Materi Matrikulasi IIP Depok sesi #6 dan hasil diskusi Selasa, 22 Januari 2016 Pukul 20.00-21.00
___________________
*IBU MANAJER KELUARGA HANDAL*
_Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6_
*Motivasi Bekerja Ibu*
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
*_kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita_*
Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?
🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.
*Ibu Manajer Keluarga*
Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
*_Saya Manager Keluarga_*
kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.
🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
🍀Buatlah skala prioritas
🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.
*Menangani Kompleksitas Tantangan*
Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :
*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
*_b.ONE BITE AT A TIME_*
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
*_c. DELEGATING_*
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
*_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_*
_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.
*Perkembangan Peran*
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih
*_SEKEDAR MENJADI IBU_*
Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata
*BERUBAH atau KALAH*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015_
_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_
_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_
*link Youtube:* https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM
----------------------------------------------------------------------------
*Tanya Jawab*
1⃣ *mimil*
Bun, seringkali ketika saya telah membuat schedule dan menjalankannya, kadang merasa seperti terjebak dalam rutinitas, ada rasa bosan, bagaimana cara mengubah kegiatan yg sudah rutin agar tidak hanya menggugurkan kewajiban dan kita tidak merasa monoton?
Contoh, memasak, mengantar anak ke sekolah, padahal saya tau dan niatnya sudah bulat. Tp kadang diri masih merasakan ada kebosanan. Bagaimana memelihara niat agar bekerja dengan hati? Bahwa semua ini bukan beban dan bukan rutinitas yg bikin bosan sehingga timbul keinginan menghindarinya
Terimakasih
➡1⃣ Jenuh dg rutinitas itu hal yg sgt wajar mb mimil, saya pun kadang mengalaminya. Yg saya lakukan adalah tafkiyatun nafs, mengingat kembali peran hidup saya di dunia ini, lalu saya melihat lg jadwal harian saya, apakah ada yg perlu diapdet spy saya lbh nyaman terutama menyangkut tugas2 rutin harian, apakah saya bisa membuat rutinitas tsb menjadi aktivitas yg menyenangkan, apakah saya sdh alokasikan waktu untuk refreshing sejenak dr rutinitas, dsb ✅
2⃣ *siti muslihah*
Pertanyaan: Bagaimana cara meningkatkan kompetensi diri pada periode galau (misalnya saat fisik drop, tanpa ART utk delegasi , sementara suami jg sibuk kerja atau kerja nya LDR) kadang manusiawi merasa jenuh dengan rutinitas ranah domestik, bahkan kadang teringat juga ingin kembali bisa kerja di ranah publik (bidang yg juga membuat mata berbinar). ?
➡2⃣ Lihat jawaban no.1 ya ☺
Saya ingin menanggapi pertanyaan no. 1&2
Jenuh itu sangat wajar, maka saat kita jenuh, kita coba *berhenti sejenak* (berpikir) untuk mengatur strategi yang lebih kreatif dan menyenangkan.
Lalu bagaimana jika mengalami kelelahan?
Maka silahkan bunda cek dan ricek, pasti ada *ketidakseimbangan* disana..
Entah itu kita kurang istirahat, asupan kita kurang sementara energi banyak terbuang habis, pikiran kita butuh di _refresh_ atau kita butuh _me time_. Coba diskusikan dengan suami dan anak-anak tentang hal ini.
3⃣ *ulfa*
Mengenai pendelegasian tugas. Yang ingin saya tanyakan adalah tentang pendelegasian tugas domestik kepada ART.
Bertahun tahun kemarin, saya bekerja hampir full day. Karena selain mengajar di full day school juga mengelola sebuah yayasan. Saya punya ART di rumah yang hanya membantu saya dalam tugas domestik.
Sementara urusan anak, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan suami.
Sekarang saya resign dan merasa sangat tidak terampil dalam melaksanakan tugas domestik. 😔
Akhirnya saya memutuskan memberhentikan ART dengan hormat karena ingin belajar kembali menghandle pekerjaan rumah.
Tapi suami saya berharap kami tetap punya ART karena beliau berharap saya lebih fokus dengan pengembangan diri saya
(seperti yang saya tulis di NHW#1).
Mohon saran..
Apakah saya harus mengikuti keinginan suami saya memilki ART (pulang pergi) atau saya tetap berusaha berlatih agar target saya tercapai (menjadi buncek) ?
Jazaakillaah khayran katsir..
➡3⃣ teh ulfa, menjadi bunda cekatan bukan berarti semua harus ditangani sendiri ☺
Kalo sanggup (=mampu dan mau) akan lbh baik , krn kita akan walk the talk.
Tapi kalo tidak sanggup dan butuh bantuan, maka kita harus meningkatkan peran kita dg mendelegasikan tugas kpd ART, tantangannya adalah bgmn mendidik ART spy bisa melaksanakan tugasnya sesuai dg standar kita, itu juga salah satu target buncek. ✅
4⃣ *Wiwit*
Saya merasa tertampar dg materi sesi ke-6 ini. Deeply Question! Apa motivasi ibu bekerja..
Tetapi saya masih merasa kesulitan utk cara yg ke-3 menangani kompleksitas tantangan menjadi ibu,yaitu Delegating..terkadang saya ingin sesuai dg standar saya saja (cenderung perfeksionis).mhn pencerahan dr tim fasilitator?
Jazakillah khairan katsiraa 😊🙏🏼
➡4⃣ Lakukan pendelegasian tsb secara bertahap mb wiwit, sama spt kita melatih anak kita.
Latih -percayakan - kerjakan -tingkatkan - latih lagi -percayakan lagi - tingkatkan lagi dst sampai mencapai standar yg kita mau ✅
5⃣ *maria susanti*
Apakah tolak ukur kita BERUBAH atau KALAH itu mesti 10.000 jam terbang dulu ya?Kalau masih seperti itu juga aktifitas kita tiap hari berulang2 sampe bertahun berarti kita sudah dibilang KALAH ya mba. Bisa tolong dijelaskan mba?
➡5⃣ Kalo menunggu 10rb jam terbang baru tersadar kalo KALAH kok ya sayang banget ya mba 😅
Bisa kita cek dari milestones yg sdh kita buat, jika tidak ada peningkatan segera evaluasi ✅
6⃣ *Nana*
Saya tertarik dengan penjelasan ibu septi di bagian pengembangan peran. Apakah ada tips nya, bagaimana agar kita bisa memulai, menemukan dan memperbanyak peran peran yang bisa kita perkaya bagi seorang ibu?
➡6⃣ Peran seorang ibu itu sangaat banyak, mengurus finansial, guru, koki, perawat dsb.
Pilih slh satu dr peran tsb , lalu tingkatkan levelnya secara bertahap mulai dari sekarang ✅
7⃣ *Diyan*
saat masih bekerja saya lebih saklek dg kerapihan rumah, jadi sering ngomel kl saat pulang rumah berantakan, terutama saat suami di rumah bersama anak. Saat sudah resign, saya berusaha untuk menurunkan target kerapihan rumah, lebih santai dan tidak pake ngomel-ngomel lagi. Tapi dalam hati saya ngedumel sendiri, saya jadi merasa ini tidak sehat, tapi ga mau pake ngomel jg. Saya cenderung cepat naik darah kalo kata orang. Jadi bagaimana saya sebaiknya bersikap ya mbak?
➡7⃣ Pilih kondisi yg paling nyaman buat mb Diyan 😘✅
8⃣ *tantia*
Bagaimana menyikapi/ apa yg harus qt lalukan jika ada tamu yg tdk d undang, misal tetangga tanpa janjian datang, dan ngobrol panjang lebar sementara agenda qt belum selesai? D sisi lain tetangga tersebut juga butuh bantuan dr qt
➡8⃣ Kalo ini terjadi pada saya, saya akan luangkan sejenak waktu untuk tetangga tersebut , katakan 15-30 menit. Setelah itu saya akan katakan kalo ada urusan yg harus saya selesaikan, ngobrolnya disambung lain waktu ✅
9⃣ *Nia*
apakah bunda sebagai manajer keluarga harus bisa melakukan semua hal dengan tangannya sendiri? Di saat anak2 masih balita dan kndisi yg ga memungkinkan utk ada asiten rumah tangga atau sarana bantuan lainnya dlm rangka pendelegasian tugas, gmn mengatur semua tugas ibu? Skala prioritasnya bgmn?
➡ 9⃣ Prioritaskan yg paling PENTING dan MENDESAK dulu mb Nia , bertahap sampai yg paling TIDAK PENTING dan TIDAK MENDESAK
🔟 *laela*
"Pendidikan anak sebagai aktivitas utama seorang ibu , jika harus mendelegasikan ke orang lain adalah pilihan terakhir"
Apakah disini bisa diartikan sebagai Home schooling adalah pilihan yang terbaik?
Atau tergantung pada anak, dan bagaimana melihat anak lbh cocok HS atau sekolah utk anak usia preschool (4-6 th)
➡🔟 Menurut saya bukan soal HS atau sekolah formal, pd dasarnya amanah yg kita emban sbg org tua adalah "Mendidik Anak" dengan ilmu dan akhlak yg baik. Jika kita merasa ilmu kita kurang, maka tugas kita untuk selalu upgrade kemampuan tsb ✅
*diskusi tambahan*
🔉 *Tria*
Jd sebenarnya, apakah kita yg menentukan kita sanggup utk HS atau anak yg menentukan dia mao sekolah formal atau HS dg kita di rumah?
➡Saya juga sempat galau menginginkan pendidikan yg terbaik utk anak2,, di saat pilihan utk hs menggiurkan.
Tapi mmg benar schooling atw unscholling,, mendidik adalah kewajiban ortu,, home education adalah keharusan bagi kita
➡Saya pribadi menyerahkan pilihan tsb kepada anak. Jika dia senang dg sekolah formalnya maka saya ajan berkolaborasi dg guru2nya, saling melengkapi , itu yg saya lakuian skrg
➡bu madrasah utama dan pertama,, sekolah hanya ikhtiar utk mengisi waktu anak saat sy tinggal bekerja di ranah publik.
[11/22, 8:54 PM] Septi Peni Wulandani: 2⃣ Mbak Prima, tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yg saya lakukan saat enes ara kecil ( jarak mereka 15 bln) dan saya tanpa ART
Saya komunikasikan dulu ke pak dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yg paling membuat pak dodik bahagia, silakan diurutkan.
1⃣Anak terurus dengan sangat baik
2⃣Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3⃣Rumah rapi
Ternyata pak dodik memilih urutan 1⃣3⃣2⃣ akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan unt bisa belajar setahap demi setahap dan satu persatu, sampai 3 kompetensi dasar tsb bisa saya penuhi kemampuan minimalnya.
Saya tambahkan sedikit. Tahapannya ya yg sdh pernah saya lakukan.
Pak Dodik itu tipe suami yg ingin rumahnya rapi terus.
Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman 💪
Beliau pilih anak diurutan pertama
Tapi setiap jam 7 malam rumah rapi ya ( krn pak dodik waktu itu pulang kantor jam 7)
Saya penuhi hal tsb selama 3 bulan pertama
Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya, sampai 3 kompetensi dasar bisa terpenuhi semua. Kalau tidak bisa semua, kembali ke yg utama dan pertama.
Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dg orang sekeliling kita, terurama yg masuk di lingkaran 1 kita. ✅
_selanjutnya ke pertanyaan apakah pernah gagal?, *Sering*_
_karena dulu nggak pernah bikin jadwal harian_
👇
[11/22, 9:12 PM] Septi Peni Wulandani: 3⃣ Mbak Ratna, yg perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah "kesungguhan praktek" tidak hanya "sekedar praktek".
Shg apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita. Bermain dg mereka shg bisa menambah *kompetensi* kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sbg ibu, maka sdh masuk hitungan jam terbang.
Karena ada ibu yg bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.
🍀Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat " track" kita hari ini.
Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yg menyesuaikan mereka.
Kemudian di sela waktu longgar kita, kembqli ke jadwal yg sdh kita susun.
Itu baru namanya flexible. Seperti lingkaran karet, ketika tracknya melingkar dg diameter tertentu, bisa kita regangkan dg diameter di luar track, tetapi habis itu bisa kembali lagi ke track semula.
Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tdk serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.
Semoga analog ini dipahami
Ini yg kadang kita banyak misspersepsi,
"Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yg flexible saja"
Apa yg dimaksud dg flexible?
Biasanya banyak yg menjawab :
" santai, mengalir tanpa rencana" dan yg sejenis.
Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.
Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, terlihat bahwa kita TIDAK PUNYA _TRACK_ YANG BENAR,
maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus kemana angin berhembus.
✅
11/22/16
_NICE HOMEWORK #6_ *BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*
_NICE HOMEWORK #6_
*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*
Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal.
Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.
Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu
*_RUTINITAS_*
Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita _Merasa Sibuk_sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.
Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
1⃣ Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
2⃣Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
5⃣Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
6⃣Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)
7⃣Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
_SELAMAT MENGERJAKAN_
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*
Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal.
Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.
Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu
*_RUTINITAS_*
Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita _Merasa Sibuk_sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.
Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :
1⃣ Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting
2⃣Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
5⃣Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
6⃣Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)
7⃣Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
_SELAMAT MENGERJAKAN_
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
11/21/16
*IBU MANAJER KELUARGA HANDAL* _Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6_
*IBU MANAJER KELUARGA HANDAL*
_Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6_
*Motivasi Bekerja Ibu*
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
*_kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita_*
Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?
🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.
*Ibu Manajer Keluarga*
Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
*_Saya Manager Keluarga_*
kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.
🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
🍀Buatlah skala prioritas
🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.
*Menangani Kompleksitas Tantangan*
Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :
*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
*_b.ONE BITE AT A TIME_*
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
*_c. DELEGATING_*
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
*_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_*
_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.
*Perkembangan Peran*
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih
*_SEKEDAR MENJADI IBU_*
Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata
*BERUBAH atau KALAH*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015_
_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_
_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_said
https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM
_Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #6_
*Motivasi Bekerja Ibu*
Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu
*_kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita_*
Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?
🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?
🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.
*Ibu Manajer Keluarga*
Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
*_Saya Manager Keluarga_*
kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.
🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
🍀Buatlah skala prioritas
🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.
*Menangani Kompleksitas Tantangan*
Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :
*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. - Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini - aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
*_b.ONE BITE AT A TIME_*
Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan
*_c. DELEGATING_*
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
*_ Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda_*
_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.
*Perkembangan Peran*
Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih
*_SEKEDAR MENJADI IBU_*
Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:
🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.
Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.
Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.
Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata
*BERUBAH atau KALAH*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_:
_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015_
_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_
_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_said
https://youtu.be/Cr9JSJS7CIM
*Review Nice Homework sesi #5 dan diskusi* 21 November 2016 Matrikulasi IIP Depok Batch #2 📝BELAJAR CARA BELAJAR ( Learning how to Learn)📝
*Review Nice Homework sesi #5 dan diskusi*
21 November 2016
Matrikulasi IIP Depok Batch #2
📝BELAJAR CARA BELAJAR ( Learning how to Learn)📝
Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah
♦ Bingung, ini maksudnya apa?
♦ Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
♦ Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
♦ Masih ada yang merasakan hal lain?
Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap *“belajar cara belajar”*.
Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah
*“Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh”*
Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.
Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu “OUTSIDE IN” informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.
Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan “exit procedure” andaikata di tegah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.
Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yangbertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA.
Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?
☘ Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.
☘ Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.
☘ Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.
Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.
Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
✏ Memberikan teori tentang desain pembelajaran
✏ Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
✏ Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
✏ Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.
tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.
Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya
*‘ADAB itu sebelum ILMU’*
Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong
Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.
2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`
tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.
3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)
Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.
Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sumber Bacaan :
Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #2,2016
Materi Matrikulasi IIPbatch #2, Belajar cara Belajar, 2016
Materi Matrikulasi IIP batch #2, Adab Menuntut Ilmu, 2016
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
1⃣ Bun Marie
Bagaimana cara kita membuat design pembelajaran yang merangsang anak2 menyukai materi tersebut? Dan selanjutnya bisa belajar dengan penuh rasa keingintahuan (inside out)?Mengingat selain bidang2 utama yg disukai anak2 misal sepakbola atau math, atau yg lainnya, anak2 perlu didukung dengan ilmu/pengetahuan lain misalnya studi sosial, public speaking, bahasa dll.
➡ Mbak Marie, sebetulnya mbak Marie lah yang paling tahu bagaimana caranya. Apabila sudah mengetahui kesukaannya anak-anak, jika melihat demikian maka coba kaitkan pembelajaran bidang lain yang dibutuhkan itu dari sudut pandang yang disukai. Misalnya jika memang suka sepakbola saat membahas sepakbola, diskusi lah tentang klub bola, klub international, dan lain lain yang bisa dijadikan pemantik rasa ingin tahu bidang sosial. Saat bicara klub int'l bicarakan bagaimana pemain itu menjawab pertanyaan di press conference misalnya, sebagai pembelajaran atau hikmah public speaking. Hanya ide Dan hanya salah satu cara, sekali lagi sangat bergantung pada kondisi sendiri.
2⃣ Bun Wiwit
MasyaAllah keren bgt tugas Nhw 5 ini bikin tambah dalam mikirnya..
Dr review nhw5 sy br tahu bahwa ada teknik tidak terburu2 memberikan jawaban krn mematikan rasa ingin tahu.
Mhn penjelasan dr tim fasil berapa lama sebaiknya yg tepat hingga memberikan jawaban?.dan saya krg paham dg exit procedure yg dimaksud.
Jazakilah khair 😊🙏🏼
➡ Bunda Wiwit, menurut Bunda bagaimana? Coba lihat gelagat dan bahasa tubuh anak-anak, mereka Pasti mengirim sinyal mencari tahu.
Bergerak, berpikir, mencari, maka yang bengkok saja kita luruskan.
Exit procedure adalah konsep tentang "aturan menyerah/ menyudahi" atas ilmu dan pekerjaan yang sedang kita tekuni. Kita sendiri yang menentukan. Mengapa dan bagaimana menyudahi.✅
3⃣ Ardiani Putri
Untuk tingkatan belajar ilmu apakah erat kaitannya dengan jam terbang 10.000jam yaa? Jadi klo saya masih sombong berarti ilmu saya masih cetek gituu yaaa bun? Hehe
➡ Mbak Putri, mungkin ya mungkin juga tidak. Karena tingkatan itu adanya di hati. Ukuran jam terbang adalah kuantitas latihan. Tetapi kualitas hari tercermin dari sikap. Banyak juga ahli yang masih merasa haus ilmu masih suka belajar dan masih merasa bodoh.✅
4⃣ Dinda
Saya tipe yg senang dgn berbagai macam hal/tantangan baru,, terkadang saya melakukan beberapa macam kegiatan di waktu bersamaan dan hasil nya baik.
Apakah ini diperbolehkan?
Mengingat ada istilah 1 ilmu bisa professional jika dilakukan selama 10.000 jam terbang,?
Terima kasih
➡ Mbak Dinda, jika itu cara belajar mba Dinda, teruskan saja dan tingkatkan, barangkali keahlian mbak Dinda menjadi kolaborator atau integrator ide dan kegiatan ✅
5⃣ Bun Feby
Selama mengerjakan nhw di kelas matrikulasi saya memang berusaha menahan diri dari melihat apa/bagaimana rekan2 lain mengerjakannya, saya baru akan lihat hasil karya rekan2 lain setelah saya selesaikan tugas saya, juga saat mengerjakan nhw#5. Cara ini biasa saya lakukan saat saya ingin mengukur diri sendiri, melihat bgm pemahaman diri saya, karena saya paham bhw kadang saya mudah "terdistorsi" oleh orang lain, yg akhirnya saya mengerjakan sesuatu dengan cara orang lain, bukan cara saya. Saat saya melihat tugas rekan2 di nhw#5, terlihat sekali majemuknya pemahaman rekan2, dan terus terang ada beberapa yang menarik sekali buat saya dan ingin saya contoh.
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana pendapat Mbak Diah/fasil mengenai cara saya ini? Sampai sebenarnya kita bisa menahan diri untuk tidak "mencontoh" orang lain, atau bahkan ingin ganti haluan (bisa juga diartikan, kapan sebenarnya menerapkan exit procedure)?
Jazaakillah khairan afwan puanjang ;)
➡ Bunda Feby, silakan saja jika nyaman dengan cara tersebut. Sebetulnya memang tidak ada ilmu baru di dunia ini. Tidak ada _rocket science_ jika terinspirasi dari teman-teman dan terkait dengan misi hidup maka jalankan saja ✅
6⃣ Bunda Tsabit
Bagaimana kita bisa berhasil smp tahapan ke 2,3, krn tahapan 1 Pnyakit sombong adalah hal yg paling menghambat ketahap selanjutnya, Dan sombong adlh penyakit yg banyak tdak disadari oleh pelakupelaku
➡ Bunda Tsabit, yuk kita selalu *stay hungry stay foolish* ✅
7⃣ Bun Esther
zaman sekarang banyak orang yang berada di tingkat pertama, merasa tahu segala dan bicara k publik padahal belum tentu yang disampaikan benar. sebaliknya banyak yang di tingkat ketiga, memakai ilmu padi. makin belajar makin berasa tidak tahu jadi ragu-ragu untuk menyampaikan k orang lain karena merasa kurang ilmu. bagaimana kita menyikapi hal ini?
➡ Bunda Esther, untuk menilai dimana posisi satu dua tiga perlu pendalaman dan kejernihan hati. Karena biasanya orang yang sudah tingkatan ketiga justru sangat gemar membagi ilmu, wallahu'alam. ✅
➡ Yang mempengaruhi seseorang naik dari tingkatan ke tingkatan berikutnya adalah *_amalan ilmu_*dan *_asas kebermanfaatan_* ilmu tersebut bagi kerahmatan alam semesta.
Kualitas dan kuantitas ilmu tidak akan berpengaruh banyak apabila "tidak diamalkan" dan "tidak memberikan manfaat" bagi alam semesta.
Karena
*_sejatinya orang yang berilmu akan semakin mendekatkan dirinya kepada sumber ilmu ( DIA yang MAHA berilmu)_*
sehingga dirinya makin merasa tidak ada apa-apanya, senantiasa ingin mencari ilmu terus menerus.
Dan janjiNya pasti
_Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_
Maka ilmu itu merupakan petunjuk untuk *_meningkatkan keimanan_* dan petunjuk untuk *_beramal_*
Apabila kita selalu menuntut ilmu tetapi dua hal tersebut tidak pernah naik, maka ada yang harus kita perbaiki, entah "kebersihan jiwa dan diri kita dalam menuntut ilmu" atau "keberkahan ilmu itu sendiri".
Maka
*_ADAB itu sebelum ILMU, dan ILMU sebelum AMAL_* Semoga makin jelas tergambarkan sekarang✅
#jawaban bu Septi tentang berada di tingkatan ilmu manakah kita
21 November 2016
Matrikulasi IIP Depok Batch #2
📝BELAJAR CARA BELAJAR ( Learning how to Learn)📝
Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah
♦ Bingung, ini maksudnya apa?
♦ Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
♦ Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
♦ Masih ada yang merasakan hal lain?
Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap *“belajar cara belajar”*.
Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah
*“Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh”*
Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.
Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu “OUTSIDE IN” informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.
Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan “exit procedure” andaikata di tegah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.
Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yangbertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA.
Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?
☘ Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.
☘ Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.
☘ Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.
Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.
Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
✏ Memberikan teori tentang desain pembelajaran
✏ Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
✏ Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
✏ Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.
tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.
Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.
Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya
*‘ADAB itu sebelum ILMU’*
Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:
1⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong
Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.
2⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`
tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.
3⃣ Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)
Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.
Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sumber Bacaan :
Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #2,2016
Materi Matrikulasi IIPbatch #2, Belajar cara Belajar, 2016
Materi Matrikulasi IIP batch #2, Adab Menuntut Ilmu, 2016
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
1⃣ Bun Marie
Bagaimana cara kita membuat design pembelajaran yang merangsang anak2 menyukai materi tersebut? Dan selanjutnya bisa belajar dengan penuh rasa keingintahuan (inside out)?Mengingat selain bidang2 utama yg disukai anak2 misal sepakbola atau math, atau yg lainnya, anak2 perlu didukung dengan ilmu/pengetahuan lain misalnya studi sosial, public speaking, bahasa dll.
➡ Mbak Marie, sebetulnya mbak Marie lah yang paling tahu bagaimana caranya. Apabila sudah mengetahui kesukaannya anak-anak, jika melihat demikian maka coba kaitkan pembelajaran bidang lain yang dibutuhkan itu dari sudut pandang yang disukai. Misalnya jika memang suka sepakbola saat membahas sepakbola, diskusi lah tentang klub bola, klub international, dan lain lain yang bisa dijadikan pemantik rasa ingin tahu bidang sosial. Saat bicara klub int'l bicarakan bagaimana pemain itu menjawab pertanyaan di press conference misalnya, sebagai pembelajaran atau hikmah public speaking. Hanya ide Dan hanya salah satu cara, sekali lagi sangat bergantung pada kondisi sendiri.
2⃣ Bun Wiwit
MasyaAllah keren bgt tugas Nhw 5 ini bikin tambah dalam mikirnya..
Dr review nhw5 sy br tahu bahwa ada teknik tidak terburu2 memberikan jawaban krn mematikan rasa ingin tahu.
Mhn penjelasan dr tim fasil berapa lama sebaiknya yg tepat hingga memberikan jawaban?.dan saya krg paham dg exit procedure yg dimaksud.
Jazakilah khair 😊🙏🏼
➡ Bunda Wiwit, menurut Bunda bagaimana? Coba lihat gelagat dan bahasa tubuh anak-anak, mereka Pasti mengirim sinyal mencari tahu.
Bergerak, berpikir, mencari, maka yang bengkok saja kita luruskan.
Exit procedure adalah konsep tentang "aturan menyerah/ menyudahi" atas ilmu dan pekerjaan yang sedang kita tekuni. Kita sendiri yang menentukan. Mengapa dan bagaimana menyudahi.✅
3⃣ Ardiani Putri
Untuk tingkatan belajar ilmu apakah erat kaitannya dengan jam terbang 10.000jam yaa? Jadi klo saya masih sombong berarti ilmu saya masih cetek gituu yaaa bun? Hehe
➡ Mbak Putri, mungkin ya mungkin juga tidak. Karena tingkatan itu adanya di hati. Ukuran jam terbang adalah kuantitas latihan. Tetapi kualitas hari tercermin dari sikap. Banyak juga ahli yang masih merasa haus ilmu masih suka belajar dan masih merasa bodoh.✅
4⃣ Dinda
Saya tipe yg senang dgn berbagai macam hal/tantangan baru,, terkadang saya melakukan beberapa macam kegiatan di waktu bersamaan dan hasil nya baik.
Apakah ini diperbolehkan?
Mengingat ada istilah 1 ilmu bisa professional jika dilakukan selama 10.000 jam terbang,?
Terima kasih
➡ Mbak Dinda, jika itu cara belajar mba Dinda, teruskan saja dan tingkatkan, barangkali keahlian mbak Dinda menjadi kolaborator atau integrator ide dan kegiatan ✅
5⃣ Bun Feby
Selama mengerjakan nhw di kelas matrikulasi saya memang berusaha menahan diri dari melihat apa/bagaimana rekan2 lain mengerjakannya, saya baru akan lihat hasil karya rekan2 lain setelah saya selesaikan tugas saya, juga saat mengerjakan nhw#5. Cara ini biasa saya lakukan saat saya ingin mengukur diri sendiri, melihat bgm pemahaman diri saya, karena saya paham bhw kadang saya mudah "terdistorsi" oleh orang lain, yg akhirnya saya mengerjakan sesuatu dengan cara orang lain, bukan cara saya. Saat saya melihat tugas rekan2 di nhw#5, terlihat sekali majemuknya pemahaman rekan2, dan terus terang ada beberapa yang menarik sekali buat saya dan ingin saya contoh.
Yang ingin saya tanyakan, bagaimana pendapat Mbak Diah/fasil mengenai cara saya ini? Sampai sebenarnya kita bisa menahan diri untuk tidak "mencontoh" orang lain, atau bahkan ingin ganti haluan (bisa juga diartikan, kapan sebenarnya menerapkan exit procedure)?
Jazaakillah khairan afwan puanjang ;)
➡ Bunda Feby, silakan saja jika nyaman dengan cara tersebut. Sebetulnya memang tidak ada ilmu baru di dunia ini. Tidak ada _rocket science_ jika terinspirasi dari teman-teman dan terkait dengan misi hidup maka jalankan saja ✅
6⃣ Bunda Tsabit
Bagaimana kita bisa berhasil smp tahapan ke 2,3, krn tahapan 1 Pnyakit sombong adalah hal yg paling menghambat ketahap selanjutnya, Dan sombong adlh penyakit yg banyak tdak disadari oleh pelakupelaku
➡ Bunda Tsabit, yuk kita selalu *stay hungry stay foolish* ✅
7⃣ Bun Esther
zaman sekarang banyak orang yang berada di tingkat pertama, merasa tahu segala dan bicara k publik padahal belum tentu yang disampaikan benar. sebaliknya banyak yang di tingkat ketiga, memakai ilmu padi. makin belajar makin berasa tidak tahu jadi ragu-ragu untuk menyampaikan k orang lain karena merasa kurang ilmu. bagaimana kita menyikapi hal ini?
➡ Bunda Esther, untuk menilai dimana posisi satu dua tiga perlu pendalaman dan kejernihan hati. Karena biasanya orang yang sudah tingkatan ketiga justru sangat gemar membagi ilmu, wallahu'alam. ✅
➡ Yang mempengaruhi seseorang naik dari tingkatan ke tingkatan berikutnya adalah *_amalan ilmu_*dan *_asas kebermanfaatan_* ilmu tersebut bagi kerahmatan alam semesta.
Kualitas dan kuantitas ilmu tidak akan berpengaruh banyak apabila "tidak diamalkan" dan "tidak memberikan manfaat" bagi alam semesta.
Karena
*_sejatinya orang yang berilmu akan semakin mendekatkan dirinya kepada sumber ilmu ( DIA yang MAHA berilmu)_*
sehingga dirinya makin merasa tidak ada apa-apanya, senantiasa ingin mencari ilmu terus menerus.
Dan janjiNya pasti
_Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_
Maka ilmu itu merupakan petunjuk untuk *_meningkatkan keimanan_* dan petunjuk untuk *_beramal_*
Apabila kita selalu menuntut ilmu tetapi dua hal tersebut tidak pernah naik, maka ada yang harus kita perbaiki, entah "kebersihan jiwa dan diri kita dalam menuntut ilmu" atau "keberkahan ilmu itu sendiri".
Maka
*_ADAB itu sebelum ILMU, dan ILMU sebelum AMAL_* Semoga makin jelas tergambarkan sekarang✅
#jawaban bu Septi tentang berada di tingkatan ilmu manakah kita
_NICE HOMEWORK #5_ _MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2_
_NICE HOMEWORK #5_
_MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2_
📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning How to Learn)
Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.
Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.
Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.
Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan *"proses" anda dalam mengerjakan NHW #5* ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.
Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2_
📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning How to Learn)
Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.
Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.
Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.
Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan *"proses" anda dalam mengerjakan NHW #5* ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.
Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Materi Matrikulasi IIPbatch #2 sesi #5 📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝
Materi Matrikulasi IIPbatch #2 sesi #5
📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝
Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.
Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.
Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.
*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*
Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.
Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.
Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?
Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1⃣Belajar hal berbeda
2⃣ Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda
🍀 *Belajar Hal Berbeda*
Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)
*Cara Belajar Berbeda*
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.
Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
👍Ibu jari : How
👆Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
👐Kedua telapak tangan di buka : Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.
Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya
Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.
Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik
_Apa itu berpikir skeptik ?_
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.
*Semangat Belajar Yang berbeda*
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :
🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).
Yang harus dipahami,
*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*
Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?
• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.
Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.
🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*
yaitu dengan menutupi kekurangannya,
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).
Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.
Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.
Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?
Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya
Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.
*_Good is not enough anymore we have to be different_*
Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).
Peran kita sebagai orang tua :
👨👩👧👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
👨👩👧👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨👩👧👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.
Cara mengetahui passion anak adalah :
1⃣ _Observation_ ( pengamatan)
2⃣ _engage_(terlibat)
3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)
Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.
Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.
Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :
1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_
Sambil menunggu jam 20, silakan disimak video berikut, terutama yg kangen dg wajah dan suara mendayu2 bu Septi ☺
Https://youtu.be/Wt93RCc6_rs
📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝
Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,
Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.
Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.
Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.
*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*
Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.
Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.
Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.
Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?
Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :
1⃣Belajar hal berbeda
2⃣ Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda
🍀 *Belajar Hal Berbeda*
Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)
*Cara Belajar Berbeda*
Jika dulu kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.
Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
👍Ibu jari : How
👆Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
👐Kedua telapak tangan di buka : Why
👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.
Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya
Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.
Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik
_Apa itu berpikir skeptik ?_
Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.
*Semangat Belajar Yang berbeda*
Semangat belajar yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :
🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).
Yang harus dipahami,
*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*
Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?
• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan
*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.
Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.
🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*
yaitu dengan menutupi kekurangannya,
Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).
Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.
Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.
Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?
Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya
Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.
*_Good is not enough anymore we have to be different_*
Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).
Peran kita sebagai orang tua :
👨👩👧👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
👨👩👧👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
👨👩👧👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.
Cara mengetahui passion anak adalah :
1⃣ _Observation_ ( pengamatan)
2⃣ _engage_(terlibat)
3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)
Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.
Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.
Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.
Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :
1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.
Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_
Sambil menunggu jam 20, silakan disimak video berikut, terutama yg kangen dg wajah dan suara mendayu2 bu Septi ☺
Https://youtu.be/Wt93RCc6_rs
REVIEW NICE HOMEWORK #4 _Matrikulasi IIP Batch 2_
REVIEW NICE HOMEWORK #4
_Matrikulasi IIP Batch 2_
_Senin,14 november 2016 Pukul 20.00-21.00_
*MEMBUAT KURIKULUM YANG "GUE BANGET"*
Bunda, membaca satu demi satu nice homework #4 kali ini, membuat kami makin yakin bahwa akan makin banyak anak-anak Indonesia yang memiliki Ibu-Ibu tangguh, yang paham akan dirinya dan mampu *_Memberi Teladan_* kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah cara belajar di Universitas Kehidupan.
Tantangan dalam mengerjakan Nice Homework#4 ini bukan di urusan hasil pencapaian, tetapi justru di urusan *_kesungguhan_*bunda untuk menemukan diri. Proses ini memang tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu. Maka efek berikutnya kita tidak bisa memandu anak-anak kita dalam menemukan peran hidupnya. Ketika merasa tidak bisa dan tidak mau belajar efek berikutnya adalah kita *_sub kontrakkan_* pendidikan anak kita ke orang lain, yang belum tentu paham akan sisi keunikan anak kita. Inilah yang menjadi sumber awal munculnya penyakit *_kemandulan_* dalam mendidik anak-anak. Menggerus kekuatan fitrah kita dalam mendidik anak-anak sehingga menyatakan dirinya _tidak mampu lagi_
Untuk itu kami akan membantu bunda dan calon bunda semuanya menemukan misi hidup ini setahap demi setahap.
🍀Bagi anda yang belum menemukan “jurusan” ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka bersabarlah, tuliskan apa adanya di NHW#4 ini bahwa anda memang belum ketemu sama sekali. Kemudian silakan lihat kembali ke belakang, faktor-faktor apa saja yang membuat anda sampai usia sekarang belum bisa menemukannya.
Tulislah dengan jujur, kemudian lihatlah kondisi sekarang, bagaimana anda mengenal diri anda?
Aktivitas apa saja yang membuat anda SUKA dan BISA, tulis semuanya.
Apa sisi kekuatan diri anda? Silakan tulis semuanya.
Pernyataan-pernyataan ini sudah SAH untuk menggugurkan NHW #4 anda.
Semoga dengan melihat hal ini, bunda semuanya menjadi lebih SABAR, ketika melihat anak-anak kita yang masih galau tidak paham arah hidupnya. Jangankan mereka, kita yang sudah puluhan tahun hidup saja ternyata juga belum paham. Bisa jadi anak-anak kita memang punya pengalaman yang sama dengan kita dulu dan sekarang kita didik mereka dengan pola yang sama dengan cara orangtua kita mendidik kita dulu.
Kembali ke fase titik nol dan segera bergerak.
" *_Jangan pernah berdiam di ruang rasa, sehingga titik nol membekukan hidup anda_* "
🍀Bagi anda yang sudah menemukan “jurusan”ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka silakan ikuti simulasi secara setahap demi setahap di bawah ini :
1⃣Tulislah Jurusan Ilmu secara Global, misal : Pendidikan Anak dan Keluarga
2⃣Tentukan KM 0 nya mau anda tempuh mulai kapan? Atau apakah saat ini sudah dalam proses berjalan di tahap 1? Maka tulislah kapan anda memulai KM 0.
3⃣Kita ambil satu hasil penelitian _Malcolm Gladwell_dalam bukunya yang berjudul Outliers (2008) pernah mengemukakan sebuah teori yang menarik, 10.000 hours of practice. Menurutnya, jika seseorang melatih sebuah skill tertentu selama minimal 10.000 jam, maka hampir bisa dipastikan orang itu akan “jago” dalam bidang tersebut. *_They will master the skill_* kata Gladwell.
Darimana ia bisa yakin? Konon Gladwell mengembangkan teori ini dari hasil penelitian terhadap para pemain biola selama puluhan tahun. Dari penelitian itu, para pemain biola yang berlatih minimal 2 jam sehari selama 12 tahun (kurang lebih 10.000 jam) semuanya menjadi para maestro biola. Orang yang di pertengahan berlatih di antara 5.000 hingga 8.000 jam, sementara pemain biola yang gagal berlatih di bawah 3000 jam.
4⃣Silakan ukur kemampuan teman-teman, dalam sehari kira-kira sanggup menginvestasikan waktu nya berapa jam, untuk menekuni jurusan ilmu tersebut. Katakanlah kita ambil yang paling pendek hanya 2 jam per hari.
Mari kita berhitung :
10.000 jam : 2 jam = 5000 hari
Apabila setahun katakanlah hanya kita ambil 250 hari efektif saja, maka
5000 hari : 250 = 20 tahun
Inilah periode waktu yang harus anda tempuh untuk bisa menjadi master di bidang anda.
5⃣Silakan bagi 20 tahun tersebut dalam KM perjalanan yang akan anda tempuh, misal
KM 0 – KM 1 = Bunda Sayang ( 5 tahun)
KM 1 – KM 2 = Bunda Cekatan (5 tahun)
KM 3 – KM 4 = Bunda Produktif ( 5 tahun)
KM 4 – KM 5 = Bunda Shaleha ( 5 tahun)
Tidak ada patokan khusus dalam menentukan rentang waktu, silakan anda buat sendiri sesuai dengan kemmapuan kita.
6⃣Uraikan kira-kira mata pelajaran apa saja yang harus kita pelajari satu-satu di mata kuliah pokok Bunda Sayang, Bunda Cekatan dsb.
7⃣Cari sumber belajarnya ada dimana saja dan KONSISTEN menjalankannya.
*AKSELERASI*
Apabila ternyata dalam belajar di jurusan ini mata anda makin berbinar, semangat anda tak pernah pudar, bisa jadi yang harusnya hanya investasi 2 jam/hari secara alamiah akan menjadi lebih dari 2 jam. Maka pilihlah aktivitas harian, waktu yang paling banyak menghabiskan hari-hari anda, adalah aktivitas yang memperbanyak
*_JAM TERBANG_*
Kalau sudah seperti ini Allah sedang menghendaki anda untuk masuk program “AKSELERASI”
Ada dua cara akselerasi yaitu :
🍀Menambah Jam terbang harian
🍀Membeli Jam terbang
Bagaimana caranya membeli? Dengan mendatangi para ahli yang sesuai dengan bidang kita, belajar banyak dari beliau. Pelajari jatuh bangunnya seperti apa, sehingga kita bisa “jump starting” dengan tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli tersebut. Sejatinya dengan mengikuti program matrikulasi ini, anda sedang membeli jam terbang.
🍀Carilah mentor hidup anda yang bersedia memandu dengan konsisten agar anda mencapai sukses dengan lebih cepat lagi.
Dengan belajar bersungguh-sungguh di NHW #4 ini, teman-teman akan dengan mudah menyusun
*_customized curriculum_*
untuk anak-anak kita masing-masing.silakan mulai dari diri bunda dulu untuk bisa merasakannya. Karena kalau bundanya sudah bisa, maka kita akan mendapatkan bonus kemampuan menyusun kurikulum bagi anak-anak kita.
Kuncinya hanya dua
*_FOKUS dan KONSISTEN _*
Jadilah yang terhebat di bidang Anda masing-masing. Jangan pernah menyerah.
*_If today is a bad day, tomorrow maybe worst, but the day after tomorrow is the best day in your life. You know what? Most people die tomorrow evening!_* – Jack Ma
Selamat menempuh 10.000 jam terbang anda
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sumber Bacaan :
_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_
_Materi Matrikulasi IIP Sesi #4, Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, 2016_
_Hasil Nice Homework #4 para peserta matrikulasi IIP batch #2_
➖➖➖➖➖➖➖
*Sesi tanya jawab*
1⃣Wiwit :
KM0,milestone & jam terbang..itu yg menjadi keyword yg saya dpt di NHW4 ini.
Ketika saya menyusun KM0,milestone dan jam terbang..saya bersemangat seakan grand strategy dlm hidup Alhamdulillah ALLAH telah tunjukan melalui matrikulasi ini.
Hanya yg msh mengganjal yg dimaksud dg jam terbang,apakah ketika kita mencari sumber2 ilmu tsb atau termasuk mengamalkan/mempraktekannya langsung,atau keduanya?.
Mhn pencerahannya dr pengalaman para tim fasilitator,bila memang yg dimaksud jam terbang keduanya,sebaiknya berapa perbandingan persentase yg efektif utk mencari ilmu tsb dan mempraktekannya?.
Butuh pencerahan dr para tim fasilitator yg sdh berpengalaman..hihi smoga bs jump up dan bs melaksanakan lebih baik dan efektif.
Jazakillah khairan katsiraa..😊🙏🏼
➡1⃣ sedikit ilmu yg didapat, langsung tuliskan dan praktekkan, begitu seterusnya..
Karena jam terbang itu bukan teori tapi praktek.
Dan tidak ada prosentase yang baku dalam mencari ilmu atau mempraktekkannya.. ilmu dan amal berjalan beriringan..
Bisa saja seperti kelas matrikulasi ini, belajarnya mungkin 3 bulan selesai, tapi setelah itu pengamalannya yang masih terus berlanjut sampai kita lulus dalam universitas kehidupan (almarhum) ✅
2⃣Tria
saya masih agak bingung dengan jam terbang. Bisakah dijelaskan lebih detail lg? Jika Kita melakukan hal yg belum baik/benar pun bisa kah dihitung jam terbang (jam berlatih) kita?
Tks
➡2⃣ Semua ilmu yg kita praktekkan tidak mungkin langsung membuahkan hasil yg terbaik, ibarat kita mengasah pisau tumpul, 5 asahan pertama tdk akan membuat pisau tsb tajam, tapi coba diasah terus sampai 30 menit akan jauh bedanya ☺
Atau pernah dengar istilah
"Man jadda wa jada"?
Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil"
Jadi apapun yang kita lakukan, bersungguh sungguhlah.. maka nanti kesungguhan itu akan bisa menambah jam terbang kita. ✅
3⃣Putri
Mana yang lebih baik jadi seorang generalis atau spesialis? Krn 10.000 jam sepertinya akan membuat kita menjadi spesialis dalam bidang tertentu. Sedangkan NHW yg saya buat terdapat bbrp ilmu yg ingin saya tekuni namun tidak menjadi spesialis, saya menjadi generalis di ilmu2 tsb.
Terima kasih
➡ 3⃣ Yang lebih tau mana yg paling baik ya kita sendiri.
Kita renungkan, mana yang paling kita SUKA dan BISA (sesuai passion) sehingga semua indikator ini terukur..
*easy* (mudah melakukannya)
*enjoy* (senang melakukannya)
*excelent* (bagus hasilnya)
*earn* (menghasilkan uang/rezeqi)
Kalo generalis brarti bukan ahli 😁 IMHO.
Ambil benang merah saja dari ilmu generalis yg bisa perkuat peran spesialis kita.
Pasti ada yang sejalan ✅
4⃣ Ika
Dalam pelaksanaan 10.000 jam terbang mencari ilmu untuk meningkatkan diri, apakah kebersamaan bersama anak-anak dihitung dalam 10.000 jam tersebut?
➡4⃣Bisa saja.. tergantung usia anak dan kondisi yang diperlukan, mba Ika.
Baiknya kita selalu mengajak anak jika mengisi berbagai kegiatan yang ramah anak atau membolehkan mengajak anak-anak, terlebih saat usia anak dibawah 12 tahun.
Agar anak juga sambil belajar beradaptasi dalam situasi tersebut.
Tapi jika ada suatu aturan dimana tidak diperbolehkan mengajak anak-anak misal dalam ruang kuliah dsb, maka diskusikan dengan suami atau orang yang dipercaya agar pendelegasian anak berjalan dengan baik.
Pengalaman saya dalam menambah jam terbang..
Dulu sebelum anak-anak saya mondok.. Saya mengajar tahsin saat anak-anak sekolah, dan sudah selesai sebelum kepulangannya.
Tapi jika anak-anak sedang libur, maka anak-anak saya ajak ke mesjid tempat saya mengajar. Jangan lupa mengkondisikan anak dengan baik agar semua berjalan dengan lancar.
(Saat itu usia anak kedua saya 6thn, anak ketiga 5thn) ✅
5⃣ Lina
Jurusan ilmu yg diambil, apakah sebaiknya fokus hanya satu jurusan? Bagaimana kalau kita memiliki passion di bidang lain (sektor publik, bukan pendidikan anak), sementara ada tugas sebagai ibu yang masih harus belajar banyak tentang pengasuhan dan kerumahtanggaan? Terimakasih
➡ 5⃣ Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan "misi spesifiknya", tugas kita memahami kehendakNya.
Baiknya fokus pada satu jurusan dulu, setelah dirasa mumpuni, baru ambil jurusan lain..
Silahkan masuk keranah publik asalkan jangan sampai ada yang merasa dikorbankan..
Penuhi hak-hak orang lain disekitar kita, suami atau anak-anak. Buat jadwal quality time untuk mereka. ✅
6⃣ Hestya
Bagaimana kalo jurusan ilmu yg ingin kita pelajari bukan ilmu parenting,namun tidak bisa juga meninggalkan kebutuhan untuk terus meng-upgrade ilmu parenting?Jadi kebutuhan yg dirasa paling urgent saat ini adalah ilmu parenting untuk memantapkan tahap bunsay dan buncek.Namun passion yg ingin dikembangkan di tahap bunpro dan bunsha ada di bidang lain.
Trimakasih^^
➡6⃣ Masih berkaitan dengan pertanyaan mba Lina..
Silahkan Renungkan kembali Materi 3 Matrikulasi Ibu Profesional, tentang Membangun Perdaban Dari Dalam Rumah.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara *pekerjaan, berkarya dan mendidik anak,* bukanlah sesuatu yang terpisahkan sehingga harus ada yang dikorbankan.
Justru semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan. ✅
7⃣ Ratri
Tanya: Saya bekerja di ranah publik di bidang yg ketika disadari mmg saya sukai dr sejak usia SMP... tapi ternyata energi saya habis dan tdk enjoy krn lingkungan kerja tdk seideal yg dibayangkan. Apakah saya harus mencari dan memulai sesuatu yg baru di luar bidang tsb kemudian memulainya dr KM nol?
➡7⃣ Jika setelah merenungi ternyata mba Ratri ingin memulainya dari titik 0. Silahkan.. lebih baik memulai dan merubahnya dari sekarang daripada larut dalam aktifitas yang hanya menguras energi dan membuang waktu saja.
Nikmati proses KM 0 dari sekarang dengan *easy, enjoy, excelent dan earn*
Coba deh, dan rasakan bahwa tubuh kita akan lebih sehat dan bugar jika kita menjalani aktifitas kita dengan rasa bahagia. ✅
8⃣Febi
Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa kita sudah terjebak dalam ruang rasa (bisa saja kita tidak menyadari bhw kita sedang larut dalam ruang rasa, bahkan mungkin tidak mengakuinya)?
➡8⃣ Jujur pada diri sendiri.
Karena hati nurani kita biasanya akan membisikkan kita jika ada yang salah dalam perbuatan kita.
Atau dengarkan keluhan orang-orang yang ada disekitar kita, biasanya mereka akan menuntut sesuatu jika kita sudah mulai tidak *on track* ✅
9⃣ Putri
Jurusan yang dipilih apakah harus fokus 1 saja? Karena saya memilih 3 jurusan untuk saya pilih. AlQuran, SewingCraft, dan Parenting. Menurut saya, ketiganya prioritas dan tidak bisa memilih salah satu yang paling penting. Tapi konsekuensinya, saya butuh lebih banyak waktu tempuh karena tidak bisa sekaligus meluangkan waktu sehari untuk 3 ilmu tersebut. Jadi bagaimana baiknya? Memang saat ini saya belum menikah, tapi menurut saya, penting untuk mempelajari parenting sejak dini.
Terima kasih sebelumnya.
➡9⃣ Jika mba Putri belum menikah justru mungkin punya banyak waktu..
Menurut saya bisa saja dilakukan 3 bidang tersebut.
Tinggal manajemen waktunya saja diatur dengan baik.
Misal di pilih yg paling prioritas dari ketiganya dulu, jalankan hingga 90 hari, jika sudah mulai menguasai, boleh ditambah ilmu lainnya lagi.. lakukan dengan konsisten dan terukur. ✅
🔟Refi
Sejauh apa peran suami dalam menyukseskan misi yang sudah dibuat oleh istri?
Dalam mendidik anak pastinya butuh kolaborasi dengan suami. Dan jika suami bekerja dari pagi hingga sore setiap hari, bagaimana sebaiknya pembagian tugas dengan suami?
➡🔟Kita dengan pasangan hidup kita dipertemukan dan disatukan setelah dewasa. Sebelumnya kita dibesarkan di lingkungan berbeda, melalui jalan berbeda, dengan cara berbeda, dan mungkin juga dengan tatanilai yang berbeda.
Maka langkah pertama adalah banyak-banyaklah membangun *KOMUNIKASI,* verbal maupun non verbal. Sering-sering ngobrol bareng, melakukan kegiatan bersama, membicarakan apa yang kita sukai dan tidak kita sukai, memahami gelagat dan bahasa tubuh. Jangan diam saja dan menganggap pasangan hidup kita pasti tahu atau seharusnya tahu. Pasangan hidup kita bukan dukun kan? 😝
Yang pertama dibangun adalah tata nilai bersama, *our values.* Tak perlu banyak, yang utama dulu saja yang akan menjadi *INDUK NILAI.*
Bagi peran yang mudah saja dulu,
misal : di hari Sabtu, waktunya ibu hang out ( *me time* ) bersama teman atau komunitas, dan anak-anak di temani oleh ayah.
di hari Minggu, ayah membantu menyapu, mengepel, atau menyikat kamar mandi dan sebagainya, sebelum ber aktifitas bersama keluarga.
Atau ada waktu khusus saat ibu ingin belajar secara online seperti kelas matrikulasi ini, jika ayah sudah pulang kantor, mohon ijin sebentar untuk fokus ke grup sejam setelah itu baru lakukan yg tertunda tadi. 😊✅
_Sumber: Materi "A Home Team", pak Dodik Mariyanto_
➖➖➖➖
*diskusi tambahan*
🔉 Mba zy..bener gak kesimpulan saya?jd kita memang hrs memilih 1 saja ilmu yg kita ingin kita dalami terlebih dahulu?baru ilmu berikutnya stlh dikuasai ilmu yg pertama?
➡Baiknya begitu.. tapi kalau ada ilmu lain yang masih bisa dilakukan beriringan.. tidak apa..
🔉Mba zy: jika bersama anak apakah itu termasuk mempraktekkan ilmu yang sudah kita dapatkan? misalnya ilmu komunikasi produktif ke anak
➡ Iya donk mba ika.. sambil kita praktekkan 😊
🔉Berarti dari awal, suami jg harus memahami Misi dan milestone yang dibuat ya Mba?
➡Idealnya memang kita harus sama rasa dan sama suhu dulu mba,, di perahu yg sama menuju ada yg satu...
🔉Mbak zy, tolong dijelaskan tentang "INDUK NILAI" ini mbak?
➡Dalam keluarga kita punya nilai prinsip yang dijalankan..
Contoh *INDUK NILAI* dari Padepokan Margosari adalah
Iman dan Kehormatan.
Saya mengadopsinya..
INDUK Nilai keluarga saya adalah Iman dan Ilmu..
😊
🔉Mba Zy, bagaimana jk suami istri sdh punya prinsip. Namun prinsip atau nilai2 tsb bertentangan dg pihak keluarga (ortu atau mertua, saudara kandung?)
➡Saat berada dirumah kita. Maka aturan yang berlaku adalah aturan Rumah Tangga kita. Ortu atau keluarga besar harus menghargai itu..
Anak-anak juga harus diberi pemahaman tentang hal itu..
➡ Ada tambahan artikel yang saya suka tentang kita dan keluarga dari Ust. Adriano Rusfi yaitu...
“Selalu saja ada rasa bangga dan haru mendengar, membaca dan menyaksikan pasangan-pasangan yang merayakan kelanggengan rumah tangga mereka. Apakah itu lima, sepuluh atau dua puluh tahun.
Mereka bukan sedang di kapal pesiar.
Mereka sedang mengarungi sebuah misi kemanusiaan di sebuah biduk ringkih yang diterpa amuk gelombang sambil berpegang kuat pada seutas tali dari LANGIT. Sungguh, tak ada manusia perkasa yang sanggup melakukannya. Ini adalah prestasi para hero yang dengan cerdik menyadari bahwa rumahtangga adalah bahtera terbaik menggapai SURGA.
*Membangung peradaban adalah pekerjaan yg terlalu besar utk dikerjakan sendiri*
Mari terus bersinergi bersama,, mendayung perahu yang sama utk menggapai syurga-Nya
_Matrikulasi IIP Batch 2_
_Senin,14 november 2016 Pukul 20.00-21.00_
*MEMBUAT KURIKULUM YANG "GUE BANGET"*
Bunda, membaca satu demi satu nice homework #4 kali ini, membuat kami makin yakin bahwa akan makin banyak anak-anak Indonesia yang memiliki Ibu-Ibu tangguh, yang paham akan dirinya dan mampu *_Memberi Teladan_* kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah cara belajar di Universitas Kehidupan.
Tantangan dalam mengerjakan Nice Homework#4 ini bukan di urusan hasil pencapaian, tetapi justru di urusan *_kesungguhan_*bunda untuk menemukan diri. Proses ini memang tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu. Maka efek berikutnya kita tidak bisa memandu anak-anak kita dalam menemukan peran hidupnya. Ketika merasa tidak bisa dan tidak mau belajar efek berikutnya adalah kita *_sub kontrakkan_* pendidikan anak kita ke orang lain, yang belum tentu paham akan sisi keunikan anak kita. Inilah yang menjadi sumber awal munculnya penyakit *_kemandulan_* dalam mendidik anak-anak. Menggerus kekuatan fitrah kita dalam mendidik anak-anak sehingga menyatakan dirinya _tidak mampu lagi_
Untuk itu kami akan membantu bunda dan calon bunda semuanya menemukan misi hidup ini setahap demi setahap.
🍀Bagi anda yang belum menemukan “jurusan” ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka bersabarlah, tuliskan apa adanya di NHW#4 ini bahwa anda memang belum ketemu sama sekali. Kemudian silakan lihat kembali ke belakang, faktor-faktor apa saja yang membuat anda sampai usia sekarang belum bisa menemukannya.
Tulislah dengan jujur, kemudian lihatlah kondisi sekarang, bagaimana anda mengenal diri anda?
Aktivitas apa saja yang membuat anda SUKA dan BISA, tulis semuanya.
Apa sisi kekuatan diri anda? Silakan tulis semuanya.
Pernyataan-pernyataan ini sudah SAH untuk menggugurkan NHW #4 anda.
Semoga dengan melihat hal ini, bunda semuanya menjadi lebih SABAR, ketika melihat anak-anak kita yang masih galau tidak paham arah hidupnya. Jangankan mereka, kita yang sudah puluhan tahun hidup saja ternyata juga belum paham. Bisa jadi anak-anak kita memang punya pengalaman yang sama dengan kita dulu dan sekarang kita didik mereka dengan pola yang sama dengan cara orangtua kita mendidik kita dulu.
Kembali ke fase titik nol dan segera bergerak.
" *_Jangan pernah berdiam di ruang rasa, sehingga titik nol membekukan hidup anda_* "
🍀Bagi anda yang sudah menemukan “jurusan”ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka silakan ikuti simulasi secara setahap demi setahap di bawah ini :
1⃣Tulislah Jurusan Ilmu secara Global, misal : Pendidikan Anak dan Keluarga
2⃣Tentukan KM 0 nya mau anda tempuh mulai kapan? Atau apakah saat ini sudah dalam proses berjalan di tahap 1? Maka tulislah kapan anda memulai KM 0.
3⃣Kita ambil satu hasil penelitian _Malcolm Gladwell_dalam bukunya yang berjudul Outliers (2008) pernah mengemukakan sebuah teori yang menarik, 10.000 hours of practice. Menurutnya, jika seseorang melatih sebuah skill tertentu selama minimal 10.000 jam, maka hampir bisa dipastikan orang itu akan “jago” dalam bidang tersebut. *_They will master the skill_* kata Gladwell.
Darimana ia bisa yakin? Konon Gladwell mengembangkan teori ini dari hasil penelitian terhadap para pemain biola selama puluhan tahun. Dari penelitian itu, para pemain biola yang berlatih minimal 2 jam sehari selama 12 tahun (kurang lebih 10.000 jam) semuanya menjadi para maestro biola. Orang yang di pertengahan berlatih di antara 5.000 hingga 8.000 jam, sementara pemain biola yang gagal berlatih di bawah 3000 jam.
4⃣Silakan ukur kemampuan teman-teman, dalam sehari kira-kira sanggup menginvestasikan waktu nya berapa jam, untuk menekuni jurusan ilmu tersebut. Katakanlah kita ambil yang paling pendek hanya 2 jam per hari.
Mari kita berhitung :
10.000 jam : 2 jam = 5000 hari
Apabila setahun katakanlah hanya kita ambil 250 hari efektif saja, maka
5000 hari : 250 = 20 tahun
Inilah periode waktu yang harus anda tempuh untuk bisa menjadi master di bidang anda.
5⃣Silakan bagi 20 tahun tersebut dalam KM perjalanan yang akan anda tempuh, misal
KM 0 – KM 1 = Bunda Sayang ( 5 tahun)
KM 1 – KM 2 = Bunda Cekatan (5 tahun)
KM 3 – KM 4 = Bunda Produktif ( 5 tahun)
KM 4 – KM 5 = Bunda Shaleha ( 5 tahun)
Tidak ada patokan khusus dalam menentukan rentang waktu, silakan anda buat sendiri sesuai dengan kemmapuan kita.
6⃣Uraikan kira-kira mata pelajaran apa saja yang harus kita pelajari satu-satu di mata kuliah pokok Bunda Sayang, Bunda Cekatan dsb.
7⃣Cari sumber belajarnya ada dimana saja dan KONSISTEN menjalankannya.
*AKSELERASI*
Apabila ternyata dalam belajar di jurusan ini mata anda makin berbinar, semangat anda tak pernah pudar, bisa jadi yang harusnya hanya investasi 2 jam/hari secara alamiah akan menjadi lebih dari 2 jam. Maka pilihlah aktivitas harian, waktu yang paling banyak menghabiskan hari-hari anda, adalah aktivitas yang memperbanyak
*_JAM TERBANG_*
Kalau sudah seperti ini Allah sedang menghendaki anda untuk masuk program “AKSELERASI”
Ada dua cara akselerasi yaitu :
🍀Menambah Jam terbang harian
🍀Membeli Jam terbang
Bagaimana caranya membeli? Dengan mendatangi para ahli yang sesuai dengan bidang kita, belajar banyak dari beliau. Pelajari jatuh bangunnya seperti apa, sehingga kita bisa “jump starting” dengan tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli tersebut. Sejatinya dengan mengikuti program matrikulasi ini, anda sedang membeli jam terbang.
🍀Carilah mentor hidup anda yang bersedia memandu dengan konsisten agar anda mencapai sukses dengan lebih cepat lagi.
Dengan belajar bersungguh-sungguh di NHW #4 ini, teman-teman akan dengan mudah menyusun
*_customized curriculum_*
untuk anak-anak kita masing-masing.silakan mulai dari diri bunda dulu untuk bisa merasakannya. Karena kalau bundanya sudah bisa, maka kita akan mendapatkan bonus kemampuan menyusun kurikulum bagi anak-anak kita.
Kuncinya hanya dua
*_FOKUS dan KONSISTEN _*
Jadilah yang terhebat di bidang Anda masing-masing. Jangan pernah menyerah.
*_If today is a bad day, tomorrow maybe worst, but the day after tomorrow is the best day in your life. You know what? Most people die tomorrow evening!_* – Jack Ma
Selamat menempuh 10.000 jam terbang anda
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
Sumber Bacaan :
_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_
_Materi Matrikulasi IIP Sesi #4, Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, 2016_
_Hasil Nice Homework #4 para peserta matrikulasi IIP batch #2_
➖➖➖➖➖➖➖
*Sesi tanya jawab*
1⃣Wiwit :
KM0,milestone & jam terbang..itu yg menjadi keyword yg saya dpt di NHW4 ini.
Ketika saya menyusun KM0,milestone dan jam terbang..saya bersemangat seakan grand strategy dlm hidup Alhamdulillah ALLAH telah tunjukan melalui matrikulasi ini.
Hanya yg msh mengganjal yg dimaksud dg jam terbang,apakah ketika kita mencari sumber2 ilmu tsb atau termasuk mengamalkan/mempraktekannya langsung,atau keduanya?.
Mhn pencerahannya dr pengalaman para tim fasilitator,bila memang yg dimaksud jam terbang keduanya,sebaiknya berapa perbandingan persentase yg efektif utk mencari ilmu tsb dan mempraktekannya?.
Butuh pencerahan dr para tim fasilitator yg sdh berpengalaman..hihi smoga bs jump up dan bs melaksanakan lebih baik dan efektif.
Jazakillah khairan katsiraa..😊🙏🏼
➡1⃣ sedikit ilmu yg didapat, langsung tuliskan dan praktekkan, begitu seterusnya..
Karena jam terbang itu bukan teori tapi praktek.
Dan tidak ada prosentase yang baku dalam mencari ilmu atau mempraktekkannya.. ilmu dan amal berjalan beriringan..
Bisa saja seperti kelas matrikulasi ini, belajarnya mungkin 3 bulan selesai, tapi setelah itu pengamalannya yang masih terus berlanjut sampai kita lulus dalam universitas kehidupan (almarhum) ✅
2⃣Tria
saya masih agak bingung dengan jam terbang. Bisakah dijelaskan lebih detail lg? Jika Kita melakukan hal yg belum baik/benar pun bisa kah dihitung jam terbang (jam berlatih) kita?
Tks
➡2⃣ Semua ilmu yg kita praktekkan tidak mungkin langsung membuahkan hasil yg terbaik, ibarat kita mengasah pisau tumpul, 5 asahan pertama tdk akan membuat pisau tsb tajam, tapi coba diasah terus sampai 30 menit akan jauh bedanya ☺
Atau pernah dengar istilah
"Man jadda wa jada"?
Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil"
Jadi apapun yang kita lakukan, bersungguh sungguhlah.. maka nanti kesungguhan itu akan bisa menambah jam terbang kita. ✅
3⃣Putri
Mana yang lebih baik jadi seorang generalis atau spesialis? Krn 10.000 jam sepertinya akan membuat kita menjadi spesialis dalam bidang tertentu. Sedangkan NHW yg saya buat terdapat bbrp ilmu yg ingin saya tekuni namun tidak menjadi spesialis, saya menjadi generalis di ilmu2 tsb.
Terima kasih
➡ 3⃣ Yang lebih tau mana yg paling baik ya kita sendiri.
Kita renungkan, mana yang paling kita SUKA dan BISA (sesuai passion) sehingga semua indikator ini terukur..
*easy* (mudah melakukannya)
*enjoy* (senang melakukannya)
*excelent* (bagus hasilnya)
*earn* (menghasilkan uang/rezeqi)
Kalo generalis brarti bukan ahli 😁 IMHO.
Ambil benang merah saja dari ilmu generalis yg bisa perkuat peran spesialis kita.
Pasti ada yang sejalan ✅
4⃣ Ika
Dalam pelaksanaan 10.000 jam terbang mencari ilmu untuk meningkatkan diri, apakah kebersamaan bersama anak-anak dihitung dalam 10.000 jam tersebut?
➡4⃣Bisa saja.. tergantung usia anak dan kondisi yang diperlukan, mba Ika.
Baiknya kita selalu mengajak anak jika mengisi berbagai kegiatan yang ramah anak atau membolehkan mengajak anak-anak, terlebih saat usia anak dibawah 12 tahun.
Agar anak juga sambil belajar beradaptasi dalam situasi tersebut.
Tapi jika ada suatu aturan dimana tidak diperbolehkan mengajak anak-anak misal dalam ruang kuliah dsb, maka diskusikan dengan suami atau orang yang dipercaya agar pendelegasian anak berjalan dengan baik.
Pengalaman saya dalam menambah jam terbang..
Dulu sebelum anak-anak saya mondok.. Saya mengajar tahsin saat anak-anak sekolah, dan sudah selesai sebelum kepulangannya.
Tapi jika anak-anak sedang libur, maka anak-anak saya ajak ke mesjid tempat saya mengajar. Jangan lupa mengkondisikan anak dengan baik agar semua berjalan dengan lancar.
(Saat itu usia anak kedua saya 6thn, anak ketiga 5thn) ✅
5⃣ Lina
Jurusan ilmu yg diambil, apakah sebaiknya fokus hanya satu jurusan? Bagaimana kalau kita memiliki passion di bidang lain (sektor publik, bukan pendidikan anak), sementara ada tugas sebagai ibu yang masih harus belajar banyak tentang pengasuhan dan kerumahtanggaan? Terimakasih
➡ 5⃣ Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan "misi spesifiknya", tugas kita memahami kehendakNya.
Baiknya fokus pada satu jurusan dulu, setelah dirasa mumpuni, baru ambil jurusan lain..
Silahkan masuk keranah publik asalkan jangan sampai ada yang merasa dikorbankan..
Penuhi hak-hak orang lain disekitar kita, suami atau anak-anak. Buat jadwal quality time untuk mereka. ✅
6⃣ Hestya
Bagaimana kalo jurusan ilmu yg ingin kita pelajari bukan ilmu parenting,namun tidak bisa juga meninggalkan kebutuhan untuk terus meng-upgrade ilmu parenting?Jadi kebutuhan yg dirasa paling urgent saat ini adalah ilmu parenting untuk memantapkan tahap bunsay dan buncek.Namun passion yg ingin dikembangkan di tahap bunpro dan bunsha ada di bidang lain.
Trimakasih^^
➡6⃣ Masih berkaitan dengan pertanyaan mba Lina..
Silahkan Renungkan kembali Materi 3 Matrikulasi Ibu Profesional, tentang Membangun Perdaban Dari Dalam Rumah.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara *pekerjaan, berkarya dan mendidik anak,* bukanlah sesuatu yang terpisahkan sehingga harus ada yang dikorbankan.
Justru semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan. ✅
7⃣ Ratri
Tanya: Saya bekerja di ranah publik di bidang yg ketika disadari mmg saya sukai dr sejak usia SMP... tapi ternyata energi saya habis dan tdk enjoy krn lingkungan kerja tdk seideal yg dibayangkan. Apakah saya harus mencari dan memulai sesuatu yg baru di luar bidang tsb kemudian memulainya dr KM nol?
➡7⃣ Jika setelah merenungi ternyata mba Ratri ingin memulainya dari titik 0. Silahkan.. lebih baik memulai dan merubahnya dari sekarang daripada larut dalam aktifitas yang hanya menguras energi dan membuang waktu saja.
Nikmati proses KM 0 dari sekarang dengan *easy, enjoy, excelent dan earn*
Coba deh, dan rasakan bahwa tubuh kita akan lebih sehat dan bugar jika kita menjalani aktifitas kita dengan rasa bahagia. ✅
8⃣Febi
Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa kita sudah terjebak dalam ruang rasa (bisa saja kita tidak menyadari bhw kita sedang larut dalam ruang rasa, bahkan mungkin tidak mengakuinya)?
➡8⃣ Jujur pada diri sendiri.
Karena hati nurani kita biasanya akan membisikkan kita jika ada yang salah dalam perbuatan kita.
Atau dengarkan keluhan orang-orang yang ada disekitar kita, biasanya mereka akan menuntut sesuatu jika kita sudah mulai tidak *on track* ✅
9⃣ Putri
Jurusan yang dipilih apakah harus fokus 1 saja? Karena saya memilih 3 jurusan untuk saya pilih. AlQuran, SewingCraft, dan Parenting. Menurut saya, ketiganya prioritas dan tidak bisa memilih salah satu yang paling penting. Tapi konsekuensinya, saya butuh lebih banyak waktu tempuh karena tidak bisa sekaligus meluangkan waktu sehari untuk 3 ilmu tersebut. Jadi bagaimana baiknya? Memang saat ini saya belum menikah, tapi menurut saya, penting untuk mempelajari parenting sejak dini.
Terima kasih sebelumnya.
➡9⃣ Jika mba Putri belum menikah justru mungkin punya banyak waktu..
Menurut saya bisa saja dilakukan 3 bidang tersebut.
Tinggal manajemen waktunya saja diatur dengan baik.
Misal di pilih yg paling prioritas dari ketiganya dulu, jalankan hingga 90 hari, jika sudah mulai menguasai, boleh ditambah ilmu lainnya lagi.. lakukan dengan konsisten dan terukur. ✅
🔟Refi
Sejauh apa peran suami dalam menyukseskan misi yang sudah dibuat oleh istri?
Dalam mendidik anak pastinya butuh kolaborasi dengan suami. Dan jika suami bekerja dari pagi hingga sore setiap hari, bagaimana sebaiknya pembagian tugas dengan suami?
➡🔟Kita dengan pasangan hidup kita dipertemukan dan disatukan setelah dewasa. Sebelumnya kita dibesarkan di lingkungan berbeda, melalui jalan berbeda, dengan cara berbeda, dan mungkin juga dengan tatanilai yang berbeda.
Maka langkah pertama adalah banyak-banyaklah membangun *KOMUNIKASI,* verbal maupun non verbal. Sering-sering ngobrol bareng, melakukan kegiatan bersama, membicarakan apa yang kita sukai dan tidak kita sukai, memahami gelagat dan bahasa tubuh. Jangan diam saja dan menganggap pasangan hidup kita pasti tahu atau seharusnya tahu. Pasangan hidup kita bukan dukun kan? 😝
Yang pertama dibangun adalah tata nilai bersama, *our values.* Tak perlu banyak, yang utama dulu saja yang akan menjadi *INDUK NILAI.*
Bagi peran yang mudah saja dulu,
misal : di hari Sabtu, waktunya ibu hang out ( *me time* ) bersama teman atau komunitas, dan anak-anak di temani oleh ayah.
di hari Minggu, ayah membantu menyapu, mengepel, atau menyikat kamar mandi dan sebagainya, sebelum ber aktifitas bersama keluarga.
Atau ada waktu khusus saat ibu ingin belajar secara online seperti kelas matrikulasi ini, jika ayah sudah pulang kantor, mohon ijin sebentar untuk fokus ke grup sejam setelah itu baru lakukan yg tertunda tadi. 😊✅
_Sumber: Materi "A Home Team", pak Dodik Mariyanto_
➖➖➖➖
*diskusi tambahan*
🔉 Mba zy..bener gak kesimpulan saya?jd kita memang hrs memilih 1 saja ilmu yg kita ingin kita dalami terlebih dahulu?baru ilmu berikutnya stlh dikuasai ilmu yg pertama?
➡Baiknya begitu.. tapi kalau ada ilmu lain yang masih bisa dilakukan beriringan.. tidak apa..
🔉Mba zy: jika bersama anak apakah itu termasuk mempraktekkan ilmu yang sudah kita dapatkan? misalnya ilmu komunikasi produktif ke anak
➡ Iya donk mba ika.. sambil kita praktekkan 😊
🔉Berarti dari awal, suami jg harus memahami Misi dan milestone yang dibuat ya Mba?
➡Idealnya memang kita harus sama rasa dan sama suhu dulu mba,, di perahu yg sama menuju ada yg satu...
🔉Mbak zy, tolong dijelaskan tentang "INDUK NILAI" ini mbak?
➡Dalam keluarga kita punya nilai prinsip yang dijalankan..
Contoh *INDUK NILAI* dari Padepokan Margosari adalah
Iman dan Kehormatan.
Saya mengadopsinya..
INDUK Nilai keluarga saya adalah Iman dan Ilmu..
😊
🔉Mba Zy, bagaimana jk suami istri sdh punya prinsip. Namun prinsip atau nilai2 tsb bertentangan dg pihak keluarga (ortu atau mertua, saudara kandung?)
➡Saat berada dirumah kita. Maka aturan yang berlaku adalah aturan Rumah Tangga kita. Ortu atau keluarga besar harus menghargai itu..
Anak-anak juga harus diberi pemahaman tentang hal itu..
➡ Ada tambahan artikel yang saya suka tentang kita dan keluarga dari Ust. Adriano Rusfi yaitu...
“Selalu saja ada rasa bangga dan haru mendengar, membaca dan menyaksikan pasangan-pasangan yang merayakan kelanggengan rumah tangga mereka. Apakah itu lima, sepuluh atau dua puluh tahun.
Mereka bukan sedang di kapal pesiar.
Mereka sedang mengarungi sebuah misi kemanusiaan di sebuah biduk ringkih yang diterpa amuk gelombang sambil berpegang kuat pada seutas tali dari LANGIT. Sungguh, tak ada manusia perkasa yang sanggup melakukannya. Ini adalah prestasi para hero yang dengan cerdik menyadari bahwa rumahtangga adalah bahtera terbaik menggapai SURGA.
*Membangung peradaban adalah pekerjaan yg terlalu besar utk dikerjakan sendiri*
Mari terus bersinergi bersama,, mendayung perahu yang sama utk menggapai syurga-Nya
Subscribe to:
Posts (Atom)