung.

Jawab :
Sangat mungkin bunda Ika,
Saat saya mengamati bahasa cinta anak saya Hawwin, semua contoh yang disebutkan direview pernah Hawwin lakukan.
Setiap anak akan memiliki keunikan dalam bahasa cinta masing2, mana yang lebih dominan. Kita sebagai orang tua perlu menghadirkan 100% diri kita saat bersama anak dalam memahami bahasa cinta ✅

🎙🎙🎙Bunda Ardiani Putri
Assalamulaikum bunda refi, saya ardiani putri. Untuk komunikasi kepada anak, karena anak saya baru 1 dan masih berumur 21m maka untuk tugas kemarin saya lebih banyak membahas mengenai cara saya menanamkan value kepada anak saya dengan melalui contoh perilaku, media yg saya gunakan untuk belajar karena sampai saat ini saya blm mengetahui cara komunikasi plg efektif ke anak saya.

Yang ingin saya tanyakan pada umur berapa gaya komunikasi efektif ini dapat terlihat dari seorang anak agar saya bisa berfokus pada cara komunikasi tertentu.

Jawab: Berikanlah bahasa cinta kita sejak dalam kandungan, dengan belaian, ungkapan rasa sayang, kecupan seorang ayah di perut ibunya, ajakan untuk melakukan setiap kegiatan.
Ajaklah seorang anak berkomunikasi dengan bahasa cinta kapanpun saat membersamai anak.
Jadilah teladan sedini mungkin. ✅

🎙🎙🎙Bunda Tria
Teh Ai, jika menurut pengamatan saya ada sekitar 3 atau lebih bahasa cinta anak, apakan memang bahasa cintanya itu banyak (tdk ada yg dominan)?  Dan cara kita berkomunikasinya menjadi lebih beragam?

Ataukah memang saya perlu lebih jeli dan spesifik lagi mengamatinya?

Tks 😊
Jawab :
Iya benar, sangat mungkin seorang anak memiliki beragam bahasa cinta.
Itulah pentingnya kita bersungguh2 penghadirkan 100% diri kita saat bersama anak untuk melatih kepekaan kita mana bahasa cinta anak yang lebih dominan. Karena setiap anak itu unik. Tidak akan sama satu sama lain, anak kembar sekalipun. ✅

🎙🎙🎙Bunda Resti
Bagaimana cara terapi anak yg dalam berbicara agak terbata-bata tapi sebetulnya dia tidak 'gagu' (maaf) tapi karena panik. Dikhawatirkan anak itu sulit berkomunikasi/ bergaul dengan teman2nya sehingga merasa tidak percaya diri. Pendekatan komunikasi apa yg harus dilakukan  orang tuanya?

Jawab :
Kasus yang menarik bunda Resti.

Ada kata kunci "panik", apakah anak ktersebut mengalami trauma? Sehingga mengalami "panik" ini?

Healing diperlukan dalam hal ini menurut saya. Pemberian bahasa cinta bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa paniknya melalui perhatian, rasa aman, kepercayaan, kasih sayang dan penghargaan. Tentunya dari orang terdekat.
InsyaAllah akan mengembalikan rasa percaya diri anak tersebut. ✅

______________________
🎙Bunda Arssy
Assalamualaikum teh Ai
Anak saya pernah gagap jg dlm bicara,ber angsur2 bisa sembuh.....ada kalanya muncul lagi,gmn sbaiknya saya menyikapi nya?
Jawab :
Tetap berikan bahasa cinta kita...
Hindari hal yang menyebabkan di gagap.
Jangan bereaksi saat gagapnya muncul, berikan apresiasi saat di berkomunikasi dengan lancar. ✅

🎙Bunda Ika
Teh Ai, jika berkomunikasi dengan anak 2 tahun bagaimana ya? Terutama saat dia keukeuh dengan maunya.. sedangkan ada yang lebih baik daripada yang dia inginkan.
Misalnya: saat aisyah tidak mau mandi. Saat diajak mandi teriak-teriak. Misalnya Aisyah: "Ngga mau mandiiii! Mau main aja!"
Jawab :
Hal ini tergantung value keluarga masing2.

Untuk anak 2 th egonya memang masih tinggi, semakin dilarang malah semakin memberontak.

Kalau di keluarga kami, kami tidak memaksakan Hawwin untuk mandi kalau dia tidak mau, menumbuhkan kesadaran lebih penting daripada memaksakan kehendak orang tua.
Bagi kami, "Teladan" lebih penting...
Jadi berikan dulu contoh, kita bilang mau mandi didepan anak, cerita tentang manfaat mandi, misal mandi membuat badan kita jadi segar, wangi, kuman2 pada hilang dsb. "Ngabibita" istilah basa sunda nya. ✅

🎙Bunda Nikha Hakim
Assalamualaikum teh ai, sy butuh saran untuk anak usia 6,5th yang apabila mengalami kesulitan atau saat sedang tidak mood , cara si anak berkomunikasi selalu menggunakan cara merengek sambil marah2. Dulu saat usia dibawah 4 th justru trmsk tipe anak yang tidak mudah merengek.

Kemudian anak kedua saya, 5th, apabila ada hal yg membuatnya kecewa, responnya lgsg marah dan menangis sejadi2nya sampai sulit utk diredam. 😢

Jawab:
Waalaikumussalam....
Bunda Nikha, inilah pentingnya diadakan forum keluarga secara rutin, misal saat makan bersama, setelah selesei makan sebelum bubar nikmati family time dengan berbagi cerita. Di forum ini kita bisa memberikan nilai2 penting, seperti adab, moral, value, dsb.

Saat anak berbuat reaktif (perbuatan yang tidak pantas, seperti nangis, teriak, marah2)
Usahakan kita tetap tenang, dampingi, baru bertanya tentang perasaannya, tunjukan sikap emphaty kita, setelah itu boleh memberikan saran atau bercerita tentang nilai2 yang baik yang seharusnya dilakukan.
Biasanya saya cari sesuatu alat dapur yang bisa dimainkan dikamar mandi. Hawwin paling senang kalau mandi busa2 sama bola2. Atau bawa botol sama cangkir, sambil melatih motorik halusnya memasukan air memakai cangkir kedalam botol. Atw mainan apa saja yg bisa dilakukan dikamar mandi.
Ada pelajaran yg bisa kita ambil dari grup sebelah nih..

Pertanyaan 5⃣

Saya lida dari Bandung mau bertanya:

1. Pada saat kita menganjurkan anak untuk suatu aktivitas, semisal mandi (yang sekarang lagi sulit-sulitnya untuk mandi) kemudian menolak, kita kasih pilihan "mandi sekarang atau 5 menit lagi", atau mau mandi pakai air hangat atau air dingin", terus anak keukeuh bilangnya "gak mau", padahal kita harus segera rapi untuk berangkat beraktivitas keluar rumah,nah disitu kadang saya merasa bingung, harus bagaimana bu sikap terbaik menghadapi hal tersebut?

2. Dulu saat saya belum mengenal IIP saat putri saya waktu itu berusia 2 tahun saya menyesal sekali waktu itu emosi sedang sangat memuncak, entahlah apakah pada waktu itu saya baby blues karena ada perubahan tunes kehidupan dari awalnya aktif tetiba seolah terkurung di rumah dengan makhluk kecil, nah waktu itu saya pernah berteriak dengan suara yg sangat keras ke putri saya sebagai puncak dari rasa frustasi pada waktu itu. Betul2 menyesal, mungkinkah itu akan berdampak utk perkembangannya? Bagaimana cara menghapuskan memori buruk dari putri saya?

3. Putri saya (3,5y) saat main dengan teman2nya terkadang saat temannya mau meminjam barang putri saya lalu putri saya gak ngasih maka teman2nya itu mengancam mau pulang dan gak main lagi, nah bagaimana baiknya apakah harus menganjurkan putri saya berbagi atau bagaimana? Kemudian putri saya terkadang saat ada anak2 khususnya laki2 main di depan rumah terkadang suka caper, apakah itu fitrah nya karena dia perempuan atau bagaimana?
Septi Peni Wulandani IIP: 5⃣ teh lida, kenalkan resiko kepada anak kita. misal urusan mandi tadi, sudah diberikan alternatif pilihan tetap tidak diambil, maka kenalkan resikonya, berarti kakak tidak bisa hadir tepat waktu, atau tidak bisa ikut mama pergi jam 15.00 ini, atau resiko lain yang memang logis di kepala anak. Tidak boleh mengancam ya, ini belajar menerima resiko dan konsekuen.
Septi Peni Wulandani IIP: 2. Cara menghapus memori buruk adalah dengan memenuhinya dengan memori baik, sehingga proses Switch ini seperti berdamai dengan masa lalu, sudah tidak mengingat-ingat sakit di masa lalu. Dan segera minta maaf secara lahir batin ke anak
Septi Peni Wulandani IIP: untuk posesif kepada mainan itu normal di usia 3,5 th, maka anak harus bisa memilah mana mainan yang private dan mana yang boleh untuk umum. Yang untuk umum berbagilah dengan teman-temannya. hal ini membuat kita menghargai privacy anak-anak.
‪+62 815-4552-0204‬: Kalau misal terlambat mandi lalu dkenalkan resiko 'tdk bisa ikut mama pergi' itu utk membedakannya dg ancaman berarti dr intonasi/nada suaranya kah bu..?
Septi Peni Wulandani IIP: ya betul yang membedakan adalah intonasi
Septi Peni Wulandani IIP: misal :

kenalkan kondisi terlebih dahulu
"adik 30 menit lagi mama harus pergi , kalau adik mau ikut berarti harus mandi sekarang"

"5 menit lagi berhenti ya main gamenya"

"nggak mau", jawab anak

"oke nggak papa, artinya adek tidak ikut mama, karena waktunya tidak cukup kalau tidak mandi sekarang.

Bedakan dengan nada dan intonasi
"Ayo 5 menit lagi, awas ya kalau nggak mandi nanti mama tinggal"

Resume Review Tantangan 10 Bagian 1

Resume Review Tantangan 10 Bagian 1
Senin, 13 Februari 2017
🎉🎉🎉

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo
______________________

Seputar Tanya Jawab Review Tantangan 10 bagian 1
🎉🎉🎉🎉🎉
1⃣  🎙🎙🎙 Bunda Resti
Sepertinya saya masih dalam tahap Heteronomi 😊
Dalam berkomunikasi dengan suami kadang adalah masalah sensitif yang kadang saya ragu untuk mendiskusikannya dengan suami yg akan membuat kami bisa ribut. Akhirnya saya hanya memendamnya dan memilih untuk tidak mendiskusikan dgn suami tapi jadinya saya yang berkorban sendiri. Mohon saran bagaimana cara memulai berdiskusi dengan pasangan yg lebih 'aman' tapi masalah terselesaikan tanpa ada keributan.
Tks
Jawab :
Bunda Resti, kurang lebih saya pernah mengalami hal yang sama. Saya takut mengkomunikasikan sesuatu dengan suami karena adanya kekhawatiran akan menimbulkan konflik. Hal ini masih erat hubungannya dengan komunikasi dengan diri sendiri. Adanya pengalaman buruk (trauma masa lalu) bisa jadi penyebabnya. Hypersensitif juga bisa jadi penyebabnya. Konflik yang dipendam terus menerus lama2 akan menjadi bomb waktu yang bisa meledak kapan pun. Pelajari teknik acceptance (penerimaan). Terima (ikhlas) dengan apa yang kita rasakan.
Tekhnik mudahnya :
Katakan pada diri sendiri "ok (baiklah) saya terima kalau saya takut bicara......"
"Ok, saya memang sakit hati...."
"Ok, saya kecewa..."
Bahkan saat kita menolak perasaan kita, tetap kita terima.
"Ok, saya terima kalau saya menolak untuk menerima..."
"Ok, saya marah..."
Jeda sejenak sambil tarik nafas dalam, kalu muslim bisa mengucap astagfirulloh, baca taawudz, berwudhu, atw bahkan sholat 2 rokaat.
Cmiiw

2⃣ 🎙🎙🎙Bunda Nira
pertanyaan
Selasa-Rabu, 14-15 Februari 2017
Terkdang targetn yang sudah komunikasi kan dan disepakati dengan keluarga menguap begitu saja,  karena suhu emosi, semangat,  dan aktivitas yang berbeda tiap anggota keluarga. 
mungkin bagi kita target itu rendah tapi bagi anggota yang lain terlalu tinggi atw tdk prioritas...

Senin, 13 Februari 2017
bagaimana aplikasinya menyamaka persepsi yang ringan dan mudah agar kita punya kesamaan target dan prioritas
Jawab :
Bunda Nira, pastikan bukan bunda yang menentukan target, tapi sepakati bersama target yang ingin di capai (kalau itu adalah target keluarga)
Caranya sering ngobrol atw berkomunikasi, sampaikan apa yang kita inginkan bukan yang tidak kita inginkan.

3⃣ 🎙🎙🎙Marie
Gimana caranya bangkit dari pikiran2 yang negatif tentang diri sendiri, di waktu kejadian? Misalnya ada suatu kejadian yg membuat kita jadi ga pede atau sedih, dan akhirnya membuat kita jd underestimate kemampuan diri kita sendiri.
Jawab :
Bunda Marie, teknik acceptance juga bisa digunakan dalam hal ini, maafkan diri sendiri.
Tuliskan kata2 motivasi yang bunda anggap bagus dan menarik di dinding yang mudah terbaca.
Kenali IC (inner child) kita, dan berkomunikasilah dengan dia.
Bisa di googling cara berkomunikasi dengan IC.

4⃣ 🎙🎙🎙Bunda Ardiani putri
Mengenai komunikasi dengan diri sendiri, saya adalah orgnya yg introvert semua permasalahan, unek2, saya pendam sendiri sehingga memberikan beban stress tersendiri bagi saya. Belum lagi sikap perfeksionis. Lagi-lagi saya meminta nasihat untuk bisa lebih lapang dada terhadap keadaan sekitar yang tak sesuai dengan harapan saya. Tks
Jawab :
Bunda Ardiani...
Perlu latihan yang cukup panjang, dan kesungguhan untuk menangani hal ini.
Jika memang tidak berani mengungkapkan perasaan pada orang lain, cukuplah Allah sebagai tempat kita mengalirkan rasa (curhat) dan memohon pertolonganNya atas segala tantangan yang ada dihadapan kita.
Untuk sikap perfeksionis, belajarlah melepaskan harapan kesempurnaan kita, jangan digenggam terus menerus. Karena hanya Allah lah yang Maha Sempurna.
Lagi2, latihan tekhnik acceptance.

5⃣ 🎙🎙🎙Bunda Ika (ardaniya rizka)

Saya sering berkomunikasi dengan diri pribadi. Saya perhatikan, masih banyak kalimat-kalimat negatif yang berseliweran di otak dan sering keluar melalui juga jadinya. Sudah dijaga agar positif, tapi refleks negatifnya masih muncul. Saya amati dari komunikasi anak saya, masih sering muncul kata susah. Misalnya: "itu kan susah, Mi." Atau "susah banget". Berkaca dari situ, saya mulai belajar untuk berubah. Minimal, sayanya tidak berpikir negatif. Bagaimana caranya agar selalu positif ya?
Jawab:
Bunda ika, berbagai buku sudah saya baca agar mempunyaki pikiran yang positif, tapi ternyata yang paling penting itu adalah perasaan kita yang positif (positif feeling). Rasa bahagia, bersyukur, itu kunci pertamanya.
Kata kunci untuk hati yang ikhlas ada 5, yaitu:

Syukur-sabar-fokus-tenang-bahagia

6⃣ 🎙🎙🎙Bunda Eka
Bagaimana jika saat ini saya masih berada di tahap anomi? langkah apa yang harus dilakukan untuk berada ditahap selanjutnya?
Jawab :
Bunda Eka, langkah pertama yang harus dilakukan adalah tekadkan diri untuk mulai belajar memperbaiki mulai dari langkah yang paling mudah, misal: merubah kata "tidak bisa" menjadi "bisa!"
Segera berubah, dan jangan tunda lagi.

InsyaAllah bisa...💪

7⃣🎙🎙🎙Bunda Wiwit Simponi
Assalamualaikum , terimakasih ibu Septi & Bunda2 Tim Fasil,saya suka sekali dg materi komunikasi produktif ini. Challenge 10 hr ini saya lalui dg tahapan : berawal dr forum komunikasi diri sendiri,pasangan,anak kemudian 1 keluarga.
Utk tahap pertama Komunikasi dg diri sendiri :
Mhn saran dr tim fasil,apakah sebaiknya ada waktu khusus yg rutin komunikasi dg diri sendiri?.
kalau saya biasanya selepas sholat shubuh, salah satu komunikasi dg diri sendiri dg membaca doa utk niat menjalani hari ini harus lebih baik&berkah dari hr kmarin.
Mhn Ilmu yg bermanfaat,Rezeki yg berkah dan amalan yg diterima. Menjadikan saya lebih bersemangat.
Apakah menurut tim fasil teknik tsb sdh benar& dikategorikan komunikasi produktif dg diri sendiri?.
Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼
Jawab :
KEREN SEKALI bunda Wiwit....👍😘😍
Mungkin bisa jadi referensi bagi teman2 disini.

8⃣ 🎙🎙🎙Bunda Nurul
Ikut nanya ya bun,  terkait dengan komunikasi dengan diri sendiri.  Saya seringkali berkomunikasi dengan diri sendiri tentang apa yang telah saya ucapkan kepada orang lain,  terutama anak dan suami yang sering berinteraksi.  Secara teori saya paham sebaiknya seperti apa,  namun kadang kala situasi dan kondisi reaksi saya ketika menghadapinya menyebabkan komunikasi yang tidak  diharapkan.  Setelah terucap,  saya suka merasa menyesali kenapa tadi bicara seperti itu.  Bagaimana ya caranya agar kita lebih bijak dalam berkomunikasi produktif terutama pada situasi yang memancing emosi supaya  tidak  reaktif.
Jawab :
Bunda Nurul, gunakan tekhnik jeda dengan menarik nafas dalam dan mengucap istigfar atw taawudz setiap kali emosi negatif muncul.

9⃣ 🎙🎙🎙Bunda silvia
Mau titip pertanyaan.
" apa yg harus dilakukan ketika sisi perfeksionis muncul,tapi dlm realita nya sulit utk mencapai target dan konsisten krn faktor luar ( misal kmrn utk tantangan 10 hari, krn pindahan, sehingga ritme dan kondisi berubah drastis, atau sakit,dst)  sehingga yg muncul adalah feeling guilty pd diri sendiri.
Jawab :
Bisa dengan menggunakan teknik melepaskan harapan dan menerima kenyataan (acceptance)
Mengimani semua rencana dan ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita.
Manusia harus mempunyai planing dalam hidupnya (proses) tentang hasil biarlah Allah yang menentukan.
Maka nikmatilah prosesnya.
Sekali lagi,
Gunakan tahapan : syukur-sabar-fokus-tenang-bahagia

🔟🎙🎙🎙Bunda Hilma
Komunikasi dg diri sendiri terkadang dipengaruhi oleh fikiran dan perasaan kita yaa.. Gimana yaa supaya keduanya bisa selaras? Misal, fikiran sdh berfikir, "hal ini manfaatnya baik untuk saya A,B, C dst. Harus dijalani dengan semangat!", tapi perasaan qta masih belum "setinggi" fikiran qta. Misal masih terlena dg keadaan, masih ada perasaan enggan, dsb. Bagaimana tipsnya spy saling selaras yaa agar self talk yg tercipta lebih sehat dan produktif?
Jawab :
Bunda Hilma, tantangan bagi banyak orang ya hal seperti ini...saya pun masih dalam proses belajar.

Banyak hal yang mempengaruhinya.

Dari berbagai kajian, mulai sari cara berpikiran positif, teori quantum ikhlas, kajian tazkiyatunnafs, mengenal jerat2 syetan, mindfulness. Banyak pelajaran yg bisa diambil. Tapi satu yang benar-benar bisa kita aplikasikan dengan baik adalah tuntunan hidup Rasulullah saw sehari-hari. Melakukan adab sehari2 mulai bangun tidur hingga tidur lagi, pola makan, kebiasaan mengucap istigfar (100 kali perhari), dzikir, doa, dan aktivitas lainnya....

Maka berbagai teori akan kalah.

Apalagi setelah mengenal jerat2 syetan, doa2 yang sering kita lupa mengucapkannya, secara tidak langsung mempengaruhi keadaan emosi kita. (Kita mudah kesambet, bahasa kasarnya mah 😅)

Resume Tantangan 10 Hari Bagian 2

Resume Tantangan 10 Hari Bagian 2

Review Materi Tantangan 10 Hari Bagian 2

 *KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan 
yaitu :

a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP). 

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP). 

b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a.        TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)

b.        TRANSAKSI SILANG
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

c.        TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi. 

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga). 

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal. 

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.
__________________________

Seputar Tanya Jawab Review Tantangan 10 Hari Bagian 2

Selasa, 14 Februari 2017

1.🎙🎙🎙Bunda Mila
Bagaimana cara menyelaraskan dgn pola pikir suami?Karena saya dan suami memiliki banyak perbedaan cara pandang terutama utk hal2 yg sangat prinsip. Kalau mengikuti cara suami maka akan berdampak tidak baik bagi anak2 dan keluarga. Saya menyadari bahwa pola pikir kita adalah bentukan dari pengaruh pola asuh orangtua kita dan pengalaman. Saya sudah mencoba berkali2 utk berkomunikasi dgn berbagai cara namun suami memang enggan berdiskusi (tipe latar belakang keluarga/orangtuanya pun seperti itu).

➡ Untuk bisa berkomunikasi produktif dengan suami memang perlu proses. Menyamakan pola pikir itu sedikit terlalu memaksakan. Tapi jika berusaha memahami pola pikir, itu lebih masuk akal. Perbanyak acara minum teh/ngopi tanpa kehadiran gadget, biasanya obrolan bisa.lebih mudah mengalir. Jika masih beku, maka perbanyak menulis surat. Rumus berkomunikasi untuk menyampaikan pendapat: ALRI A= Atensi, sampaikan fakta untuk menarik perhatian, L= sampaikan logikanya R= sampaikan Rasa, I=  sampaikan keinginan… setelah itu, tunggu feedback. ✅

2.🎙🎙🎙Bunda Esther
Mbak mau nitip pertanyaan.
Setiap orang memiliki pola komunikasi yang dipengaruhi oleh ego orang tua, anak2 dan dewasa. Sebaiknya sikap atau pola komunikasi seperti apa yg sebaiknya kita gunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yg mungkin dominan orang tua/anak2/dewasa?

➡ Seseorang yg dominan itu maksudnya, cenderung mempertahankan pendapat?

Cara berkomunikasinya menerapkan poin2 komunikasi produktif. Dg rumus ALRI (lihat no. 1). Jadi poin2 komprod memang harus dipraktekkan 1-1, supaya terlatih. ✅

Sering kali saat komunikasi dengan pasangan saya juga jadi emosi karena pasangan berkomunikasi dengan nada tinggi, seperti orang marah. Padahal mungkin bagi dia itu biasa saja. Sehingga sering kondisi tertentu nada bicara yang seperti ini malah memperkeruh suasana. ➡ Buat jeda ketika emosi sedang tinggi. Menghindar, sampai nalar kita lebih besar daripada emosi. ✅

3.🎙🎙🎙Bunda Resti
Sepertinya saya masih dalam tahap Heteronomi 😊
Dalam berkomunikasi dengan suami kadang adalah masalah sensitif yang kadang saya ragu untuk mendiskusikannya dengan suami yg akan membuat kami bisa ribut. Akhirnya saya hanya memendamnya dan memilih untuk tidak mendiskusikan dgn suami tapi jadinya saya yang berkorban sendiri. Mohon saran bagaimana cara memulai berdiskusi dengan pasangan yg lebih 'aman' tapi masalah terselesaikan tanpa ada keributan.
Tks. 

➡ (Cek jawaban 1 dan 2) ✅

4.🎙🎙🎙 Bunda Wiwit Simponi 
Assalamu'alaikum, Dear Tim fasil terima kasih atas review nya. Dr materi review yg saya tangkap ada 2 inti yaitu : faktor yg mempengaruhi dan jenis transaksi komunikasi dg pasangan dan sebaiknya kita ambil yg positif. Mhn pencerahan bgmn pengalaman tim fasil dlm mengaplikasikannya di rutinitas keseharian antara faktor yg mempengaruhi dg jenis transaksi  komunikasi terhadap pasangan?

Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼

➡ Dibawa sederhana saja Teh… teori faktor yg mempengaruhi dan jenis transaksi komunikasi, kita evaluasi setelah berkomunikasi dg oasangan. Jadi ketika berkomunikasi langsung, Saya harus menyamakan frekuensi dan mengambil sikap mindfullness. Biasanya saya awali dg clear and clarify,.kemudian rumus ALRI. ✅

5.🎙🎙🎙Bunda Ratri
Utk mendiskusikan suatu materi seringkali sy menginginkan agar suami mau membaca atau mencari bahan shg diskusi hidup, tp selalu saja beliau memposisikan diri sbg pendengar saja shg hanya muncul 1 persepsi yaitu persepsi saya. Seringkali ada rasa tidak puas krn jadi spt narasumber dan outputnya tdk jelas. Bagaimana sebaiknya saya bersikap ya bunda?

➡ Saya biasanya justru cukup senang dg suami yg hanya mendengarkan. Yang penting, di akhir family time ada clear & clarify. Dan ketika suami sedang “bercerita” atau menyampaikan sesuatu, saya juga menjadi pendengar yg baik. Dan melakukan clear & clarify. Jika ada sesuatu yg tidak dipahami atau kurang sependapat, maka disampaikan di lain waktu. Choose the right time. ✅

2/14/17

Review Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif - Komunikasi dengan Anak

*BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK*

Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

5. Pelayanan.

Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.

4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


_Sumber bacaan_:

_Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014_

_Eric Berne, Games people Play, jakarta_

_Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta._
.

Review Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif - Komunikasi dengan Pasangan

*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*

Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)

Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).

b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)

b. TRANSAKSI SILANG
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.

Review Tantangan 10 Hari Komunikasi Produktif - Komunikasi dengan Diri Sendiri

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

2/9/17

Day 10 Level 1 TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIkASI PRODUKTIF KOMUNIKASI KELUARGAKU

Hari ini untuk kesekian kalinya saya belajar tentang sabar dan dibuat malu hati oleh anak sulung saya.

Siapa yang suka pakai Raket listrik untuk membunuh nyamuk? Pasti setuju kalau alat ini walau sedikit ringkih, ga boleh jatuh dari ketinggian, harus rajin di recharge, dan disimpan dari jangkauan balita yang sedang aktif dan penuh rasa ingin tahunya. Nah, hari ini saya sempat merasa kesal sekali karena setelah dibuka tutup sama Fikriy, Raket listrik ini tiba-tiba tidak lagi bisa menyala lampu Indikator hijau tanda sengatan listrik ya bekerja. Duh kesal karena benda yang sebenarnya tidak terlalu mahal tapi penting ini, ga bisa ditahan lagi rasanya. Karena untuk ke sekian kalinya, benda penting yang dipegang dan dioprek Fikriy akhirnya kandas dan rusak.
Saking kesalnya, saya keluar ke kamar utama, mengunci pintu, dan mencoba sendiri mengutak atik dengan harapan Raket nyamuk ini kembali menyala. Namun hasilnya nihil. Tambah gemes deh.
Fikriy yang merasa bersalah, berulang kali mengatakan maaf, namun entah kenapa rasanya permintaan maaf itu pasti ntar bakal kejadian lagi dengan kerusakan mainan atau barang penting lainnya di rumah.
Tapi saya merasa, ini hal yang sepele, dan belum tentu juga fikriy yang salah, barangkali perlu direcharge, atau memang udah segitu umur Raket listrik nya hehehe.
Saya buka kamar dan menghampiri fikriy serta mahira, kemudian melihat ada mainan anak yang memiliki besi di bagian ujungnya, langsung  terpikir untuk mengecek sengatan listrik. Alhamdulillah ternyata masih bisa, yesssss!
Dalam sebentar, suasana hati saya menjadi berubah.
Tau ga, ternyata anak kecil dianugerahi perasaan yang suci dan penuh kepekaan. Melihat suasana hati yang berubah tadi, fikriy lantas menghampiri saya dan menanyakan, ummi kenapa udah ga marah lagi?
Dalam hati, saya malu sekali..
Malu karena hanya karena sebuah Raket nyamuk, saya bisa sebaper ini, malu karena memberikan maaf aja susahnya bukan Main padahal fikriy sudah dengan tulus meminta maaf.. Saya bayangkan, bagaimana kalau Allah Ta'ala baper sama saya.. Astagfirullah, maafin ummi yaa, Fikriy.
Akhirnya saya jelaskan, mengapa saya marah tadi, dan menasihati fikriy untuk tidak sembarangan memegang dan membongkar peralatan rumah tanpa seizin saya atau ayahnya..
Hari ini, saya kembali diingatkan melalui fitrah suci seorang anak kecil..

#hari9
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip