9/22/17

T10H Level 8 Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Day 5

Bismillahirrahmanirrahim

Ada kegiatan apa hari ini :

Hari ini setelah menabung seperti biasa, ada kejadian yang cukup menarik ketika setelah menonton Upin dan Ipin. Di dalam cerita episodenya tersebut, ada yang pas sekali dengan tantangan game level 8 ini yaitu ketika Upin dan Ipin bekerja keras untuk menghasilkan uang dengan cara berjualan es buah buatan Kak Ros dan uang hasil bekerja tersebut ditabung di sebuah bank.

Bagi ummi sendiri, menabung di bank untuk seusia Fikriy masih belum dilakukan, namun yang menarik adalah dalam proses menjemput rezeki tersebut, Upin dan Ipin menabung seperak demi seperak uang ke dalam tabungan nya dan diisi hingga penuh. Ketika sudah cukup penuh, mereka pun sempat tergoda untuk membuka celengan tersebut namun dihalangi oleh kak Ros yang akhirnya mengajak mereka untuk membuka celengan dan memasukkan nya ke dalam tabungan di sebuah bank beserta kartu yang kurang jelas apakah itu kartu debit atau kartu penanda saja.

Entah kenapa setelah menonton episode tersebut, Fikriy lantas menuju celengannya dan kemudian meminta ummi membukanya. Ketika ditanya mengapa ingin membukanya, Fikriy menjawab untuk membeli mainan. Kemudian ummi jelaskan bahwa celengannya bisa dibuka namun nanti kalau sudah waktunya alias sudah penuh, sehingga bisa digunakan untuk membeli mainan seperti yang diinginkan di awal ketika kami mulai menabung. Alhamdulillah bisa dibujuk dan mengerti akhirnya celengan selamat deh hehehe.

9/21/17

T10H Level 8 Mendidik Anak Cerdas Finansial Day 4

Bismillahirrahmanirrahim...

Ada kegiatan apa hari ini :

Hari Sabtu ini kami sekeluarga refreshing sebentar untuk makan siang di luar. Dari semalam sebenarnya Fikriy bertanya apakah boleh makan mie udon kesukaannya yang sudah cukup lama tidak kami kunjungi. Alhamdulillah karena ayah masih ada waktu sampai sebelum bekerja freelance di saat weekend dan akhirnya kami memilih pergi ke mall yang terdekat untuk menghemat waktu.

Sesampainya di sana, anak-anak langsung makan mie udon porsi anak dengan semangat. Fikriy mungkin saking senangnya makan pelan-pelan sambil menikmati mie nya, hihi.
Oiya di mall ini juga ada kereta api yang bisa dinaiki di lantai paling atas, dan begitu sampai di parkiran mobil, Fikriy lantas request tambahan untuk naik kereta api Cho Cho train selepas makan mie udon. Tentunya ini di luar kesepakatan awal.

Jika ada permintaan tambahan seperti ini, biasanya ummi selalu menyerahkan kembali kepada ayah yang pasti langsung didengarkan anak-anak. Ternyata ayah sepemikiran dengan ummi, naik Cho Cho train nya tidak kali ini ya, kata ayah. Kan sudah makan mie udon, kapan-kapan lagi ke sini untuk naik kereta api.
Sambil berbisik-bisik Fikriy bertanya pada ummi, boleh ya naik Cho Cho train habis makan mie udon, namun ummi jelaskan kalau ayah uangnya hanya cukup untuk makan mie udon seperti permintaan pertama Fikriy.

Namun Fikriy ternyata berargumen kan ayah bisa ambil uang dulu di ATM, wah kok sudah bisa berpikir seperti ummi ya hihi. Ummi jelaskan lagi kalau uang di ATM nya tidak cukup kalau sekarang mau main Cho Cho train, jadi sabar saja sampai ayah mengajak kembali ke tempat ini.
Argumen kedua yang Fikriy bilang dengan setengah membujuk adalah dengan menggunakan uang tabungan Fikriy. Aha, lho ternyata konsep menabung dan menggunakan untuk kegiatan konsumsi sudah terpikirkan olehnya. Namun kembali ummi jelaskan bahwa uang tabungannya boleh digunakan untuk membeli mainan seperti tujuan awal.

Akhirnya mungkin Fikriy bisa memahami penjelasan ummi, dan tidak ngambek setelah kami selesai makan mie udon. Sesampainya di rumah tak lupa Fikriy menabung kembali ke tabungannya.

9/19/17

Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya

🌭🍟🍷 *Cemilan Rabu #8.2* 🍫🍨🍿

*Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya.*

Di tengah arus kompleksitas perubahan zaman dan gemuruh publikasi korupsi negeri ini, orang tua dituntut lebih cerdas mendidik anaknya. Tentunya kita tidak sudi melihat anak tumbuh sebagai koruptor yang menyengsarakan.

Dari situ, selain membesarkan anak yang sehat secara fisik dan emosional, orang tua juga wajib mendidik anak secara benar.

Karena, mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana orang tua mampu memberi teladan dan mengenalkan anak segala akhlak terpuji, terutama pengajaran kecerdasan finansial.

Maraknya lalu lintas rayuan iklan di segala media bisa mendikte anak menjadi pribadi yang konsumtif dan hedonis.

Namun, orang tua tak perlu khawatir, ketika anak sejak dini sudah dilatih kecerdasan finansialnya. Maka hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan cermat dalam mengelola uang.

Di sinilah, peran orang tua sangat vital, mengingat “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, sehingga *teladan orang tua menjadi pelajaran pertama bagi anak.*

Hal ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak agar tak terlena dengan uang. Karena, *mengajarkan anak tentang uang secara benar dapat membentuknya menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kewirausahaan.*

Mulai dari cara mengenalkan uang, menabung, berhemat, dan mengajarkan bertanggung jawab dengan uang saku, dengan menggunakan panduan akan konsep *spesifik ( _specific_), terukur ( _measurable_), dapat dicapai ( _atainable_), realistis ( _realistic_) dan jangka waktu ( _time bound_).*

Perpaduan konsep itu akan meninggikan mentalitas dan spirit anak dalam mengelola uang demi hasilnya bagi masa depan.

Selain itu, Kak Seto dan Kak Lutfi memberi gambaran metode:
*"10/10/10/70 ( _Pay yours first_)."*

Arti angka tersebut menggambarkan besaran persentase pembagian dari total uang saku yang diperoleh anak.

Semisal, 10 % untuk beramal ( _pay your soul first_),
10 % menabung ( _pay your safe first_),
10 % investasi ( _pay your self first_),
dan 70 % untuk pengeluaran kebutuhan mendasar.

Lewat pelaksanaan konsep ini akan mendorong penguatan akhlak anak menyadari bahwa uang bukanlah alat tukar untuk membeli barang semata. Lebih dari itu, uang bisa dimanfaatkan sebagai relasi penguatan penentram jiwa dan nilai spiritual ketika disedekahkan secara ikhlas.

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber bacaan:
"Financial Parenting" penerbit Nourabooks, Jakarta.
Penulis: Kak Seto Mulyadi dan Kak Lutfi Trizki.

T10H Level 8 Mendidik Anak Cerdas Finansial Day 3

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Hari ini sebelum ayah berangkat ke kantor, Fikriy mengingatkan ummi kalau belum menerima uang untuk ditabung. Wah, dalam hati ummi berujar Alhamdulillah Fikriy bisa inget duluan kalau kegiatan menabung hari ini belum disiapkan.

Jadi sebelum ayah berangkat ke kantor, tak lupa ummi libatkan peran ayah untuk mendukung kegiatan menabung dengan memberikan uang kepada Fikriy. Mandi juga belum selesai tapi Fikriy bersemangat mengingatkan ayah untuk menyisipkan uang kepadanya.

Oiya, sambil menyisipkan pesan ketauhidan, ummi usahakan tidak lupa mengingatkan agar Fikriy tidak lupa mengucapkan basmallah sebelum menabung.
Kemudian Fikriy bertanya kembali kenapa harus membaca bismillah ummi kalau menabung ?
Di usia Fikriy sekarang, ummi perhatikan banyak sekali kesempatan dialog tauhid yang bisa ditanam kepada anak. Jadi sebisa mungkin ummi kembalikan lagi agar semua tindakan yang baik dilakukan, agar dihitung menjadi amal shalih harus diawali dengan niat yang baik dan karena Allah ta'ala.
Dengan respon yang seadanya pada usia Fikriy, ia menjawab dengan mengangguk dan mengucapkan basmalah sebelum memasukkan lembaran kertas ke dalam tabungan.

9/16/17

T10H Level 8 Mendidik Anak Cerdas Finansial Day 2

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Hari Ahad ini ummi kuliah rutin bulanan di Parenting Nabawiyah, dan seperti biasa anak-anak sudah dikondisikan dari malam sebelumnya untuk mengantarkan ummi pagi-pagi ke lokasi belajar bersama ayah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan kami sempatkan mengobrol apa saja, sekaligus ummi pesan agar nanti selama di rumah jangan lupa makan dan bermain bersama ayah.
Nah, sekaligus ummi tanyakan kepada Fikriy bagaimana kegiatan menabung nya, apakah sudah berdoa kepada Allah meminta apa yang diinginkan. Sambil malu-malu dijawab kalau hari ini belum ada uangnya yang mau ditabung, mi.. hihihi, lucu kalau melihat langsung ekspresi wajahnya. Ayah juga menanyakan Fikriy menabung mau dibelikan apa nanti, dan dijawab mau dibelikan mainan (jawaban yang masih konsisten sejak awal).
Sekitar 45 menit perjalanan hingga akhirnya ummi sampai di lokasi, dan sebelum turun dari kendaraan tak lupa ummi selipkan selembar uang untuk Fikriy, dan berpesan jangan lupa ditabung ya nanti setelah sampai di rumah.
Ketika siang menjemput, tak lupa ummi tanyakan kembali apakah uangnya sudah ditabung. Alhamdulillah Fikriy melaksanakan amanah yang ummi berikan.

Semangat terus, Fikriy!

9/15/17

T10H Level 8 Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Day 1

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada kegiatan apa hari :
Malam hari menjelang tidur, sambil menunggu kepulangan ayah dari kantor, ummi membacakan satu buku tentang Zaid bin Tsabit untuk Fikriy dan Dede. Kisah Zaid adalah salah satu kisah inspirasi sahabat nabi yang memiliki kecerdasan dan berperan penting dalam pengumpulan mushaf al Qur'an sehingga bisa kita baca sebagai lembaran utuh yang tidak terpisahkan seperti sekarang ini. Sesudahnya, ummi mengajak fikriy untuk ngobrol santai tentang proyek di kelas Bunda Sayang tentang mengajarkan anak mengenai harta. Topik mengajarkan tentang harta kepada anak, adalah salah satu topik yang bermuara pada ketauhidan karena dengannyalah orang tua bisa mengenalkan Sang Pemberi Rezeki kepada manusia, dan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sajalah tempat meminta rezeki yang berkah.
Ummi kemudian bertanya kepada fikriy sedang menginginkan apa saat ini? Karena usianya yang baru 4th maka jawabannya sudah dapat ditebak tidak jauh dari mainan hihi.

Fikriy : "mas pengen kereta api besi ummi, kan mas belum punya yang bagus..", ujarnya

Ummi : "nah, kalau begitu, mas mintanya sama siapa donk?"

Fikriy : "sama Allah lah, kan ummi ga punya uang", jawabnya polos. Sambil ummi ketawa karena betapa jujurnya jawaban seorang anak.

Ummi : "Nah bener mas, kalau mau meminta sesuatu, hanya kepada Allah lah memohon, doain supaya ayah dan ummi agar diberikan rezeki yaa", kata ummi.

Besok inshaallah kami akan mulai berkenalan dengan proses menabung. Sebelumnya fikriy sudah cukup akrab dengan kenclengan jadi mudah-mudahan ketika besok mulai menabung, akan lebih semangat.

Semangat, mas Fikriy!

9/12/17

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

*Tantangan 10 Hari*
*Level #8*
Periode 14 - 30 September 2017

*MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI*

Memahamkan anak-anak bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, itu dimulai dari ibu. Termasuk pengelolaan uang, membaginya kepada yang berhak, membedakan keinginan serta kebutuhan juga dimulai dari ibu. 

Yuk bertumbuh bersama anak dengan menjadi teladan, sehingga anak ikut belajar mengelola uang dan bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang didapatkan di dalam kehidupan ini.

🎎Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak:
👶🏻Anak usia dini (<7th) 
buatlah proyek pengenalan menabung, proses menabung dan membelanjakan tabungan. Perkuat bahwa semua rejeki berasal dari Allah. Ceritakan pengalaman bunda dalam mengenalkan konsep rejeki pada si kecil melalui tulisan dan atau foto.

👦🏻Usia pra baligh (7-14th)
Jika anak mulai mengerti uang/ memasuki usia SD ajarkan anak untuk mulai memilah antara keinginan dan kebutuhan. Buatlah tabel keuangan sederhana dan dampingi anak saat melakukan pencatatan. Ceritakan pengalaman bunda dan ananda dalam pengelolaan keuangan ananda. Bunda juga bisa membuat proyek sederhana untuk memperkuat konsep kepemilikan dan pengelolaan uang bagi ananda. 

👱🏻Usia baligh (>14 tahun)
Jika anak sudah baligh atau sudah mulai mempunyai mimpi ajak anak menuliskan vision board dan mewujudkan mimpinya dengan membuat finansial planning. Dampingi dan beri semangat dalam menjalankan strategi dalam mendapatkan dan mengelola keuangan.

Bunda juga dapat menyertakan ananda dalam pengelolaan keuangan keluarga sebagai bagian pembelajaran bersama.

👩🏻‍💻Bagi yang sudah menikah belum memiliki anak serta bagi yang belum menikah
Ceritakan pengalaman anda dalam mengelola keuangan. Catatlah proses belajar membuat pencatatan keuangan dan membaginya ke dalam kantong belanja, infaq, dan tabungan. Identifikasi catatan keuangan Anda apakah sudah baik, perlu review ulang ataupun ada bocor halus dalam pengelolaannya.

💻 Bagi anda yang menggunakan blog, gunakan label:
Ibu Profesional 
Bunda Sayang
Level 8
Tantangan 10 Hari

🖥 Gunakan hashtag berikut saat pengumpulan tugas:
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Setorkan tugas anda dengan menggunakan link berikut:

http://bit.ly/BunSayLevel8Dpk

*Latih - percayai-jalani-supervisi-latih lagi*