4/12/17

Aliran Rasa Level 3 Kelas Bunda Sayang My Family My Team

Bismillahirrahmanirrahim,

Izinkan saya membuka tulisan ini dengan mengutip riwayat oleh Ahmad dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

Aku menjadi pembantu Nabi Shallallahu' alayhi wa sallam selama sepuluh tahun. Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku beliau bersabda, "Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya."

Inilah suri tauladan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu' alayhi wa sallam yang tidak banyak mencela perilaku anak-anak. Sementara saya sambil beristighfar karena kurangnya ilmu dan dangkalnya kesabaran, masih terlalu sering melihat kekurangan anak-anak, mengeluhkan hal-hal remeh, dan berandai-andai panjang atas hal yang tidak perlu.

Ketika diberikan tugas tentang Proyek Keluarga di kelas Bunda Sayang IIP, terbayang lah semua kerumitan di depan mata. Bagaimana merancang beberapa proyek keluarga, satu saja rasanya terlalu berat dilakukan dengan dua anak balita ini, apalagi proyek keluarga yang minimal dijalankan dalam waktu 10 hari. Apakah mungkin keluarga kecil saya bisa menjadi tim yang solid, belum lagi dengan kerjaan rumah, kelas Online dan offline lainnya, ah rasanya banyak challenge yang sudah menghadang bahkan sebelum saya melangkah. Namun, yang membesarkan hati saya saat membaca detail penjelasan tentang tugas saat itu, adalah proyek keluarga itu bukanlah sesuatu yang kompleks, bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana, namun dilakukan dalam koridor dua hal yaitu aktivitas dan organisasi plus manajemen. Sehingga lahirlah sebuah proyek keluarga.

Dalam perjalanannya, justru sayalah sebenarnya yang belajar kembali tentang Manajemen Proyek yang dulu kerap saya kerjakan di kantor. Rasanya jauh berbeda, kalau dulu dengan Excel, kali ini dengan time table sederhana, target-target kecil yang tampak di depan mata, dan ternyata semua perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi menjadi begitu kaya dengan warna dan pernak-perniknya. Ada masa serunya, kadang penuh tangis, sehingga proyek keluarga menjadi tak berjalan sesuai dengan rencana. Namun, disitulah kesabaran berbuah. Pengharapan diuji atas diri saya, apakah bisa menahan bibir dari rangkaian perkataan dan sikap yang tidak baik ketika kecewa dengan proses yang sedang berjalan.

Proyek keluarga pertama yang kami lakukan justru tidak berjalan mulus sesuai dengan rencana. Namun saat itu tetap saya amati, tulis dan apresiasi meski rasanya ingin mengambil alih kemudian agar proyek berjalan on track. Saat itulah biasanya saya bertanya jujur pada diri sendiri, sebenarnya apa tujuan proyek keluarga ini kami lakukan. Apakah untuk selesai sempurna saja, karena jika itu tujuannya maka saya takut akan berhasil sebagai kolektor badge saja.
Saat tidak berharap terlalu banyak pada anak-anak saya, justru itulah turning point nya, terlihat bagaimana seorang anak dengan upayanya sendiri memiliki ownership yang begitu kuat untuk memastikan Jelly yang sudah dibuat dengan porsinya, sampai dan dimakan untuk Om nya. Deliverables nya malah lebih jauh dari yang sekedar saya harapkan yaitu membuat nuitrijel. Ini anak malah memikirkan bagaimana agar Jelly itu bisa dinikmati oleh targetnya. Menakjubkan bukan!

Sehingga saya seringkali meminta maaf kepada anak-anak, atas ketidaksabaran dalam menahan diri untuk tidak menjadi komentator yang bisa memadamkan nyala api semangat seorang anak yang ingin belajar banyak hal di dunia ini, semata karena menganggap bahwa si anak masih terlalu dini dan butuh bantuan. Akhirnya sekarang, saya berusaha kuat-kuat, menggigit bibir sendiri agar bisa menahan diri untuk tidak selalu terjun memberikan bantuan karena dengan demikian anak akan belajar lebih banyak lagi.

Semoga kami sebagai kedua orang tua, dapat mengemban amanah yang tidak boleh dilalaikan, agar menjadi sosok - sosok climbers yang memiliki daya juang dan tangguh dalam menghadapi semua tantangan di masa mendatang.

"Family Project", "Bunda Sayang", "IIP", "KuliahBunsayIIP", "My Family My Team", Game Level3

4/9/17

FAMILY PROJECT

_Review  Game Level  #3  Tantangan 10 Hari_
*Bagian 1*

*FAMILY PROJECT*

Selamat buat teman-teman yang sudah berhasil melampaui tantangan 10 hari di game level 3 ini tentang Family Project. Mulai dari bingung memahami apa itu family project, sampai akhirnya ada yang banyak ketagihan untuk memaknai setiap aktivitas menjadi  sebuah projek yang menyenangkan.

Family Project  adalah aktivitas  yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama   oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Jangan terlalu berat memikirkan sebuah family project, mulailah dari aktivitas-aktivitas sehari-hari yang biasa kita kerjakan di rumah, kemudian tambahkan manajemen dan organisasinya, jadilah sebuah family project.

Sehingga rumusnya adalah sebagai berikut

*ACTIVITY + MANAGEMENT AND ORGANIZATION = PROJECT*

*MANFAAT FAMILY PROJECT*
 

☘Family Project merupakan salah satu sarana pendidikan bagi seluruh anggota keluarga. Saat ini semakin sedikit keluarga yang menerapkan konsep pendidikan di dalam rumahnya, banyak diantara mereka menjadikan rumah sebagai sarana berkumpulnya anggota keluarga saja tanpa adanya aktivitas pendidikan. Sehingga makna berkumpulnya menjadi hambar, sekedar kumpul dan  kadang berlalu begitu saja tanpa arti.

 

☘Family Project juga menjadi salah satu sarana untuk membangun “bonding” di dalam keluarga. Tercipta ikatan batin antar anggota keluarga, sehingga hubungan menjadi semakin indah dan harmonis.

 

☘Family Project bisa juga digunakan sebagai sarana “Check Temperature" keluarga kita. Apakah hubungan antar anggota keluarga dalam kondisi adem ayrm berada di suhu normal atau sedang ada gesekan-gesekan yang selama ini tidak terlihat,  sehingga ada tantangan kecil saja selama menjalankan family project, suhu sudah memanas.

 

☘Family Project sarana menguatkan core values keluarga. Core Values tidak bisa hanya dituliskan besar-besar di kertas dan di tempel di dinding rumah. Core Values harus diujikan untuk mendapatkan sebuah keyakinan bahwa hal tersebut layak diperjuangkan. Ujian itu lewat family project.

 

☘Family Project apabila dijalankan denga sungguh-sungguh maka akan menjadi pijakan kita dan keluarga ke surga Apabila keluarga kita memang sedang berjalan menuju surga, maka tidak perlu menunggu sampai di akherat untuk merasakannya, kita bisa merasakannya sekarang saat di dunia bersama keluarga kita.

 

*BAGAIMANA CARA MEMBESARKAN FAMILY PROJECT ANDA?*

Diperlukan 2 hal penting untuk membesarkan Family Project yaitu KONSISTENSI dan KOMUNIKASI

 

*KONSISTENSI*

Konsistensi itu sangat bergantung pada hal-hal berikut ini:

a. Apakah family project ini membahagiakan seluruh anggota keluarga? ( Fun)

b. Apakah family project sejalan dengan values yang sedang diperjuangkan di dalam keluarga kita? ( values)

c. Seberapa unik family project anda dibandingkan family project yang lain? ( uniqueness)

d. Apa alasan kuat dari salah satu, sebagian atau seluruh anggota keluarga untuk menjalankan family project ini? ( Reason)

 
*KOMUNIKASI*

Komunikasi menjadi hal yang utama dalam rangka memperbesar family project kita, karena akan sangat bermanfaat untuk memantau dan membesarkan perjalanan family project dan membangun portofolio keluarga dalam menjalankan family project. Ada komunikasi internal dan ada komunikasi eksternal. Di dalam kedua komunikasi tersebut diperlukan dua hal yaitu MEDIA dan KONTEN

 
_Komunikasi Internal_

*MEDIA KOMUNIKASI*

*FAMILY FORUM*

Family forum adalah forum-forum ngobrol keluarga yang dibangun untuk mengetahui hobi anak-anak, aktivitas harian mereka, tren pengetahuan dan berita yang ada saat ini, kebutuhan seluruh anggota keluarga dan masalah atau tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi oleh seluruh anggota keluarga.

Family forum ini bentuknya bisa beragam mulai dari ngeteh bersama ( tea time), ngopi bersama ( coffee break), ngegame bersama ( play on), ngemil bersama ( snack time) dll.

*KONTEN KOMUNIKASI*

Kami perlu menekankan sekali lagi tentang konten komunikasi. Satu hal yang sangat perlu kita ingat adalah kalimat ini:

*LAKUKAN APRESIASI, BUKAN EVALUASI*

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan  membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang  melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.

 

*BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI*

 
Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di Ibu Profesional, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama

*MASTER MIND*

Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:

a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?

b. Apa yang sudah baik?

c. Minggu depan hal baik apa yang akan kita lakukan?

Perbanyaklah apresiasi di forum-forum keluarga ini sehingga memunculkan inovasi-inovasi kecil yang dilakukan secara istiqomah di setiap kesempatan.

_Komunikasi Eksternal_

Family Project yang kita lakukan di dalam keluarga sebaiknya kita share kan ke dunia luar bisa via presentasi di depan para ahli yang memang kompeten di bidangnya. Di komunitas-komunitas keluarga yang selalu peduli terhadap perkembangan anak, maupun di media sosial yang kita miliki.

Proses berbagi mimpi dan inspirasi ini sangat bermanfaat untuk membesarkan family project kita dan proses bertemunya anak-anak dengan para sang maestro di bidangnya.

*AMATI ,TERLIBAT, TULIS*

Tantangan 10 hari yang sudah teman-teman lakukan ini sebenarnya membuat kita agar mau mendokumentasikan setiap aktivitas anak-anak, sehingga kita sebagai orangtua bisa mengamati perkembangan anak-anak dengan valid berdasarkan data dan tulisan kita.

 
Kita tidak akan pernah membandingkan anak-anak kita dan keluarga kita, dengan anak-anak orang lain dan keluarga orang lain. Karena diri kita sudah terlalu sibuk untuk mengamati diri sendiri, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk mengamati rumput tetangga.

Salam Ibu Profesional,

 
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan:

https://padepokanmargosari.com/2017/04/02/catatan-perak-2017-1-family-project/

4/7/17

Tips Mengikuti Pembelajaran di Kelas Institut Ibu Profesional

📝 *Tips Mengikuti Pembelajaran di Kelas Institut Ibu Profesional* 📝

1⃣ Minta keridhoan suami dan anak-anak

2⃣Tetapkan *jam anda pegang gadget ( gadget hour)* sampaikan ke anak dan suami secara tertulis, patuhi.

3⃣ Tetapkan *gadget free area dan gadget free activity* misal, di ruang tidur, meja makan, saat mau tidur dan saat makan, letakkan HP jauh dari jangkauan kita dan patuhi.

4⃣ Menjelang tidur, tutup hari dengan menuliskan rencana esok hari, kapan melakukan rutinitas, kapan menjalankan aktivitas bersama keluarga dan dimaknai dengan menjalankan project bersama, kapan waktu peningkatan kualitas diri ( misal jadi fasilitator kelas, diskusi kelas dll).

5⃣ Segera tulis draft aktivitas hari ini, bisa di note, bisa di kertas apa adanya, bisa direkam, bisa difoto dll.

lakukan hal ini maksimum 15-30 menit saja.

6⃣ Segera kirimkan ke link tantangan dulu, baru sempurnakan saat kita punya waktu luang.

7⃣ Kembalilah bermain bersama anak dan suami, tanpa harus bolak balik intap intip HP.

Kuncinya FOKUS, fokus bermain, fokus Menulis

Selamaaat meningkatkan kualitas diri kita menjadi manager keluarga handal

POTENSI KECERDASAN MANUSIA DALAM MERAIH KESUKSESAN HIDUP (bagian 2-habis)

Cemilan Rabu Materi #3
05 April 2017

POTENSI KECERDASAN MANUSIA DALAM MERAIH KESUKSESAN HIDUP (bagian 2-habis) 🏵

Ketika diskusi terkait kecerdasan, biasanya yang sering disebut adalah kecerdasan intelektual (IQ), dan emosional (EI). Apakah berbekal IQ dan EI saja anak mampu meraih sukses? Jawaban atas pertanyaan ini sungguh bersifat relatif, bergantung apa dan bagaimana ukuran serta definisi sukses. Jika kesuksesan seorang anak manusia dimaknai sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang berguna bagi umat manusia, maka berbekal IQ dan EI saja tidaklah cukup.

📌Tahun 2000, Psikolog *Danah Zohar* dan suaminya *Ian Marshall* memunculkan kecerdasan “baru” yaitu *kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ)*. Apa itu Kecerdasan Spiritual? Melalui bukunya berjudul _SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence_, yang diterbitkan di London Januari 2000, dan sudah diterjemahkan (dan diterbitkan) dengan judul _SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan_, oleh Mizan (2001), Danah Zohar dan Ian Marshall mendefiniskan *kecerdasan spiritual (SI)* adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna (value), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SI adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EI secara efektif. Bahkan SI merupakan kecerdasan tertinggi.

Menurut Khavari, ada beberapa  *aspek  yang menjadi dasar kecerdasan spiritual*, yaitu:
1. Sudut pandang spiritual-keagamaan, artinya semakin  harmonis relasi spiritual-keagamaan kita kehadirat Tuhan,  semakin tinggi pula tingkat dan kualitas kecerdasan spiritual kita.

2. Sudut pandang relasi sosial-keagamaan, artinya kecerdasan  spiritual harus direfleksikan  pada  sikap-sikap sosial yang  menekankan  segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial.

3. Sudut pandang etika sosial.  Semakin beradab etika sosial  manusia semakin berkualitas kecerdasan spiritualnya.

Zohar mengidentifikasikan *sepuluh kriteria mengukur kecerdasan spiritual* seseorang, yaitu:
1. Kesadaran diri
2. Spontanitas, termotivasi secara internal
3. Melihat kehidupan dari visi dan berdaar nilai-nilai fundamental
4. Holistik, melihat sistem dan universalitas
5. Kasih sayang (rasa berkomunitas, rasa mengikuti aliran kehidupan)
6. Menghargai keragaman
7. Mandiri, teguh melawan mayoritas
8. Mempertanyakan secara mendasar
9. Menata kembali dalam gambaran besar
10. Teguh dalam kesulitan

*Ciri-ciri dari kecerdasan spiritual yang telah berkembang* dalam diri seseorang adalah sebagai berikut  (Zohar, 2001):
1) Kemampuan bersifat fleksibel
2) Tingkat kesadaran diri tinggi
3) Kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
4) Kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit
5) Kualitas hidup diilhami visi dan nilai-nilai
6) Enggan menyebabkan kerugian yang tidak perlu
7) Kecenderungan untuk melihat keterkaitan berbagai hal
8)Punya kecenderungan bertanya “mengapa” atau “bagaimana jika" untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
9) Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan hal yang umum.

Kecerdasan spiritual bersumber dari fitrah manusia itu sendiri. Kecerdasan ini merupakan aktualisasi fitrah manusia itu sendiri. Ia memancar dari kedalaman diri manusia, karena dorongan keingintahuan yang dilandasi kesucian , ketulusan, dan tanpa pretensi egoisme. Kecerdasan ini akan aktual jika manusia hidup berdasarkan visi dasar dan misi utamnya sebagai hamba Allah sekaligus khalifatullah di bumi.

Dari sini, bisa dipahami mengapa ulama-ulama besar zaman dahulu dengan teknologi yang masih sangat terbatas mampu melahirkan karya-karya yang tak lapuk besar yang tak lapuk dimakan zaman. Sebut saja Jabir Ibn Hayyan yang dikenal sebagai Bapak kimia. Ibn Sina yang karya fenomenalnya al-Qanun fi al-Tibbi menjadi rujukan utma ilmu kedokteran di Eropa selama berabad-abad.
Karya yang dihasilkan dari pancaran kecerdasan spiritual merupakan luapan pendaran cahaya dan karunia Ilahi dalam inti eksistensi diri manusia. Faktor-faktor eksternal hanyalah pendukung dari proses aktualisasi kecerdasan yang ada.

Namun pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa. Menurut Lisa Kumalanty, ada *tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual*, yaitu (1) tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali,
(2) telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan (3)bertentangannya/buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Untuk mengatasi krisis spiritual menurut Danah dan Ian dengan memberikan *“Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”.*
Enam jalan tersebut yaitu
1) jalan tugas,
2) jalan pengasuhan,
3) jalan pengetahuan,
4) jalan perubahan pribadi,
5) jalan persaudaraan, dan
6)  jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian.

Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah
(1) menyadari di mana saya sekarang,
(2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah,
(3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam,
(4) menemukan dan mengatasi rintangan,
(5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju,
(6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan,
(7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.

*Kiat-kiat mengembangkan SI anak*
(1) Jadilah kita fasilitator dan teladan yang baik,
(2) bantulah anak merumuskan misi hidupnya,
(3) baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,
(4) diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,
(5) libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,
(6) bacakan kisah perjuangan tokoh spiritual
(7) bawa anak untuk menikmati keindahan alam,
(8) ajak anak berinteraksi dengan orang yang memiliki keterbatasan, dan
(9) ikutsertakan anak dalam kegiatan sosial.

Mereka yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai setiap peristiwa dan masalah yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Dengan memberi makna yang positif, mereka akan mampu membangkitkan jiwanya untuk bersikap dan bertindak secara positif pula. Dan kecerdasan ini juga memungkinkan manusia untuk berpikir secara kreatif, berwawasan jauh kedepan, intuitif, tambah cerdas dan semakin berkesadaran.
Oleh karenanya, bagi mereka yang telah menggunakan kecerdasan spiritualnya, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, intuitif, bisa menerima segalanya secara apa adanya, dan hidupnya akan berbahagia.

📚Sumber bacaan

2005, Ach Saifullah dan Nine Adien Maulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, Yogyakarta: Katahati

https://www.google.co.id/amp/s/masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/amp

http://ummahattokkyo.tripod.com/duniaanak/kecerdasan_spiritual_anak.htm

http://www.kajianpustaka.com/2014/01/kecerdasan-spiritual.html

e-thesis.uin-malang.ac.id>08410107_Bab II

POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP. (Bagian 1)

Cemilan Rabu
29 Maret 2017

🏵POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP.
(Bagian 1)🏵

Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI,SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.

*Kecerdasan Intelektual (IQ)* adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti, kemampuan menalar; merencanakan masalah; berpikir; memahami gagasan; dan belajar.

Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.

Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa; menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.

Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori *multiple intelligence (MI)*yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi otonom. Masing-masing adalah : 1) linguistik, 2) music, 3) Matematik Logis, 4) Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal dan 7) Intra-Personal.

Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistic dan abstrak.


❓Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup? Jawabannya BELUM TENTU.

🖌Model kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif.
Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Daniel Goldman menawarkan pendekatan baru dalam memandang kecerdasan seseorang dengan mengenalkan *Kecerdasan Emosi* (emotional Intelligence) yakni kemampuan untuk mendeteksi dan mengenali emosi sendiri maupun orang lain.

Menurut Suharsono, Perbedaan nyata antara IQ dan EI terutama pada hal “apa” yang menjadi objek kecerdasan itu sendiri.  IQ lebih memandang objek-objek di luar diri manusia (out-ward klooking) sedangkan EI lebih memperhatikan fenomenal yang berada di dalam diri manusia (in-ward looking).

Khairul Ummah (2003) menyatakan bahwa kunci sukses yang sebenarnya tidak lain adalah kemampuan memahami emosi diri dan emosi orang lain serta memanfaatkan interaksi emosional ini semaksimal mungkin untuk tujuan positif yang hendak dicapai bersama.

Kecerdasan emosi penting untuk menangani situasi yang bermuatan emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Muatan dari emosi negatif serta dampak dari kepercayaan diri, keberanian dan kejujuran dapat diperoleh dengan baik melalui kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang jelas mengatur pola kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang diperlukan hingga mampu membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan emosi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan hubungan di masyarakat. Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang bisa menghambat proses pengendalian emosi.

❓Pertanyaannya, apakah dengan berbekal IQ dan EI saja anak mampu meraih SUKSES??

📌Bersambung ke part 2 (cemilan minggu depan)

📚Referensi:
Saifullah.A & Nine Adien MAulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, 2005, Yogyakarta: Ar-Ruz Media

https://tisna2008.wordpress.com/2009/05/26/antara-iq-eq-dan-sq/amp/

💻Disusun oleh:
Tim Fasilitator Nasional Kelas Bunsay IIP

Materi 3 : Pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup

🍓🍇 Cemilan Rabu #1 🍇🍓

Materi 3 : Pentingnya meningkatkan kecerdasan anak demi kebahagiaan hidup

*Kecerdasan Menghadapi Tantangan*

Adversity Quotient atau Adversity Intelligence merupakan sebuah teori yang merumuskan tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai KESUKSESAN. Adversity Quotient dikembangkan oleh seorang konsultan bisnis yang dikenal secara internasional bernama Paul G. Stoltz, PhD. Menurut Stoltz, dengan AQ kita akan lebih produktif, kreatif, dan kompetitif walaupun kita berada di tengah lingkungan yang terus bergolak. AQ menggabungkan riset psikologis kognitif, psikoneuroimunologi, dan neurofisiologi untuk membentuk suatu gambaran lengkap tentang bagaimana cara manusia dalam mendekati kesulitan. Sementara pada kenyataannya, kesulitan adalah suatu hal yang paling banyak dihindari. Namun dalam AQ, kesulitan justru sebuah TANTANGAN yang akan menjadikan hidup lebih hidup.

AQ merupakan sebuah alat ukur yang akan menentukan beberapa kondisi kontradiktif dalam diri seseorang.

Kondisi kontradiktif tersebut adalah pilihan. Bagi mereka yang berharap sukses maka sikap-sikap positiflah yang pasti diambil. Sebaliknya, mereka yang tidak bertekad untuk berhasil, sangat wajar jika kemudian hanya berkutat pada kondisi statis, tidak mau bergerak, cepat merasa puas, dan hanya mampu berdiam diri ketika menghadapi kegagalan. Selanjutnya, kondisi kontradiktif tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita tentang sikap-sikap yang bisa membangun AQ berikut:

● Ketangguhan
● Keyakinan
● Kekuatan
● Kepercayaan Diri
● Berbesar Hati
● Daya Tahan
● Daya Juang
● Tak pernah bosan untuk mencoba
● Berani memulai
● Kreatif
● Optimisme
● Ketekunan
● Keuletan
● Vitalitas
● Orientasi masa depan
● Kaya akan berbagai kemungkinan

*Antara AQ dan Pendakian*

Pendakian adalah sebuah analogi cukup tegas bagi Adversity Quotient. Pendakian yang dimaksud adalah proses. Proses apa saja kira-kira?

1. Proses dari tidak ada menjadi ada
2. Proses dari tidak punya menjadi punya
3. Proses dari tidak bisa menjadi bisa
4. Proses dari sikap bergantung menuju kehidupan yang lebih mandiri
5. Proses dari sebuah harapan mewujud kenyataan
6. Proses dalam menggerakan tujuan hidup
7. Dan proses-proses lainnya.

Mendaki disini bukanlah mendaki sebuah gunung dalam arti denotatif, melainkan mendaki gunung kehidupan dengan segala hambatan dan rintangan. Mendaki gunung kehidupan yang kaya dengan liku-liku perjalanan. Mendaki gunung harapan dengan segala onak dan durinya. Mendaki gunung impian dengan segala bentuk upaya dan kesungguhan.

Stoltz menganalogikan tiga jenis kepribadian manusia yang bisa menggambarkan kemampuan AQ, yaitu Quitters (berhenti), Campers (berkemah), dan Climbers (pendaki).

*1. Quitters (Berhenti)*
Mereka yang disebut quitters adalah orang yang berhenti melakukan pendakian jauh sebelum menuju puncak atau bahkan menolak terhadap pendakian dan memutuskan untuk berdiam diri.

● menolak untuk mendaki lebih tinggi
● gaya hidupnya datar dan tidak 'lengkap'
● bekerja sekedar cukup untuk hidup
● cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya
● jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati
● mereka cenderung melawan atau lari dalam menghadapi perubahan
● terampil menggunakan kata yang sifatnya membatasi, seperti 'tidakmau'
● kemampuannya kecil, tidak memiliki keyakinan akan masa depan, kontribusinya kecil

*2. Campers (Berkemah)*
Mereka yang disebut campers adalah orang yang menghentikan perjalanan (pendakian) dengan dalih ketidakmampuan atau sudah merasa cukup. Mereka beranggapan bahwa berhentinya pendakian adalah sebagai tanda telah dilakukannya berbagai upaya dan pengorbanan.

● mereka mau mendaki, meskipun akan 'berhenti' di pos tertentu dan merasa cukup sampai di situ
● mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu
● masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat dan beberapa usaha
● mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan
● menahan diri terhadap perubahan
● menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis, misalnya 'ini cukup bagus'; 'cukup sampai di sini saja'
● meski sudah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan  erhenti juga pada suatu tempat dan 'berkemah' di situ

*3. Climbers (Pendaki)*
Mereka yang disebut climbers adalah orang yang terus bertahan melakukan pendakian sampai pendakian tersebut benar-benar menuju puncak. Mereka tidak menghiraukan lelah dan letih. Mereka juga tidak menghiraukan harta dan tenaga yang telah dikorbankan. Bagi mereka, totalitas dan komitmen adalah keniscayaan. Oleh karena itu, segala bentuk rintangan dan hambatan dinikmatinya sebagai tantangan yang akan mendongkrak dirinya untuk menjadi pahlawan yang sebenarnya.

● mereka membaktikan dirinya untuk terus 'mendaki', pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan
● hidupnya 'lengkap' karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya
● menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki semangat tinggi dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup
● berani menjelajahi potensi-potensi tanpa batas
● menyambut baik setiap perubahan
● bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata yang penuh kemungkinan, berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan caranya, berbicara tentang tindakan
● memberikan kontribusi besar karena bisa mewujudkan potensi yang ada pada dirinya
● tidak asing dengan situasi sulit

Kaitan AQ dengan pendakian, salah satu tugas utama kita sebagai orangtua adalah meyakinkan buah hati kita untuk mampu bertahan melewati semua tahapan kehidupan dengan segala problema dan dilematikanya. Selain itu, kita juga mampu meyakinkan kepada mereka bahwa segala sesuatu tidak bisa didapat secara instan. Segala sesuatu tidak terjadi secara tiba-tiba karena semua ada proses yang mengiringinya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚 Sumber bacaan : 

Yoga, Miarti. Adversity Quotient, agar anak tak gampang menyerah. Tinta Medina

http://personalityfajar.wordpress.com/tag/adversity-quotient/

Tantangan 10 Hari PROJEK KELUARGA

GAME LEVEL 3

TANTANGAN 10 HARI

❤ *PROJEK KELUARGA* ❤

Salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan adalah projek keluarga.

📌 APA ITU PROJEK KELUARGA

*Projek keluarga* adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama   oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

📌 CIRI-CIRI PROJEK KELUARGA

a.    Fokus pada proses, bukan pada hasil
b.    Sederhana
c.    Menyenangkan
d.    Mudah – Menantang
e.    Memiliki durasi pendek

📌 KOMPONEN PROJEK KELUARGA

a.    Sasaran
SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reliable, Tangible
Maksimum 3 sasaran.
b.    Sarana
Alat dan Bahan yang diperlukan.
Dana yang diperlukan ( apabila ada)
c.    Sumber Daya Manusia
Penanggungjawab
Pelaksanan
d.    Waktu
Jadwal Pelaksanaan
Durasi
e.    Nama Projek
Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.

📌 BAGAIMANA CARANYA MEMANTAU PROJEK KELUARGA

*Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI*

Apabila sudah menjalankan projek keluarga maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, apabila projek memiliki durasi lebih dari 1 minggu – 1 bulan. Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan  membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal  yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang  melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.

📌 BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI

Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di IbuProfesional, forum keluarga seperti ini  terkenal dengan nama *“MASTER MIND”*. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:
a.    Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?
b.    Apa yang sudah baik?
c.    Minggu depan apa yang akan kita lakukan?

📌 CONTOH PROJEK KELUARGA

*Nama Projek*  : WARNAI DUNIA WARNAMU

*Gagasan* : Sudah 2 tahun cat tembok rumah tidak pernah berganti, kali ini anak-anak punya ide, dengan diskusi pertanyaan berikut, mengapa cat rumah itu kok satu warna? Bagaimana jika rumah itu warna-warni? Mengapa tidak kita cat tembok rumah kita warna warni?

*Pelaksanaan* : Tentukan durasi waktunya, misal  hari Minggu, 26 Maret 2017, tentukan penanggungjawabnya (PIC), kasih jabatan misal  “Jendral Cat Warna”. Berikan ruang sang jendral untuk mengambil keputusan terhadap segala tantangan yang muncul selama projek berjalan.

*Nama Projek* :  SUNDAY LIBRARY

*Gagasan* : Anak-anak sangat senang membaca, banyak buku yang sudah terbaca, tidak dibaca lagi. Anak-anak ingin berbagi manfaat . Mengapa perpustakaan itu harus bentuk bangunan? Bagaimana jika perpustakaan itu bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa tidak kita membuat perpustakaan keliling setiap minggu di event Car Free Day?

*Pelaksanaan* : Tentukan waktunya, setiap hari minggu, tentukan PIC mingguannya, kasih jabatan misal “Library man”, berikan ruang sang library man dan tim untuk menghadapi tantangan  yang muncul selama projek berjalan

*AMATI, TERLIBAT, TULIS*

📌 AMATI
*Aspek Komunikasi Produktif*
Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?

*Aspek Kemandirian*
Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?

*Aspek Kecerdasan*
Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? ( IQ), bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ?(Emotional Intellegence/EI), Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? ( Spiritual Intellegence. SI), Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang ( Adversity Intellegence,AI)

📌 TERLIBAT
Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.

📌 TULIS
Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek., baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa anda setiap hari.

Selamat mengunci ilmu dengan amal anda,

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Setorkan dokumentasi family project Anda ke
........

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
󞁓udah belajar family project kan? Yuk kita buat family project ala keluarga kita

📋 Tahap persiapan:

📌Perbanyaklah family forum untuk belanja gagasan proyek apa yg akan anda lakukan.
📌Amati aktivitas kehidupan sehari-hari dan ikat maknanya menjadi proyek keluarga
📌Tetapkan tujuan proyek ini, sesuaikan dengan rentang usia anak.
📌Diskusikan, sehingga tiap anggota keluarga mempunyai peran masing masing.
📌Tetapkan waktu pelaksanaannya

📋 Tahap pelaksanaan
📌Tuliskan mulai dari proses persiapan sampai saat melaksanakan proyek

📌Terlibatlah aktif dari persiapan - proses pelaksanaan - apresiasi selama projek berjalan

📌Tuliskan pengalaman anda membuat projek selama min.10 hari pertama game level 3 kali ini.

📋 Pasca pelaksanaan
📌Lakukan Mastermind sebagai bentuk apresiasi untuk proyek keluarga, apa yang bisa kita dan anak-anak pelajari dari proyek keluarga tersebut.

📌Proyek keluarga bisa dilakukan harian (satu hari satu proyek) atau bersifat single proyek (proyek selama 10 hari)

📝 Ceritakan pengalaman teman-teman semua dalam blog/platform lainnya disertai hashtag:
#TantanganHari...
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

📝Bagi anda yang mengerjakan di blog, tambahkan label:
*Bunda Sayang*
*My family my team*
*Ibu Profesional*
*IIP*

📝Kirimkan tulisan teman-teman ke link berikut.....

Selamat berkarya bersama keluarga

*AMATI, TERLIBAT, TULISKAN*